Salin Artikel

[POPULER DI KOMPASIANA] Pamer Gaji di Media Sosial | Netizen Indonesia Tidak Sopan | Menghindari dan Mengatasi FOMO

KOMPASIANA---Tidak perlu sampai memamerkan gaji di media sosial, untuk sekadar membahas gaji dengan sesama rekan kerja ada rasa canggungnya.

Namun, ternyata ada saja orang yang melakukan itu dengan alasan agar orang-orang yang melihatnya jadi termotivasi agar bisa bekerja lebih giat lagi.

Hal ini akan jelas berbeda dengan sesama rekan kerja tadi, karena bisa saja dengan saling terbuka pendapatan yang diterima bisa lebih membuat suasana kerja lebih transparansi.

Pasalnya gaji yang didapat itu tidak serta-merta seperti itu, ada pertimbangan, misalnya, lama kerja, pengalaman, hingga tanggung jawab.

Akan tetapi ketika itu ditunjukan di media sosial, kira-kira motif lain apa yang bisa dilihat?

Berikut 5 konten terpopuler dan menarik di Kompasiana dalam sepekan.

1. Pamer Gaji di Media Sosial: Ada yang Termotivasi, Tidak Sedikit yang Keki

Disadari atau tidak, tulis Kompasianer Seto Wicaksono, akhir-akhir ini cukup banyak orang yang dengan mudahnya memamerkan gaji atau pendapatan mereka di internet secara gamblang.

Karena jika medium yang digunakan adalah media sosial, rasa-rasanya pamer gaji atau pendapatan kepada khalayak secara gamblang selalu menimbulkan dua sisi yang berlawanan.

Kita bisa saja termotivasi, tetapi pada sisi lainnya menurut Kompasianer Seto Wicaksono justru membuat orang insecure atau tidak percaya diri.

"Daripada membandingkan pencapaian diri dengan apa yang orang lain dapatkan, lebih baik membandingkan diri sendiri di masa sekarang dengan waktu sebelumnya," lanjutnya. (Baca selengkapnya)

2. Netizen Indonesia Disebut Paling Tidak Sopan se-Asia Tenggara, Apresiasi atau Refleksi?

Microsoft baru saja merilis laporan terbaru Digital Civility Index (DCI) dengan mengukur tingkat kesopanan digital pengguna internet dunia saat berkomunikasi di dunia maya.

Hasi dari riset tersebut: warganet Indonesia menempati urutan terbawah se-Asia Tenggara.

Melihat itu, lantas Kompasianer Mahestha Rastha berpendapat, banyak kabar-kabar miring yang beredar dan banyak orang yang masih memercayai itu.

"Mumpung belum ada yang melaporkan, lebih baik hapus semua berita hoax yang pernah kamu sebarkan dan pikirkan dulu sebelum disebar ke banyak orang," tulis Kompasianer Mahestha Rastha. (Baca selengkapnya)

3. Perselingkuhan yang Mengerikan dalam "Behind Her Eyes"

Series terbaru Netflix berjudul "Behind Her Eyes" ini sempat bikin heboh karena akhir cerita yang mindblowing. Tagar #WTFthatending sempat trending di Twitter.

Kompasianer Haryadi Yansyah menceritakan, sepanjang menonton series tersebut bingung ingin berpihak kepada tokoh yang mana.

"Sejak awal Adele sudah tampak seperti seseorang yang sakit jiwa. Namun, belakangan timbul juga kecurigaan jika selama ini David yang membuat Adele seperti itu," tulisnya.

Untuk yang ingin menontonnya, "Behind Her Eyes" ini terdiri dari 6 episode yang masing-masing berdurasi 1 jam. Penasaran? (Baca selengkapnya)

4. Mengenal Istilah FOMO yang Viral dan 3 Tips Cara Mengatasinya

Mengapa kita kerap kali merasa cemas jika tidak sedang mengikuti aktivitas atau tren yang berlangsung?

Perasaan yang muncul seperti itu lazim disebut dengan Fear of Missing Out atau FOMO.

Rasa iri yang berulang bahkan berlebihan tersebut bahkan dapat mempengaruhi kepercayaan diri, dan perasaan ini sering diperburuk oleh aktivitas kita karena melihat unggahan orang lain di media sosial.

Kompasianer Adrian Chandra mengingatkan jika FOMO ini bisa dirasakan siapa saja.

"Di masa pandemi ini FOMO disinyalir semakin banyak terjadi di tengah masyarakat kita karena aktivitas dalam dunia nyata dan interaksi langsung kita dengan keluarga, rekan-rekan serta kolega kita," lanjutnya.

8Untuk menghindari dan memperkecil risiko akan FOMO beberapa tips ini mungkin dapat kita praktikan dalam keseharian kita. (Baca selengkapnya)

5. Chauvinisme dalam Anime Attack on Titan

Apakah ada yang mengikut aime Attack on Titan (AoT) yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan?

Untuk sekadar informasi tambahan, anime AoT ini, tulis Kompasianer Dani Ramdani, mengisahkan tiga sahabat kecil yaitu Eren Yeager, Mikasa Ackerman, dan Armin Arlert.

Ketiganya hidup di dalam sebuah tembok, dan orang-orang yang ada di dalam tembok tersebut percaya bahwa tidak ada manusia lain yang hidup di luar tembok selain mereka.

Pada titik ini, dunia yang ada pada anime Attack on Titan (AoT) bisa dikatakan sebagai chauvinisme.

"Mengagungkan bangsa sendiri serta merendahkan bangsa lain, itulah sisi dari chauvinisme dalam anime ini," lanjut Kompasianer Dani Ramdani. (Baca selengkapnya)

https://money.kompas.com/read/2021/02/27/164600926/-populer-di-kompasiana-pamer-gaji-di-media-sosial-netizen-indonesia-tidak

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.