Salin Artikel

[KURASI KOMPASIANA] Merenung dan Mengevaluasi Diri saat Nyepi | Akutualisasi Diri | Puasa Medsos dan Universalitas Nyepi

KOMPASIANA---Umat Hindu memperingati Hari Raya Nyepi tahun baru Caka 1943 yang jatuh pada hari ini, Minggu (14/3/2021).

Sebagaimana namanya, Nyepi itu sendiri berasal dari kata sepi atau hening dengan tujuan mencari keharmonisan dan kedamaian.

Melalui perayaan Nyepi ini diharapkan manusia untuk bisa lebih mengevaluasi diri dan merenung tentang apa yang sudah dilakukan untuk diperbaiki di kemudian hari.

Lantas, apa saja perenungan yang bisa didapat dari perayaan Nyepi?

Berikut 3 konten menarik dan terpopuler terkait Nyepi di Kompasiana.

1. Nyepi, Saatnya Merenung dan Mengevaluasi Diri!

Hari Nyepi, menurut Kompasianer I Ketut Suweca, menjadi momentum yang sangat baik untuk merenung dan mengevaluasi diri di tengah suasana sepi dan hening.

Ada berbagai kegiatan yang berkaitan dengan hari tersebut dilaksanakan, seperti Upacara Pengerupukan.

Pada upacara tersebut, makhluk-makhluk itu akan merasa senang dan tidak satu pun tergerak untuk mengganggu kedamaian manusia.

Selanjutnya, untuk perayaan Nyepi sendiri, manusia dapat mengekang hawa nafsu, mengendalikan diri.

"Memberikan kesempatan kepada umat untuk melakukan mulat sarira atau mawas diri," tulis Kompasianer I Ketut Suweca. (Baca selengkapnya)

2. Nyepi sebagai Aktualisasi Makna Saling Mengasihi

Ada yang unik dalam hubungan pesta adat di masa pandemi dengan perayaan Nyepi.

Memaknai pesta di masa pandemi, tulis Kompasianer Teopilus Tarigan, tentu saja sama sekali tidak sama dengan makna pesta yang berarti perayaan sukaria yang ditandai dengan jamuan makan minum, dengan kumpulan sejumlah besar orang.

"Nyepi sebagai sebuah perayaan hari besar keagamaan juga tidaklah sama dengan perayaan hari besar keagamaan lainnya. Nyepi justru "dirayakan" dengan sepi dalam arti sebenarnya," lanjutnya.

Oleh karena itu, puncak "kesepian" usaha jualan makanan dan minuman pada pelaksanaan pesta itu dirasakannya selama tahun 2020 yang telah lalu.

Tahun ini sudah mulai dilakukan pesta, meskipun pesta kini sudah jauh lebih sepi. (Baca selengkapnya)

3. Pagi yang Cerah, Puasa Medsos, dan Universalitas Nyepi

Kompasianer Budi Susilo menceritakan kegiatan pada Minggu pagi (14/03) ketika bertemu dengan penjual nasi uduk yang merasa dirugikan karena ada yang membatalkan pesanan nasi uduk miliknya itu.

Saat orang berbuat aniaya dan menghina kita, tulis Kompasianer Budi Susilo, anggaplah itu sebagai "penebus" dosa di masa lampau.

"Jadi, berterima-kasihlah kepada mereka. Suatu saat semesta akan memberi hadiah bagi insan yang ikhlas," lanjutnya.

Meski tidak merayakan Nyepi, tapi pelajaran yang bisa didapat adalah menghadirkan ketenangan yang menurutku dapat membawa kepada cakrawala kreativitas. (Baca selengkapnya)

***

Nyepi itu sendiri berasal dari kata sepi atau hening dengan tujuan mencari keharmonisan dan kedamaian.

Pada momen seperti apa pernah melakukan rehat sejenak dari kehidupan sehari-hari dan merenungi diri? Selengkapnya di Kompasiana: Nyepi 2021, Mencari Kedamaian pada Diri.

https://money.kompas.com/read/2021/03/15/160117326/kurasi-kompasiana-merenung-dan-mengevaluasi-diri-saat-nyepi-akutualisasi-diri

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.