Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Kisah Umi, Pedagang Sayur yang Omzetnya Naik 50 Persen Setelah Beralih ke Digital

JAKARTA, KOMPAS.com - Modal menjadi hal yang sangat penting bagi pelaku usaha untuk bisa memulai atau mengembangkan bisnisnya. Tapi bagi pelaku usaha kecil, modal saja tidak cukup, dibutuhkan pelatihan dan pendampingan bagi mereka untuk bisa mengelola usahanya.

Hal itu yang dirasakan oleh Umi Kalsum, pedagang sayuran dan lauk segar, serta camilan asal Bandar Lampung. Pelaku usaha mikro ini telah memasarkan dagangannya sejak 2015.

Umi memulai usahanya dengan memenuhi permintaan di daerah kompleks perumahannya, yang menurut dia, ibu-ibu rumah tangga disekitarnya terlalu sibuk untuk belanja langsung ke pasar. Jadi dirinya melihat ada peluang usaha disana.

Untuk memasok sayuran dan lauk segar, Umi berela untuk sedari subuh ke pasar guna memenuhi permintaan pelanggannya. Memilah satu per satu sayuran dan lauk yang akan di beli demi menjaga kualitasnya tetap segar saat nanti sampai di tangan konsumen.

"Pelayanannya dengan sistem PO (pre order), jadi konsumen sudah pesan pada malam, maksimal subuh sebelum ke pasar, sehingga bisa berbelanja dan membeli pesanan dengan kualitas terbaik," ujar Umi dalam dalam wawancara khusus Kompas.com dengan PIP, dikutip Senin (26/10/2020).

Sejak 2018 Umi pun mulai memperlebar pasarnya ke luar kompleks perumahan dengan sistem pengantaran langsung (delivery), namun permintaannya tak banyak. Tapi hikmah dari pandemi Covid-19, kini permintaan sayuran dan lauk segar dari Umi jadi meningkat tajam.

"Karena memang saat ini belanja kebutuhan sehari-hari melalui jasa delivery mungkin menjadi solusi terbaik di masa pandemi, jadi orang tidak perlu lagi pergi ke pasar atau ke swalayan sekedar untuk berbelanja," kata dia.

Seiring dengan perluasan pasar yang dilakukan, saat itu Umi pun mulai masuk ke sistem penjualan online. Sederhana saja, lewat akun pribadi di media sosial Facebook dan Whatsapp.

Perluasan pasar yang dilakukan Umi juga diikuti dengan memperkuat modal. Bila sebelumnya ia mendapatkan pembiayaan dari koperasi Rp 2 juta, kini ia beralih ke pembiayaan ultra mikro (UMi) sebesar Rp 10 juta.

UMi merupakan program pembiayaan yang menyasar usaha mikro yang berada di lapisan terbawah dengan fasilitas maksimal Rp 10 juta per nasabah tanpa agunan atau jaminan. Pembiayaan ini dikelola Pusat Investasi Pemerintah (PIP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

Di samping akes pembiayaan yang dinikmatinya, Umi pun menerima pelatihan dan pendampingan langsung dari PIP. Program yang memang ditujukan untuk mendorong debitur PIP bisa mengelola dan mengembangkan bisnisnya dengan lebih baik.


Umi berkisah, lewat pelatihan tersebut dirinya belajar untuk mengemas produk jualannya dengan baik. Selain itu, belajar memaksimalkan internet marketing agar bisa menjangkau konsumen seluas-luasnya.

Serta belajar memperluas media pemasaran dengan membuat akun khusus bisnisnya di instagram. Termasuk cara memposting produknya dengan tampilan yang menarik di instagram, sehingga lebih memikat pelanggan maupun calon konsumennya.

"Jadi tidak sekadar support modal usaha, tapi juga didampingi bagaimana menjalankan dan mengembangkan usaha kami, serta bagaimana untuk bisa menjangkau konsumen seluas-luasnya," kata Umi.

Menurutnya, dengan pengembangan bisnis yang dilakukan yakni perbaikan dari sisi pengemasan dan pemasaran secara online, omzet yang didapatkan melonjak hingga 50 persen. Seiring dengan permintaan yang meningkat di tengah pandemi.

"Kami merasa ada peningkatan pendapatan, bahkan jauh signifikan dari sebelumnya," imbuhnya.

Kini 5 tahun sudah Umi menjalankan usahanya dengan dibantu sang suami dan anak-anaknya untuk pengiriman pesanan ke pelanggan, dan target pasarnya tak lagi terbatas di kompleks perumahaan. Melainkan dirinya sudah bisa menyuplai untuk pelanggan yang tersebar di seluruh Kota Bandar Lampung.

Seperti pelaku usaha pada umumnya, Umi pun menginginkan bisnisnya bisa terus berkembang. Namun, dalam jangka pendek sulit bila memperluas pemasaran hingga ke luar Bandar Lampung, mengingat jarak yang jauh dapat mempengaruhi kesegaran sayuran dan lauk yang ia jual.

Oleh sebab itu, Umi berencana mengembangkan bisnisnya dari sisi penjualan produk camilan. Saat ini memang dirinya hanya reseller, yakni mendapatkan langsung produk dari produsen dan menjualnya kembali, tapi ke depan Umi ingin berperan pula sebagai produsen.

Ia bilang, saat ini tengah mempelajari cara membuat produk camilan yang baik, serta pengemasannya yang tepat dan menarik. Sehingga diharapkan pemasaran produknya sudah bisa menjangkau seluruh Indonesia,

"Kedepannya saya punya rencana untuk punya produk sendiri, berupa camilan khas Lampung yang bisa saya pasarkan ke seluruh Indonesia," ungkap Umi.


Pelatihan Bagi Pelaku Usaha Mikro

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama Pusat Investasi Pemerintah (PIP) Ririn Kadariyah mengatakan, pelatihan dan pendampingan yang diberikan kepada para debitur pembiayaan ultra mikro (UMi) dilakukan melalui kerjasama dengan Jagoan Indonesia, yang memang berfokus dalam pengembangan bisnis lokal Indonesia.

Targetnya memang untuk mendorong para pelaku usaha mikro bertransformasi ke pemasaran digital, sehingga mampu bertahan di tengah pandemi serta mengikuti perkembangan masa kini. Di mana sebagian besar masyarakat kini lebih suka berberlanja secara online.

"Debitur yang kami layani masih level skala yang sangat kecil, maka kita juga perlu lakukan pendampingan. Ini memang cukup challenging karena memang tak seperti pelaku usaha yang levelnya sudah besar, yang memang sudah memiliki keasadaran pemasaran online," kata Ririn.

Ia menjelaskan, pembiayaan UMi merupakan salah satu program pemerintah dalam upaya mengentaskan kemiskinan di Indonesia. Tahapannya, bansos menjadi langkah awal untuk membantu perekonomian masyarakat yang berada dibawah garis kemiskinan.

Tentunya bansos ini tak akan diberikan seumur hidup, karena diharapkan dalam jangka waktu tertentu penerima bansos bisa lepas dari kemiskinan, dan bisa melakukan usaha setidaknya di level mikro.

Pada saat itulah, pembiayaan UMi menjadi fasilitas bagi pelaku usaha mikro untuk mengembangkan bisnisnya. Pendampingan dilakukan sehingga pelaku usaha diharapkan semakin mandiri dan berkembang, hingga membutuhkan plafon pembiayaan yang lebih tinggi.

Plafon pembiayaan diatas Rp 10 juta dapat diakses pelaku usaha tersebut melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR), yang penyalurnya merupakan perbankan pelat merah. Berbeda dari UMi yang disalurkan oleh Pegadaian, Permodalan Nasional Madani (PMN), dan Bahana Artha Ventura (BAV).

"Karena memang KUR kan skala usahanya sudah lebih besar, dan kalau nanti bisa berkembang lebih besar lagi usahanya, maka bisa di lepas ke kredit komersial oleh bank dan lembaga keuangan lainnya," kata Ririn.

https://money.kompas.com/read/2020/10/26/113103926/kisah-umi-pedagang-sayur-yang-omzetnya-naik-50-persen-setelah-beralih-ke

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke