Salin Artikel

Saingi TikTok, Snapchat Siap Gelontorkan 1 Juta Dollar AS Per Hari untuk Fitur Ini

Melansir Forbes, Selasa (24/11/2020), untuk mengalahkan dominasi Tiktok, Snapchat bahkan menyiapkan 1 juta dollar AS per hari atau sekitar Rp 14 miliar (asumsi kurs Rp 14.000 per dollar AS) bagi pengguna fitur baru tersebut.

Fitur Spotlight akan menampilkan video singkat yang dibuat oleh penggunanya, dan bisa dilihat meski antarpengguna belum saling mengikuti. Ini sebuah perubahan dalam aplikasi buatan Evan Spiegel tersebut.

Pengguna bisa memilih apakah ingin memublikasikan kontennya di Spotlight atau tidak. Kemudian, pemilik video paling populer bakal mendapatkan bayaran dari Snapchat. Tak peduli apakah pengguna tersebut memiliki pengikut dalam jumlah yang besar atau tidak.

Sebab, Snapchat akan menilai posting berperforma tertinggi berdasarkan tampilan yang unik.

Kendati demikian, perusahaan tak menjelaskan secara rinci sistem pembayaran yang bakal didapat pengguna. Snapchat hanya memastikan akan terus membagi 1 juta dollar AS per hari hingga akhir tahun 2020.

Dalam beberapa hal memang Spotlight tampak mirip dengan TikTok dan Reels yang ada di Instagram. Namun, bedanya Spotlight tidak mengizinkan komentar dan video bisa dipublikasikan bersifat anonim.

Fitur Spotlight saat ini baru diluncurkan di 11 negara, termasuk AS, Kanada, Inggris, Perancis, Australia, dan Jerman, yang kemudian akan menyebar ke seluruh dunia.

Melonjaknya popularitas TikTok telah membuat perusahaan-perusahaan jejaring sosial asal AS saling berlomba untuk mengalahkan aplikasi asal China tersebut.

Selama dua bulan terakhir, pengguna aktif Tiktok di AS melonjak drastis, dari sebelumnya 14,6 juta pengguna kini menjadi 40 juta pengguna pada Oktober 2020.

Lebih awal dari Snapchat, Instagram menjadi yang pertama meluncurkan fitur video pendek mirip TikTok, yang disebut Reels pada Agustus 2020, setelah lebih dulu mengujinya selama hampir setahun.

Posisi TikTok di AS memang masih menghadapi ketidakpastian karena Presiden AS Donald Trump memerintahkan perusahaan induk TikTok, ByteDance, untuk mendivestasi TikTok di tengah kekhawatiran atas keamanan data pribadi pengguna.

TikTok sepertinya sedikit memiliki harapan di AS, setelah perusahaan memenangi beberapa kasus di pengadilan AS untuk melawan pemerintah federal. Di sisi lain, berakhir pula masa jabatan Trump, yang selama ini menghambat perkembangan TikTok.

Kondisi yang cukup menguntungkan itu tampaknya membuat para perusahaan pesaing semakin giat untuk mengalahkan popularitas TikTok.

Adapun TikTok baru-baru ini menyatakan bakal terus melakukan ekspansi bisnis secara global, meski masih ada persoalan ketidakpastian atas kepemilikan di AS. Perusahaan akan mempekerjakan sekitar 3.000 engineer selama tiga tahun ke depan untuk ditempatkan di Eropa, Kanada, dan Singapura.

Perusahaan juga memastikan AS akan tetap menjadi salah satu pusat teknik TikTok, sehingga mempekerjakan lebih banyak staf. Ada sekitar 1.000 engineer yang saat ini bekerja untuk TikTok di luar China, hampir setengahnya berbasis di Mountain View, California.

https://money.kompas.com/read/2020/11/24/124000026/saingi-tiktok-snapchat-siap-gelontorkan-1-juta-dollar-as-per-hari-untuk-fitur

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.