Salin Artikel

Selamat Datang Jurassic Park di Pulau Rinca

KOMPAS.com - Rencana pemerintah untuk meningkatkan potensi wisata komodo di Pulau Rinca memperoleh banyak tanggapan yang pada umumnya sangat menyayangkan dan sekaligus berharap agar Pulau Rinca dibiarkan saja seperti aslinya.

Tidak begitu jelas apa sebenarnya yang menjadi topik polemik, karena rencana pemerintah pasti bermaksud baik untuk meningkatkan jumlah wisatawan yang berkunjung.

Terlepas dari polemik yang tengah berlangsung itu, saya sendiri untuk pertama kalinya mengetahui tentang komodo pada tahun 1950-an.

Saya mendengar cerita dari ayah saya yang pada tahun 1954 di bulan Januari mengikuti rombongan Mr Muhammad Yamin sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan dalam Kabinet Ali-Arifin (Kabinet Alisastroamidjojo yang pertama).

Laporan perjalanan itu telah dituangkan dalam sebuah buku berjudul “Dari Pulau Bunga ke Pulau Dewa”. Terdapat cerita sedikit tentang komodo dalam buku tersebut yang saya kutip berikut ini.

"Kami kini berada di atas Pulau Komodo yang terletak di Selat Sape, di sebelah timur Pulau Sumbawa. Mengenai pulau kecil itu sendiri, yang luasnya tidak lebih dari 478 hektar tidaklah banyak yang diceritakan.

Tetapi Komodo terkenal ke mana-mana, karena di sana terdapat binatang yang rupanya seperti kadal dan besarnya seperti buaya, tetapi yang tidak termasuk dalam jenis buaya, meskipun oleh penduduk pulau Bunga dan Pulau Sumbawa ia dinamakan buaya darat dan dapat hidup selain di darat, juga di air.

Binatang ini, yang bentuknya menyerupai cecak, dalam bahasa latin disebut Varanus komodensis dan di seluruh dunia hanya hidup di pulau Komodo, Pulau Rinca yang terletak di sebelah timurnya dan di pulau Bunga Barat. Binatang ini merupakan sisa-sisa dari binatang binatang yang hidup di zaman purbakala.

Sejak tahun 1913 Varanus Komodensis dimasukkan dalam margasatwa yang dilindungi (cagar alam), tegasnya melakukan perburuan padanya dilarang.

Adanya Varanus komodensis di Pulau Komodo, diketahui sesudah keluar karangan konservator museum zoologis P.A Ouwens, yang bernama Tentang Varanus raksasa jenis dari pulau Komodo dalam tahun 1912, sebagai hasil dari penyelidikannya terhadap binatang itu, yang dikirimkan oleh seorang pemburu yang bernama Aldegon kepadanya.


 

Sesudah itu berbagai ekspedisi diadakan oleh para sarjana, di antaranya yang dipimpim oleh sarjana Amerika Douglas Burden dalam tahun 1926 dan ekspedisi yang dipimpin oleh sarjana Belanda Dr Jansen dalam tahun 1927.

Lain dari pada itu bekas Direktur Kebun Binatang Surabaya W Hompes pernah tinggal selama 3 bulan di Pulau Komodo untuk melakukan penyelidikan pada binatang ini.

Dalam beberapa hal isi laporan para sarjana di atas berbeda-beda, diantaranya dalam cara bagaimana Varanus komodensis mendapatkan makanannya, tegasnya apakah dia hidup hanya dari bangkai bangkai binatang yang ditemukannya, ataukah untuk dapat makanan itu ia harus mengalahkan binatang lain, yang akan dijadikan mangsa.

Dari laporan Douglas Burden tidak dapat keterangan yang jelas mengenai soal ini, tetapi laporan Dr Jansen menyatakan bahwa Varanus komodensis melakukan serangan lebih dulu pada binatang yang akan dimakannya itu.

W Hompes menerangkan, bahwa selama 3 bulan ia ada di tengah-tengah kehidupan Varanus Komodensis di Pulau Komodo, ia tidak pernah melihat binatang itu makan binatang yang masih hidup dengan melakukan serangan terlebih dahulu pada binatang yang akan dijadikan mangsa.

Dengan binatang-binatang lain, misalnya dengan babi hutan atau rusa, Varanus komodensis dikatakannya kelihatan senantiasa rukun hidupnya dan malah acapkali berjalan bersama-sama.

Paling akhir ada laporan dari kepala jawatan perlindungan alam dan perburuan Dr A Hoogerwerf, yang telah mengadakan ekspedisi ke pulau Komodo dan pulau-pulau sekitarnya dengan membuat film dokumenternya sekali, dari awal bulan Mei hingga akhir bulan Juli 1953.

Menurut Dr A Hoogewerf dalam laporannya, Varanus Komodensis disamping makan bangkai binatang yang di tinggalkannya, juga binatang binatang yang masih hidup. Dikatakannya, bahwa ia sendiri telah menyaksikan bagaimana binatang itu dalam waktu dua puluh menit telah menelan seekor kera yang masih hidup.

Lebih lanjut dapat diterangkan, bahwa binatang itu sangat lambat besarnya. Lidahnya panjang, berwarna merah dan pada ujungnya bercabang dua.

Umurnya panjang, diduga sampai 100 tahun. Hidupnya di tempat yang berbatu batu. Gersang dan kurang air.


 

Ia bersarang di lubang-lubang dan yang aneh ialah, di musim panas ia gemuk dan di musim hujan kurus. Menurut dugaan yang menjadi sebab ialah karena di musim panas ia banyak mendapat makanan berupa bangkai binatang yang mati kelaparan, sedangkan di musim hujan ia hanya makan ikan-ikan laut.

Varanus komodensis, sebagai telah diterangkan , terdapat juga di Pulau Rinca, yang letaknya di sebelah timur Pulau Komodo, dan di Pulau Bunga Barat tetapi jumlahnya tidak sebanyak di Pulau Komodo."

Itu adalah kutipan buku “Dari Pulau Bunga ke Pulau Dewa” tentang Komodo, tulisan Abdul Hakim terbitan PT Pembangunan Jakarta tahun 1961.

Semoga tulisan tentang Komodo ini dapat menambah informasi dan bermanfaat bagi kita semua.

Selamat Datang Jurassic Park di Pulau Rinca.

Jakarta, Jumat 30 Oktober 2020

Chappy Hakim
Pusat Studi Air Power Indonesia

https://money.kompas.com/read/2020/10/31/164000426/selamat-datang-jurassic-park-di-pulau-rinca

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

4 Cara Isi Saldo PayPal Termudah dan Tercepat

4 Cara Isi Saldo PayPal Termudah dan Tercepat

Spend Smart
Bank Mandiri Buka Lowongan Kerja untuk Lulusan S1 Semua Jurusan, Cek Syaratnya

Bank Mandiri Buka Lowongan Kerja untuk Lulusan S1 Semua Jurusan, Cek Syaratnya

Work Smart
Menteri PUPR: Pemeliharaan Ciliwung Penting agar Jadi Barometer Sungai Bersih dan Indah di Perkotaan

Menteri PUPR: Pemeliharaan Ciliwung Penting agar Jadi Barometer Sungai Bersih dan Indah di Perkotaan

Whats New
Bendungan Pengendali Banjir Jakarta Siap Dioperasikan Bulan Ini

Bendungan Pengendali Banjir Jakarta Siap Dioperasikan Bulan Ini

Whats New
Biaya Kereta Cepat Bengkak Gara-gara China Salah Hitung di Proposal

Biaya Kereta Cepat Bengkak Gara-gara China Salah Hitung di Proposal

Whats New
Sri Mulyani: Sukuk Hijau Wujud Asas Manfaat Keuangan Islam

Sri Mulyani: Sukuk Hijau Wujud Asas Manfaat Keuangan Islam

Whats New
Benarkah di China Stasiun Kereta Cepatnya Jauh di Pinggiran Kota?

Benarkah di China Stasiun Kereta Cepatnya Jauh di Pinggiran Kota?

Whats New
Debat Sengit Said Didu Vs Arya Sinulingga soal Kereta Cepat

Debat Sengit Said Didu Vs Arya Sinulingga soal Kereta Cepat

Whats New
Libur Nataru, PUPR Pastikan Lintas Jawa Pantai Utara ke Selatan Bisa Dilalui

Libur Nataru, PUPR Pastikan Lintas Jawa Pantai Utara ke Selatan Bisa Dilalui

Whats New
Rekrutmen BUMN Gelombang II Masih DiBuka, Simak Syarat, Cara, hingga Tahap Pendaftarannya

Rekrutmen BUMN Gelombang II Masih DiBuka, Simak Syarat, Cara, hingga Tahap Pendaftarannya

Work Smart
Bertemu Pebisnis Qatar, Sandiaga Bahas Harga Tiket Pesawat hingga Investasi

Bertemu Pebisnis Qatar, Sandiaga Bahas Harga Tiket Pesawat hingga Investasi

Whats New
Lowongan Kerja Hyundai Motor Manufacturing, Simak Posisi dan Persyaratannya

Lowongan Kerja Hyundai Motor Manufacturing, Simak Posisi dan Persyaratannya

Work Smart
Penumpang Kereta Cepat 'Dioper' ke KA Diesel, Waktu Tempuh ke Bandung Jadi Lebih Lama

Penumpang Kereta Cepat "Dioper" ke KA Diesel, Waktu Tempuh ke Bandung Jadi Lebih Lama

Whats New
Ada Pemeliharaan Ruas Tol JORR Seksi E hingga 11 Desember, Simak Lokasi dan Jadwalnya

Ada Pemeliharaan Ruas Tol JORR Seksi E hingga 11 Desember, Simak Lokasi dan Jadwalnya

Whats New
Gelombang PHK Startup: Biaya Operasional, Dana Investor, hingga Pemenuhan Hak Karyawan

Gelombang PHK Startup: Biaya Operasional, Dana Investor, hingga Pemenuhan Hak Karyawan

Work Smart
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.