Salin Artikel

Kisah Pengusaha Konveksi, Bermodal Rp 6 Juta, Kini Beromzet Rp 800 Juta Per Bulan

Awalnya, Lya menekuni usaha kuliner. Namun dia merasa usaha kuliner tidak cocok dengannya karena memakan banyak tenaga dan mudah basi. Lya akhirnya berputar haluan menjual baju-baju hijab setelah diajak kakaknya.

Lya mulai menjual baju-baju hijabnya di tempat arisan. Kemudian usaha itu terus berkembang hingga memiliki toko dan konveksi sendiri. Sayangnya, toko itu bangkrut karena penumpukam stok dari konveksi sementara pembeli tidak sesuai harapan.

Belajar dari kebangkrutan

Dari kebangkrutan itu, Lya belajar banyak hal. Akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkan usaha konvensionalnya dan beralih ke sistem online. Dia memberlakukan sistem pre-order sehingga tidak ada stock yang terbuang. Lya seorang pekerja keras. Biasanya dia mampu bekerja dari jam 7 pagi hingga jam 10 malam.

Namun, saat itu Lya belum memiliki brand sendiri. Dia hanya maklum, brand-brand terkenal yang nantinya dikirim ke Asia dan Eropa. Omzetnya pun hanya Rp 60 juta per bulan.

"Produk yang saya buat nanti di re-branding di Malaysia. Kemudian di ekspor ke Asia dan Eropa termasuk Korea," kata Lya Nilandewi kepada Kompas.com, Kamis (11/4/2019).

Pada Mei 2017, Lya kemudian mengikuti ajang Citi Microentrepreneurship Award (CMA) dan keluar menjadi juara dalam kategori Best Women Microentreprenurship.

Ajang ini membawa perubahan bagi bisnis yang digelutinya. Berkat arahan mentor, Lya lebih mengerti pemasaran dan perekrutan tenaga kerja. Dia pun disuruh membuka brand sendiri agar keuntungannya semakin bertambah.

"Dari situ perubahannya banyak banget. Tenaga kerja saya lebih banyak dan omzet penjualan pun lebih meningkat," ucap Lya.

Bangun brand

Bulan November 2017, Lya mulai membuka brand sendiri dengan modal Rp 6 juta.

"Cuma Rp 6 juta, ha ha ha. Saya inget banget waktu itu beli kain pake kresek untuk bikin dua model saja. Kemudian saya promosikan di instagram. Saya pun selanjutnya cari endorse gratisan," ungkap Lya.

Setahun berselang, usahanya laris manis. Dia juga terus membangun relasi dengan agen-agen. Saat ini, sudah terdapat 95 agen yang berbisnis bersamanya.

Produknya telah berhasil menembus pasar Malaysia dan Jepang. Baju muslim dan khimar yang dibandrol dengan harga Rp 500.000 sampai Rp 600.000, telah mendapat pesanan hingga 1.000/model per hari. Lya mengaku kewalahan dengan pesanan yang selalu membludak setiap hari.

Pegawainya Pun bertambah banyak. Awalnya dia hanya memiliki 10 karyawan dengan 3 orang dibagian penyelesaian (finishing). Saat ini, karyawannya telah mencapai 50 orang.

Dalam setahun sejak membuka brand sendiri, omzetnya telah mencapai ratusan juta rupiah per bulan, yaitu Rp 800 juta.

Menurut Lya, omzet tersebut mampu dia raih karena dia orang pekerja keras, membangun relasi, terus menghargai produktivitas para karyawan, dan mempelajari kebutuhan pasar.

"Saya pekerja keras. Kalau belum capai target terus saya kerjakan. Selain itu saya juga terus membangun relasi dan menghargai produktivitas karyawan. Saya suka adakan gathering agar karyawan semangat. Jangan lupa, selalu ikut keinginan pasar sekarang," papar Lya.

https://money.kompas.com/read/2019/04/13/124126926/kisah-pengusaha-konveksi-bermodal-rp-6-juta-kini-beromzet-rp-800-juta-per

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

BCA Siapkan Rp 400 Miliar untuk Suntik Modal ke Startup

BCA Siapkan Rp 400 Miliar untuk Suntik Modal ke Startup

Whats New
Cara Bayar Pajak Kendaraan Bermotor di Alfamart

Cara Bayar Pajak Kendaraan Bermotor di Alfamart

Whats New
Kejar Target Investasi Rp 1.200 Triliun, Bahlil: Memang Tidak Mudah...

Kejar Target Investasi Rp 1.200 Triliun, Bahlil: Memang Tidak Mudah...

Whats New
Bank Indonesia dan The People’s Bank Of China Sepakat Perbarui Perjanjian Swap Bilateral

Bank Indonesia dan The People’s Bank Of China Sepakat Perbarui Perjanjian Swap Bilateral

Whats New
Pembangunan Ibu Kota Nusantara Terbagi atas 3 Wilayah

Pembangunan Ibu Kota Nusantara Terbagi atas 3 Wilayah

Whats New
Penjelasan Bos Grup Lippo Seputar Aksi XL Axiata Akuisisi Link Net

Penjelasan Bos Grup Lippo Seputar Aksi XL Axiata Akuisisi Link Net

Rilis
Di Hadapan Tony Blair, Jokowi Tegaskan Tak Mau Ekspor Bahan Mentah

Di Hadapan Tony Blair, Jokowi Tegaskan Tak Mau Ekspor Bahan Mentah

Whats New
Bangun Sistem Transportasi IKN Butuh Rp 582,6 Miliar di 2022, Menhub Undang Swasta Berpartisipasi

Bangun Sistem Transportasi IKN Butuh Rp 582,6 Miliar di 2022, Menhub Undang Swasta Berpartisipasi

Whats New
Tumbuh 66,8 Persen, Laba Bersih Bank Mandiri Capai Rp 28 Triliun pada 2021

Tumbuh 66,8 Persen, Laba Bersih Bank Mandiri Capai Rp 28 Triliun pada 2021

Whats New
Pengembangan Kawasan Industri Terus Digenjot

Pengembangan Kawasan Industri Terus Digenjot

Whats New
Mentan RI dan Mentan Australia Bahas 3 Hal Penting, dari Ekspor Beras hingga Impor Daging

Mentan RI dan Mentan Australia Bahas 3 Hal Penting, dari Ekspor Beras hingga Impor Daging

Whats New
Laba BCA Melampaui Perkiraan, Tumbuh 15,8 Persen di 2021

Laba BCA Melampaui Perkiraan, Tumbuh 15,8 Persen di 2021

Whats New
Milenial dan Gen Z Dinilai Perlu Menerapkan Gaya Hidup Minimalis

Milenial dan Gen Z Dinilai Perlu Menerapkan Gaya Hidup Minimalis

Whats New
Mulai 1 Februari 2022, Harga Minyak Goreng Curah Turun Jadi Rp 11.500 Per Liter

Mulai 1 Februari 2022, Harga Minyak Goreng Curah Turun Jadi Rp 11.500 Per Liter

Whats New
Pemerintah Tetapkan Minyak Goreng Merek Paling Mahal Rp 14.000 Seliter

Pemerintah Tetapkan Minyak Goreng Merek Paling Mahal Rp 14.000 Seliter

Whats New
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.