Salin Artikel

Meroketnya Harga Cabai: Janji Pemerintah dan Masalah Klasik Menahun

JAKARTA, KOMPAS.com - Harga cabai, khususnya jenis cabai rawit, sedang mahal-mahalnya. Harga bahan utama sambal ini meroket hingga menembus di atas Rp 100.000 per kg dalam beberapa minggu terakhir.

Bahkan di beberapa daerah, harga cabai sudah mencapai Rp 120.000 per kg atau sudah melampaui harga daging sapi, komoditas pangan yang selama ini dianggap jadi barang mahal di Indonesia.

Persoalan mahalnya harga cabai ini seolah jadi masalah klasik menahun yang tak kunjung ditemukan solusi jangka panjang dari pemerintah. Sudah jadi langganan setiap tahun, harga cabai akan melonjak tajam, terutama saat transisi pergantian musim.

Selain saat pergantian musim, harga cabai juga kerapkali melambung tinggi saat momen bulan Ramadan dan menjelang Idul Fitri.

Dikutip dari Kontan, Senin (22/3/2021), Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menjelaskan kenaikan harga cabai lantaran kerusakan panen di beberapa wilayah sentra cabai.

"Saya ingin beri laporan sedikit bahwa di Tuban, Kediri dan Blitar terjadi kerusakan panen antara kurang lebih 40 persen. Tetapi di Wajo Sulawesi Selatan terjadi kerusakan kurang lebih 70 persen," kata Lutfi dalam keterangannya.

"Jadi karena itu, harga cabai merah besar, cabai merah keriting, cabai rawait merah terjadi kenaikan harga yang stabil tapi tinggi," ujar Lutfi lagi.

Berdasarkan data sistem pemantauan pasar kebutuhan pokok (SP2KP) Kemendag beberapa hari lalu saja, harga cabai rawit merah sudah sekitar Rp 96.247 per kg naik 22,48 persen dibandingkan sebelumnya yang sebesar Rp 74.607 per kg.

Sementara, cabai merah keriting sebesar Rp 47.731 per kg naik 1,22 persen dari 11 Februari, sementara acabai merah besar sekitar Rp 44.472 per kg turun 4,28 persen dibandingkan 11 Februari.

Meski begitu, Lutfi mengatakan bahwa harga cabai saat ini menunjukkan penurunan dalam beberapa hari terakhir.

Bila dibandingkan dengan 10 Maret 2021, harga cabai rawit merah menurun 0,49 persen, harga cabai merah keriting turun 1,55 persen sementara cabai merah besar meningkat 0,02 persen.

Menurut dia, penurunan harga ini disebabkan mulainya masa panen di beberapa daerah, seperti di Jawa Timur, Blitar, Kediri, Malang, Jawa Barat, Jawa Tengah dan lainnya.

"Artinya tren penurunan antara 10 Maret dan 12 Maret ini akan terus menjadi penurunan. Yang saya takutkan, bahkan ketika kita menghadapi bulan puasa dan Lebaran, malah terjadi panen raya besar dan (harga) akan di bawah standar yang sudah kita tentukan," jelas dia.

Jokowi sempat jengkel

Polemik harga cabai sampai membuat Presiden Joko Widodo (Jokowi) merasa kesal pada tahun 2017. Mantan Wali Kota Solo ini jengkel karena harga cabai bisa jadi keributan di masyarakat selama berbulan-bulan.

"Pengendalian harga bisa kita kontrol dengan baik, jadi jangan sampai ada yang suka naik-naikkan isu, mengenai cabai Pak, harganya mahal sekali," kata Jokowi saat Temu WNI di Sydney, Australia, seperti dikutip dari laman YouTube resminya.

Lanjut Jokowi, dirinya sampai heran mengapa cabai yang bukan komoditas pangan pokok tetapi bisa memicu polemik berkepanjangan.

"Yang naik hanya cabai saja kok ribut, nanti kalau musimnya juga turun, biasa, fluktuatif. Jangan termakan hal seperti itu, faktanya memang iya (cabai naik), tetapi memang fluktuasinya seperti itu," ucapnya dengan nada kesal.

Jokowi awalnya membahas soal pengendalian inflasi yang relatif stabil pada periode pertama pemerintahannya. Namun, kemudian dirinya menyinggung masalah cabai yang saat itu harganya tembus di atas Rp 100.000 per kg.

Dibandingkan pencapaian penanganan inflasi, sambung Jokowi, meroketnya harga cabai seharusnya tak terlalu dipermasalahkan.

"Kita lihat posisi inflasi kita, artinya apa, kita lihat di sisi pengendalian harga, yang sebelumnya 8,3 persen. 2015 bisa kita tarik kepada 3,35 persen dan 2016 itu 3,02 persen," ungkap Jokowi.

Penjelasan petani cabai

Ketua Umum Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) Abdul Hamid mengungkapkan, meroketnya harga cabai seolah sudah jadi langganan setiap pergantian musim dalam setiap tahunnya. Selain itu, masalah ini belum juga ditemukan solusi permanennya.

"Sudah jadi masalah klasik. Masalah dari dulu kan cara berbudaya petani, paling penting di situ," kata Hamid.

Menurut dia, permintaan cabai khususnya jenis rawit terus meningkat dari tahun ke tahun seiring tren kuliner berbahan baku cabai rawit yang populer sejak beberapa tahun belakangan.

Di sisi lain, cara budidaya cabai yang dilakukan petani belum banyak berubah. Artinya, belum banyak petani cabai yang menanam dengan metode intensifikasi.

"Sudah begitu iklim sekarang berubah, penyakit banyak, lahan semakin menyempit, tanah menurun kesuburannya, cara menanamnya masih sama. Cara berbudidaya petani belum berubah. Pemerintah juga harus aktif melakukan pembinaan cara bercocok tanam yang baik," ujar Hamid yang juga pengepul cabai ini.

Jadi sebab inflasi

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi pada Januari 2021 sebesar 0,26 persen. Dengan begitu, tingkat inflasi secara tahunan (year on year/yoy) sebesar 1,55 persen.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, ada beberapa komoditas yang menyumbang inflasi pada Januari 2021. Namun kenaikan harga tersebut bukan karena tingginya permintaan, namun lebih dipengaruhi oleh faktor suplai yang terkendala karena cuaca buruk.

Kenaikan harga cabai rawit dan ikan segar misalnya, terjadi karena adanya intensitas curah hujan yang tinggi.

"Kenaikan harga cabai dipengaruhi oleh sisi suplai karena cuaca yang buruk. Kita harapkan ini sifatnya sementara, akhir Februari-Maret diharapkan (harganya kembali) stabil," kata Suhariyanto.

Janji Mentan

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengatakan, harga cabai rawit di tingkat konsumen akan mengalami penurunan pada masa bulan puasa dan Lebaran nanti atau sepanjang April-Mei 2021.

Berdasarkan proyeksi Kementerian Pertanian (Kementan) l, harga cabai rawit akan turun secara bertahap hingga berada di kisaran Rp 60.000-70.000 per kilogram pada puasa dan Lebaran.

"Harga cabai rawit di tingkat konsumen diperkirakan awal Maret masih puncaknya harga, kemudian mulai minggu kedua Maret hingga akhir Juni 2021 trennya menurun,” ujar Syahrul dalam rapat kerja dengan Komisi IV DPR RI, Kamis (18/3/2021).

Pada akhir Juni 2021, Kementan memproyeksi harga cabai rawit sudah bergerak di kisaran Rp 52.000 per kilogram.

Menurut Syahrul, tren penurunan didukung kondisi pertanaman cabai di wilayah Jawa Timur yang pada awal Februari sudah ada tambahan luas panen.

Sehingga bakal terjadi panen raya pada akhir April-Juni mendatang. Kondisi penurunan ini diperkirakan terjadi pula pada cabai merah keriting meski lebih cenderung stabil.

Hingga akhir Juni 2021 harga cabai merah keriting diproyeksi menjadi berkisar Rp 44.000-Rp 47.000 per kilogram.

Ia menjelaskan, Kementan telah menyiapkan beberapa strategi untuk mengantisipasi gejolak harga cabai di masa Ramadan dan Idul Fitri 2021.

Di antaranya, dengan menyampaikan early warning system (EWS) informasi ketersediaan cabai sepanjang Maret-Juni 2021 ke provinsi dan kabupaten.

"Lalu melakukan konsolidasi dengan asosiasi dan pelaku usaha terkait upaya menjaga pasokan cabai," kata Syahrul.

https://money.kompas.com/read/2021/03/22/082229126/meroketnya-harga-cabai-janji-pemerintah-dan-masalah-klasik-menahun

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.