Salin Artikel

6 Cara Berhemat yang Salah Kaprah dan Wajib Dihindari agar Tak Tekor

JAKARTA, KOMPAS.com - Menerapkan pola hidup hemat memang sangat bagus. Apalagi saat ekonomi di ambang resesi seperti sekarang ini.

Berhemat dapat menyelamatkanmu dari krisis keuangan.

Hemat tidak sama dengan pelit. Hemat berarti kemampuan orang dalam menggunakan uangnya untuk kebutuhan yang lebih penting.

Mampu meredam hasrat belanja berlebihan, dan mengesampingkan keinginan atau kebutuhan yang masih bisa ditunda.

Dengan berhemat, kamu bisa mengumpulkan lebih banyak uang untuk alokasi keperluan lain, seperti tabungan, investasi, dana darurat, bahkan melunasi utang, membeli rumah, atau biaya pendidikan anak.

Namun faktanya, penghematan justru bisa tidak tepat sasaran. Alih-alih menyimpan lebih banyak uang, tetapi pada akhirnya malah menimbulkan pengeluaran lebih besar, baik saat ini maupun di masa mendatang.

Berikut ini beberapa penghematan yang salah kaprah dan wajib dihindari kalau tidak mau merugikan diri sendiri, seperti dikutip dari Cermati.com, Minggu (18/10/2020).

1. Membeli asuransi kesehatan dengan premi murah

Sebagian besar orang masih berpikir soal harga murah, termasuk dalam urusan membeli asuransi kesehatan. Pertimbangannya selalu kepada premi.

Dengan membayar premi lebih murah, kamu bisa menyimpan lebih banyak uang setiap bulan. Padahal asuransi kesehatan berguna untuk menanggung risiko kesehatan sampai usia lanjut.

Kamu lebih memilih membeli asuransi dengan premi murah, manfaat minimal untuk dirimu sendiri karena alasan berhemat dan masih muda.

Tetapi mungkin saja sebenarnya kamu butuh asuransi dengan premi lebih besar, namun manfaatnya maksimal untuk kamu dan keluarga.

Suatu saat, amit-amit risiko kesehatan menimpa keluargamu, maka kamu akan menyesal dan mengeluarkan banyak uang lantaran keluarga tidak ditanggung asuransi.

2. Membeli barang karena harga murah bukan kualitas

Biasanya ada harga, ada rupa. Artinya kualitas barang berbanding lurus dengan harga.

Tetapi kebanyakan orang mengabaikan kualitas dan lebih tergiur membeli karena harga yang murah.
Pertimbangannya, dengan membeli 1 barang mahal, kamu bisa membeli 2 barang harga murah.

Contoh, baju kualitas bagus dibanderol Rp 100.000 per buah ,tetapi baju model sama dengan kualitas biasa dihargai Rp 30.000 per buah. Dengan uang Rp 100.000, bisa dapat 3 baju kan.


Tapi tahukah kamu, membeli barang murah bisa saja cepat rusak karena kualitasnya standar, bahkan terbilang jelek. Kalau barang mahal berkualitas bagus, bisa awet 5 tahun, kenapa harus membeli yang murah yang cuma bertahan 3 bulan saja.

Niat hati mau berhemat, malah terpaksa membeli barang baru untuk menggantikan barang lama yang sudah rusak. Pengeluaran bertambah, dan mungkin saja sifatnya mendadak dan mendesak.

Jika memang mau berhemat, kamu dapat membeli barang seken atau barang bekas branded. Biasanya harganya jauh lebih murah, tetapi kualitasnya oke.

3. Gelap mata karena diskon

Meskipun sedang berhemat, sekadar cuci mata di mal atau lihat-lihat situs belanja online boleh-boleh saja. Yang salah adalah kamu tergoda diskon, cashback, atau promo lain yang justru membuat pengeluaran membengkak walaupun barang yang dibeli adalah yang kamu butuhkan.

Misalnya kamu butuh baju untuk pergi ke acara-acara formal. Kebetulan ada diskon di sebuah toko, lalu kamu membelinya.

Namun ada diskon lagi untuk baju lain. Awalnya hanya butuh satu, karena ada diskon, jadilah gelap mata membeli baju kedua, dan seterusnya.

Walhasil tidak jadi berhemat, malahan boros lantaran terlalu banyak membeli barang yang seharusnya satu saja cukup.

4. Mengabaikan perawatan rutin

Beberapa barang perlu perawatan rutin agar tetap berfungsi dengan baik. Contohnya motor, mobil, peralatan elektronik, kesehatan gigi, dan sebagainya.

Akan tetapi, karena alasan berhemat, kamu mengabaikannya. Tentu saja barang-barang tersebut berpotensi mengalami kerusakan.

Kalau sudah rusak, terpaksa kamu harus mengeluarkan bujet lebih banyak untuk memperbaikinya.

Misalnya saja motor, karena tidak ganti oli rutin sebulan sekali atau servis 3 bulan sekali, motor jadi turun mesin. Dari yang seharusnya cuma keluar uang puluhan ribu untuk ganti oli, karena abai, jadi menghabiskan ratusan ribu sampai jutaan rupiah untuk perbaikan.


5. Sok tahu dengan melakukan semua hal sendiri

Merenovasi beberapa bagian rumah atau menata ulang taman, bahkan memperbaiki peralatan elektronik yang rusak, nampaknya mudah. Ya, mudah bagi yang memiliki keahlian di bidang tersebut.

Namun alih-alih mau berhemat, dan mengisi waktu luang dengan melakukan semuanya sendiri, padahal tidak punya keterampilan dan keahlian alias modal nekat saja, barang kamu berisiko besar mengalami kerusakan yang lebih parah.

Lebih baik keluar uang sedikit untuk menyewa jasa orang lain yang berkompeten, ketimbang merogoh kocek lebih besar untuk memperbaiki kerusakan yang kamu sebabkan sendiri.

6. Anti kartu kredit

Tak sedikit orang yang enggan memiliki kartu kredit karena alasan ingin berhemat, bahkan menghindari utang. Padahal kalau kamu menggunakannya secara bijak, membayar tagihan tepat waktu, tidak membayar minimum payment, kartu kredit dapat menguntungkan keuanganmu.

Kamu dapat menikmati banyak penawaran promo, seperti diskon, cashback, reward point, hadiah langsung yang sangat bermanfaat dalam melakukan penghematan.

Berhemat dengan Cara Bijak

Jangan demi sebuah penghematan, kamu terlalu ketat memangkas berbagai pengeluaran di dalam rencana keuangan. Sebelum mencoretnya, pastikan dulu bahwa pengeluaran tersebut tidak berdampak atau berpengaruh besar bila ditidakan.

Artikel ini merupakan kerja sama Kompas.com dan Cermati.com. Isi sepenuhnya merupakan tanggung jawab Cermati.com.

https://money.kompas.com/read/2020/10/18/090300626/6-cara-berhemat-yang-salah-kaprah-dan-wajib-dihindari-agar-tak-tekor

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Lindungi Data Penggunanya, Aplikasi Kesehatan Ini Raih ISO 27001

Lindungi Data Penggunanya, Aplikasi Kesehatan Ini Raih ISO 27001

Rilis
Sudah Adakah Minyak Goreng Rp 14.000 Per Liter di Pasar Tradisional? Pedagang: Belum Ada Nih!

Sudah Adakah Minyak Goreng Rp 14.000 Per Liter di Pasar Tradisional? Pedagang: Belum Ada Nih!

Whats New
Kata Direktur DJKN soal Anak Buahnya yang Palsukan Surat Aset Jaminan BLBI

Kata Direktur DJKN soal Anak Buahnya yang Palsukan Surat Aset Jaminan BLBI

Whats New
Kolaborasi Bank Aladin Syariah dan Google Percepat Inklusi Keuangan di Indonesia

Kolaborasi Bank Aladin Syariah dan Google Percepat Inklusi Keuangan di Indonesia

Whats New
IHSG Ditutup Menguat ke Level 6.600, AMRT, INDY, dan EMTK Pimpin Kenaikan

IHSG Ditutup Menguat ke Level 6.600, AMRT, INDY, dan EMTK Pimpin Kenaikan

Whats New
PLN Punya Utang Rp 430 Triliun

PLN Punya Utang Rp 430 Triliun

Whats New
IKN Pindah, Aset Negara di Jakarta Senilai Rp 300 Triliun akan Disewakan

IKN Pindah, Aset Negara di Jakarta Senilai Rp 300 Triliun akan Disewakan

Whats New
Lagi Jadi Tren, Ini 6 Keuntungan Memakai Rekening Online

Lagi Jadi Tren, Ini 6 Keuntungan Memakai Rekening Online

Spend Smart
Jubir Luhut: Kewarganegaraan Berubah, Ekstradisi Buronan RI di Singapura Tetap Jalan

Jubir Luhut: Kewarganegaraan Berubah, Ekstradisi Buronan RI di Singapura Tetap Jalan

Whats New
Setelah Digital Banking, Siap-siap Metaverse Banking

Setelah Digital Banking, Siap-siap Metaverse Banking

Whats New
Satgas BLBI Akui Ada Aset Pengemplang yang Balik Lagi ke Pemilik Lama

Satgas BLBI Akui Ada Aset Pengemplang yang Balik Lagi ke Pemilik Lama

Whats New
Ada Perjanjian Ekstradisi RI-Singapura, Makin Mudah Kejar Pengemplang BLBI?

Ada Perjanjian Ekstradisi RI-Singapura, Makin Mudah Kejar Pengemplang BLBI?

Whats New
BNI Bakal Sulap Bank Mayora Jadi Bank Digital UMKM

BNI Bakal Sulap Bank Mayora Jadi Bank Digital UMKM

Whats New
Kesepakatan FIR RI-Singapura Dipertanyakan, Ini Kata Jubir Luhut

Kesepakatan FIR RI-Singapura Dipertanyakan, Ini Kata Jubir Luhut

Whats New
Soal Kesepakatan FIR dengan Singapura, Apa Saja Manfaatnya bagi Indonesia?

Soal Kesepakatan FIR dengan Singapura, Apa Saja Manfaatnya bagi Indonesia?

Whats New
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.