Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

WTO: Perang Dagang Berisiko Membuat Lapangan Kerja Merosot

Kompas.com - 02/10/2019, 09:08 WIB
Mutia Fauzia,
Yoga Sukmana

Tim Redaksi

Sumber BBC

JAKARTA, KOMPAS.com - Organisasi Perdagagan Dunia atau WTO mengungkapkan bahwa perang dagang berisiko membuat lapangan kerja merosot.

Menurut Direktur Jenderal WTO Roberto Azevedo, para pelaku bisnis lebih memilih untuk menunda melakukan investasi dan penambahan pekerja karena ketidakpastian akibat perang dagang

"Memburuknya outlook perdagangan adalah hal yang mengecewakan tetapi bukan berarti tidak terduga. Menyelesaikan perselisihan perdagangan akan memungkinkan negara-negara WTO untuk mengurangi tarif-tarif itu," ujarnya seperti dikutip dari BBC, Jakarta, Rabu (2/10/2019).

Baca juga: China Mau Impor Lebih Banyak Produk AS, Sinyal Positif Perang Dagang?

Selain lapangan kerja, WTO juga menyebut perang dagang potensial membuat pertumbuhan ekonomi kian melambat dan juga berisiko memperburuk kualitas hidup.

WTO sendiri telah memangkas proyeksi pertumbuhan volume perdagangan lebih dari setengahnya dari 2,6 persen jadi 1,2 persen pada 2019. Selain itu, WTO juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia dari 2,6 persen jadi hanya 2,3 persen.

Seperti dikutip dari BBC, WTO pun memberi peringatan mengenai perlambatan volume perdagangan dunia yang bisa memberikan dampak pada kualitas hidup dan lapangan pekerjaan.

Beberapa hal yang disoroti WTO menjadi penyebab pemangkasan proyeksi pertumbuhan volume perdagangan dan perekonomian dunia adalah melambatnya pertumbuhan ekonomi di negara-negara dengan perekonomian besar, kemudian perang dagang, juga ketidakpastian Brexit (keluarnya Inggris dari Uni Eropa).

Baca juga: ADB: Perang Dagang Picu Ekonomi Asia Tumbuh Tipis Tahun 2020

Pada pertengahan tahun 2019, rata-rata ekspor dan impor dunia (world merchandise trade) hanya tumbuh 0,6 persen, turun signifikan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

WTO mengatakan, tingginya level ketidakpastian membuat ekspansi volume perdagangan bisa melambat hingga 0,5 persen di akhir tahun. Pertumbuhan volume perdagangan yang hanya akan 1,2 persen adalah yang terendah dalam satu dekade terakhir.

Revisi oleh WTO dilakukan seiring dengan ketidakpastian Brexit mulai memengaruhi perekonomian Eropa. Selain itu, beberapa pekan ke depan Amerika Serikat dan China juga dijadwalkan akan bertemu untuk melanjutkan proses negosiasi perang dagang.

Sebagai informasi, kedua negara tersebut telah menaikkan tarif impor hingga miliaran dollar AS. AS pun dijadwalkan akan kembali menerapkan tarif impor untuk beberapa produk asal China bulan ini.

Baca juga: Babak Baru Perang Dagang, China Adukan AS ke WTO

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Bulog Siap Jadi Pembeli Gabah dari Sawah Hasil Teknologi Padi China

Bulog Siap Jadi Pembeli Gabah dari Sawah Hasil Teknologi Padi China

Whats New
Bulog Baru Serap 633.000 Ton Gabah dari Petani, Dirut: Periode Panennya Pendek

Bulog Baru Serap 633.000 Ton Gabah dari Petani, Dirut: Periode Panennya Pendek

Whats New
Dari Perayaan HUT hingga Bagi-bagi THR, Intip Kemeriahan Agenda PUBG Mobile Sepanjang Ramadhan

Dari Perayaan HUT hingga Bagi-bagi THR, Intip Kemeriahan Agenda PUBG Mobile Sepanjang Ramadhan

Rilis
INACA: Iuran Pariwisata Tambah Beban Penumpang dan Maskapai

INACA: Iuran Pariwisata Tambah Beban Penumpang dan Maskapai

Whats New
Bank DKI Sumbang Dividen Rp 326,44 Miliar ke Pemprov DKI Jakarta

Bank DKI Sumbang Dividen Rp 326,44 Miliar ke Pemprov DKI Jakarta

Whats New
OASA Bangun Pabrik Biomasa di Blora

OASA Bangun Pabrik Biomasa di Blora

Rilis
Pengumpulan Data Tersendat, BTN Belum Ambil Keputusan Akuisisi Bank Muamalat

Pengumpulan Data Tersendat, BTN Belum Ambil Keputusan Akuisisi Bank Muamalat

Whats New
Cara Hapus Daftar Transfer di Aplikasi myBCA

Cara Hapus Daftar Transfer di Aplikasi myBCA

Work Smart
INA Digital Bakal Diluncurkan, Urus KTP hingga Bayar BPJS Jadi Lebih Mudah

INA Digital Bakal Diluncurkan, Urus KTP hingga Bayar BPJS Jadi Lebih Mudah

Whats New
Suku Bunga Acuan BI Naik, Anak Buah Sri Mulyani: Memang Kondisi Global Harus Diantisipasi

Suku Bunga Acuan BI Naik, Anak Buah Sri Mulyani: Memang Kondisi Global Harus Diantisipasi

Whats New
Ekonom: Kenaikan BI Rate Bakal 'Jangkar' Inflasi di Tengah Pelemahan Rupiah

Ekonom: Kenaikan BI Rate Bakal "Jangkar" Inflasi di Tengah Pelemahan Rupiah

Whats New
Menpan-RB: ASN yang Pindah ke IKN Bakal Diseleksi Ketat

Menpan-RB: ASN yang Pindah ke IKN Bakal Diseleksi Ketat

Whats New
Lebaran 2024, KAI Sebut 'Suite Class Compartment' dan 'Luxury'  Laris Manis

Lebaran 2024, KAI Sebut "Suite Class Compartment" dan "Luxury" Laris Manis

Whats New
Rupiah Melemah Sentuh Rp 16.200, Mendag: Cadangan Divisa RI Kuat, Tidak Perlu Khawatir

Rupiah Melemah Sentuh Rp 16.200, Mendag: Cadangan Divisa RI Kuat, Tidak Perlu Khawatir

Whats New
Rasio Utang Pemerintahan Prabowo Ditarget Naik hingga 40 Persen, Kemenkeu: Kita Enggak Ada Masalah...

Rasio Utang Pemerintahan Prabowo Ditarget Naik hingga 40 Persen, Kemenkeu: Kita Enggak Ada Masalah...

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com