Salin Artikel

Cara Mengelola Keuangan dengan Aman di Tengah Risiko Resesi

JAKARTA, KOMPAS.com - Pandemi Covid-19 telah melemahkan perekonomian nasional, yang kini bahkan membuat Indonesia berada di ambang resesi.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 5,32 persen pada kuartal II-2020. Jika kinerja negatif ini terus berlanjut ke kuartal III-2020, maka Indonesia akan resmi masuk jurang resesi.

Oleh sebab itu, untuk bisa bertahan menghadapi pelemahan ekonomi di tengah resesi, masyarakat perlu mengelola keuangan dengan bijak. Sebab, salah satu dampak dari resesi adalah tingginya inflasi.

Perencana keuangan dari Finansia Consulting Eko Endarto menjelaskan, ketika terjadi resesi berarti kegiatan ekonomi tidak banyak bergerak sebagaimana mestinya.

Pertumbuhan investasi rendah dan kapasitas pabrik memproduksi barang semakin turun, sehingga jumlah berang yang beredar pun berkurang.

"Maka dampak jangka pendeknya (dari resesi) harga-harga semakin mahal atau inflasi tinggi, karena kan pabrik enggak jalan. (Pasokan) barang sekarang mungkin masih ada, tapi enggak tahu 3-5 bulan ke depan," ujar Eko kepada Kompas.com, Selasa (11/8/2020).

Oleh sebab itu, ada beberapa hal yang perlu disikapi masyarakat untuk bisa menghadapi masa krisis ekonomi. Menurutnya, hal yang paling utama adalah memastikan memiliki cadangan dana yang cukup untuk memenuhi kebutuhan kedepannya.

"Supaya enggak harus berutang ketika butuh sesuatu," kata dia.

Memiliki dana yang cukup, salah satunya dapat dilakukan dengan mengatur kembali pengeluaran. Pastikan pengeluaran hanya pada kebutuhan yang benar-benar penting dan diperlukan.

Lantaran, pengeluaran untuk kebutuhan pokok saja pasti akan meningkat ketika harga barang-barang mulai naik. Jadi penting untuk bisa mengatur keuangan bulanan dengan baik.

"Kencangkan ikat pinggang, karena barang-barang akan mahal nantinya. Jadi gaya hidup hura-hura atau konsumsi tidak perlu, itu harus dikurangi supaya dana yang dimiliki tidak cepat habis," ungkapnya.


Di sisi lain, perlu juga untuk mengurangi porsi utang. Menurut Eko, utang yang saat ini bisa dibayar lunas maka lebih baik untuk segera dilunasi, agar tidak terlalu dibayangi kewajiban membayar utang saat ekonomi sedang terpuruk.

Seperti pada Kredit Tanpa Agunan (KTA), jika bisa melunasi pinjaman sebelum jatuh tempo akan lebih baik. Bisa juga dengan segera melunasi tagihan kartu kredit.

Tentu setelah melunasi kewajiban-kewajiban tersebut kedepannya perlu menunda untuk melakukan pinjaman, khususnya yang bersifat konsumtif.

"Batasi gunakan kartu kredit, KTA, dan pinjaman online. Tunda lakukan pinjaman, karena kita enggak tahu kedepannya seperti apa, bisa jadi kita kehilangan pekerjaan," sarannya.

Eko menjelaskan, pada kondisi ekonomi yang normal porsi untuk utang maksimal 30 persen dari pendapatan bulanan. Kemudian 10 persen untuk tabungan atau investasi, 10 persen untuk asuransi, dan selebihnya untuk konsumsi.

Namun, dengan kondisi ekonomi yang melemah, porsi utang dan konsumsi perlu ditekan dan dialihkan ke tabungan.

"Mau enggak mau yang harus ditambah itu tabungan. Jadi berusaha perkecil konsumsi dan utang untuk nambah ke tabungan dulu. Karena kita enggak tahu akan seberapa lama krisis terjadi," pungkas Eko.

https://money.kompas.com/read/2020/08/11/114400826/cara-mengelola-keuangan-dengan-aman-di-tengah-risiko-resesi-

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.