Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Konsumsi Dalam Negeri Anjlok, Pertamina Ingin Ekspor Avtur dan Solar

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Pertamina (Persero) membuka peluang untuk melakukan ekspor avtur dan solar.

Hal ini diakibatkan berlebihnya pasokan kedua jenis BBM tersebut di tangki perseroan.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan, saat ini tengah terjadi kelebihan pasokan avtur dan solar Pertamina, disebabkan melemahnya konsumsi kedua jenis BBM tersebut.

Banyak ditutupnya rute penerbangan domestik maupun internasional, mengakibatkan konsumsi rata-rata harian avtur pada Maret 2020 mengalami penurunan sebesar 60 persen.

"Dan BBM industri penurunannya juga sangat tajam karena sudah banyak tak beroperasi," ujar Nicke dalam rapat panitia kerja dengan Komisi VI DPR RI, Kamis (16/4/2020).

Anjloknya konsumsi avtur, mengakibatkan terjadinya kelebihan stok di tangki Pertamina. Tercatat, stok avtur diproyeksi masih cukup untuk 119 hari.

"Jadi kami melihat peluang ekspor walaupun kami tahu harga memang sedang tidak bagus," kata dia.

Selain untuk mengurangi stok di tangki, langkah tersebut juga dilakukan untuk menambah pendapatan perseroan, yang pada tahun ini diproyeksi merosot.

"Jadi kami ada tambahan revenue dan menurunkan idle money dalam bentuk stok," kata Nicke.

Lebih lanjut, Nicke juga meminta kepada pemerintah untuk mendorong perusahaan membeli solar dari Pertamina.

"Sehingga perusahaan yang impor, kami usulkan ke (Kementerian) ESDM untuk tawarkan beli dari Pertamina dulu," ucap Nicke.

Sebagai informasi, Pertamina sudah menyiapkan dua skenario penurunan pendapatan, yakni skenario berat dan skenario tidak berat.


Untuk skenario berat, dengan asumsi harga minyak mentah dunia sebesar 38 dollar AS per barrel dan kurs rupiah terhadap dollar AS sebesar Rp 17.500, maka pendapatan Pertamina diproyeksi turun 38 persen dari RKAP 2020 dan turun 30 persen dari realisasi pendapatan tahun 2019.

Sementara untuk skenario sangat berat, dengan asumsi harga minyak mentah dunia sebesar 31 dollar AS per barrel dan kurs rupiah Rp 20.000, maka pendapatan perseroan diproyeksi turun 45 persen dari RKAP dan turun 39 persen dari realisasi pendapatan tahun 2019.

https://money.kompas.com/read/2020/04/16/190500926/konsumsi-dalam-negeri-anjlok-pertamina-ingin-ekspor-avtur-dan-solar

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke