Salin Artikel

OJK Beberkan 3 Faktor Industri Keuangan Syariah Bisa Berjaya di Indonesia

Peluang makin nyata mengingat Indonesia adalah ekonomi terbesar ke-16 di dunia, potensi ekonomi syariah mencapai 3 triliun dollar AS, destinasi wisata halal terbaik dunia menurut GMTI, dan 229 penduduknya beragama muslim.

Advisor Grup Inovasi Keuangan Digital, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Maskum mengatakan, ada tiga kunci faktor yang mempengaruhi industri keuangan syariah di Indonesia.

Faktor pertama terletak pada nilai-nilai islam dalam layanannya. Nilai islam yang menjadi keunggulan ini bisa diterima oleh masyarakat RI yang mulai melek dengan layanan jasa finansial berlandaskan syariah.

"Misalnya niat baik kedua belah pihak, tanggung jawab debitur yg lebih besar. Jadi debitur tidak memikirkan dunia tapi juga akhirat sehingga ada rasa tanggung jawab antara bank dengan nasabah. Prinsip bagi hasil, dan biaya transaksi rendah," kata Maskum dalam webinar Indonesia Islamic Festival (IIFEST) 2020, Jumat (11/12/2020).

Faktor kedua adalah dari sisi manajemen. Meski manajemennya tidak jauh berbeda dengan keuangan konvensional, syariah unggul dalam perhatian terhadap nilai-nilai islam di setiap layanannya.

Penggunaan istilah Islam pun terserap dalam produk/jasa sehingga masyarakat lebih memahami maksudnya.

Kemudian yang ketiga adalah aspek teknologi. Keuangan syariah biasanya sangat peduli dengan data-data nasabah. Prosesnya lebih sopan dan ada perlindungan data pribadi.

"Kalau syariah memperhatikan suasana atau bisnis dari partner. Ada hubungan yang cukup baik," ucap Maskum.

Kendati, ada tantangan dalam pengembangannya. OJK mencatat, ada tantangan dari keterbatasan infrastruktur teknologi. Sebanyak 12.538 daerah di Indonesia belum memiliki jaringan 4G, dan kontribusi tingkat penetrasi internet di Indonesia timur baru sebesar 21,5 persen.

Literasi keuangan syariah yang rendah di Indonesia juga menjadi efek bagi perkembangan produk/jasa syariah di dalam negeri. OJK mencatat, indeks literasi keuangan hanya berkisar 38 persen, dan indeks literasi keuangan digital baru 36 persen.

Padahal dilihat dari tingkat inklusinya sudah sekitar 76,9 persen. Meski tingkat inklusi ini lebih kecil ketimbang Singapura sebesar 98 persen, Malaysia 85 persen, dan Thailand 82 persen.

"Kapasitas institusional di Indonesia masih kurang, terutama karena SDM. 90 persen fintech menyatakan kurangnya talenta yang sesuai, dan 71 persen fintech menyampaikan kurangnya skill SDM untuk bidang tech dan software," pungkasnya.

https://money.kompas.com/read/2020/12/11/173200426/ojk-beberkan-3-faktor-industri-keuangan-syariah-bisa-berjaya-di-indonesia

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.