Salin Artikel

Saham Produsen Senjata Asia Melonjak Pasca Serangan Rudal Iran

Dilansir dari CNBC, sejumlah salam produsen peralatan militer naik pesat pada perdagangan Rabu (8/1/2020).

Sebagian perusahaan, bahkan kenaikannya melebihi 20 persen pasca serangan peluru kendali (rudal) Iran ke pangkalan militer AS dan sekutunya di Irak.

Pabrikan kapal perang dan radar asal Korea Selatan, Victek, sahamnya langsung melonjak hingga 26 persen beberapa saat setelah pembukaan perdagangan di pagi hari.

Perusahaan lainnya, Hanil Forging Industrial, melompat lebih dari 21 persen. Perusahaan Korsel lain, Speco, juga mengalami kenaikan saham 18 persen.

Setali tiga, di Jepang, perusahaan pembuat ranjau darat Ishikawa Seisakusho, sahamnya naik 24 persen. Kemudian Tokyo Keiki yang memiliki pengalaman membuat sistem navigasi untuk keperluan militer sahamnya melonjak 13 persen.

Perusahaan Jepang lainnya yang menikmati kenaikan saham tinggi yakni Howa Machinery. Pembuat senjata riffle dan mortar ini mengalami lonjakan saham hingga 16 persen.

Kenaikan saham juga dialami pabrikan senjata asal China. Beberapa perusahaan sahamnya naik dalam batas maksimum harian 10 persen. Mereka adalah Anhui Great Wall Military Industry, Linzhou Heavy Machinery Group, Tianjin Motor Dies, dan Aerospace CH UAV.

Pergerakan saham di luar kebiasaan ini terjadi setelah pemberitaan penyerangan Iran ke dua fasilitas militer AS di Al-Assad dan Irbil, Irak.

"Kami tidak mencari perang, tapi kami akan mempertahankan diri melawai setiap agresi," ucap Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif.

Operasi itu dikatakan merupakan pembalasan atas pembunuhan Jenderal Qasem Soleimani oleh AS pada Jumat (3/1/2020) pekan lalu. Setidaknya, sembilan rudal yang dinamai 'Martir Soleimani' menghantam markas pasukan AS di Ain al-Assad, Barat Irak.

Saat saham-saham perusahaan pembuat senjata naik, sebaliknya di sisi lain tensi yang panas di Timur Tengah membuat pergerakan indeks saham bursa global melemah.

Memanasnya hubungan AS dan Iran juga membuat harga minyak mentah dan emas mengalami kenaikan tajam.

Sebagai informasi, 100 produsen senjata dan kontraktor militer terbesar di dunia mengalami peningkatan penjualan global tahun 2018 lalu.

Total penjualan senjata mencapai 420 miliar dolar AS, atau naik sekitar 4,6% dibandingkan tahun 2017. Studi terbaru, angkanya bahkan melonjak 47 persen dibandingkan tahun 2002, tepat setahun sebelum AS menginvasi Irak, tetangga Iran.

SIPRI juga melaporkan bahwa pengeluaran belanja persenjataan global mencapai titik tertinggi tahun 2018 sejak berakhirnya Perang Dingin. Peningkatan itu dipicu oleh langkah AS dan China, dua kekuatan ekonomi terbesar di dunia, yang terus meningkatkan kekuatan militernya.

Anggaran militer AS tahun lalu naik 4,6 persen mencapai 649 miliar dollar AS. Anggaran ini sama dengan 36 persen total anggaran militer global. Adapun anggaran belanja pertahanan China naik 5 persen, mencapai 250 miliar dollar AS.

https://money.kompas.com/read/2020/01/08/173842126/saham-produsen-senjata-asia-melonjak-pasca-serangan-rudal-iran

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.