Salin Artikel

BI Diproyeksi Turunkan Suku Bunga Satu Kali Lagi di 2021

JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Indonesia (BI) diproyeksi masih memiliki ruang penurunan suku bunga acuan BI-7 days reserve repo rate (BI-7DRR) satu kali lagi pada 2021 ini.

Chief Economist and Investment Strategist Manulife Investment Management (MAMI) Katarina Setiawan mengatakan, ruang penurunan suku bunga acuan itu disebabkan karena masih tingginya suku bunga riil, meski ruang tak selonggar tahun 2020.

"Ada ruang BI menurunkan suku bunga karena suku bunga riil masih tinggi, walau tidak sebesar peluang yang dimiliki tahun 2020. Ada peluang BI menurunkan satu kali atau tetap mempertahankan," kata Katarina dalam Market Outlook 2021 secara virtual, Kamis (14/1/2021).

Katarina menuturkan, ruang penurunan suku bunga diikuti oleh proyeksi stabilnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS di tengah inflasi yang masih terkendali.

Inflasi diproyeksi tidak akan meningkat signifikan meskipun ada stimulus besar dari pemerintah.

Kemudian, ada kunci dari pemulihan ekonomi dari vaksinasi nasional yang menopang keyakinan konsumen.

Menurut survei BI, indeks keyakinan konsumen mengalami peningkatan pada Desember 2020.

Optimisme tecermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Desember 2020 sebesar 96,5, meningkat dari 92,0 pada bulan November 2020.

"Kita melihat kondisi makro ekonomi akan lebih kokoh ditopang vaksinasi pemerintah. Dari 188 juta penduduk dikurangi dikurangi ibu hamil/menyusui, dan penderita penyakit berat jadi 181 juta jiwa dapat vaksin. Sudah ada anggaran sekitar 54 triliun untuk vaksinasi gratis," ungkap Katarina.

Neraca Perdagangan RI pun masih mengalami surplus dan terkendali.

BI berkomitmen menjaga suku bunga tetap rendah, serta masih jadi standby buyer non competitive bidder dalam pembelian SBN.

Dari sisi global, keyakinan pasar ditopang oleh relatif melemahnya indeks dollar AS (DXY index) karena bank sentral AS, The Fed, menempuh kebijakan yang akomodatif dan membeli aset dalam jumlah besar.

Dalam rapat terakhir, The Fed berkomitmen tetap membeli aset 120 miliar dollar AS per bulan.

Di sisi lain, utang luar negeri AS belum turun.

"The Fed menyatakan akan mempertahankan suku bunga yang akomodatif sampai 2023, di samping pembelian aset bank sentral dalam jumlah besar tidak dikurangi. Membuat dollar AS relatif lemah, tidak akan menguat apalagi secara signifikan," sebut Katarina.

https://money.kompas.com/read/2021/01/14/122500326/bi-diproyeksi-turunkan-suku-bunga-satu-kali-lagi-di-2021

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.