Salin Artikel

RI Pernah Ekspor Opium, Jejak Pabriknya Ada di Kampus UI Salemba

Pusat produksi opium tercatat berada di kawasan Salemba, Jakarta Pusat, yang sampai masa kini jejak-jejaknya masih bisa ditelusuri. Di kawasan itu, pernah berdiri pabrik opium peninggalan pemerintahan Hindia Belanda.

Harian Kompas edisi Senin, 22 Oktober 2018, pernah menerbitkan hasil penelusuran keberadaan pabrik tersebut. Kala itu, Arkeolog Candrian Attahiyat sebagai salah satu pengulik riwayat bisnis opium di Hindia Belanda, menunjukkan sisa-sisa peninggalannya di lokasi.

Bukti nyata keberadaan pabrik opium itu terletak di kawasan kampus Universitas Indonesia di Salemba. Di dalam area kampus, terdapat bangunan berdinding tinggi dan beratap seng.

Saat itu, pada salah satu pintu ruangan, terdapat petunjuk bertuliskan “R. KULIAH FKUI KIMIA 3”. Inilah tujuan dari perjalanan bersama Candrian, yakni menjumpai bangunan bekas pabrik opium. Bangunan pabrik antara lain menjelma menjadi Fakultas Kedokteran serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI.

Pabrik opium Salemba, yang ketika penjajahan oleh Belanda masuk wilayah Weltevreden, merupakan perwujudan usaha Belanda untuk sepenuhnya memonopoli bisnis opium. Monopoli dijalankan oleh perusahaan Belanda Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM).

“NHM adalah inkarnasi VOC (Kongsi Dagang Hindia Timur Belanda). Kalau VOC monopoli rempah-rempah, ini monopoli candu,” kata Candrian, dikutip dari Harian Kompas edisi Senin, 22 Oktober 2018.

Menurut Candrian, NHM menerima hak monopoli candu pada 1 Januari 1827, tiga tahun pasca berdiri. Awalnya, NHM hanya memonopoli impor bunga opium atau poppy ke wilayah Hindia, lantas pembuatan opium dijalankan oleh pemegang hak produksi atau pak yang tersebar di berbagai daerah.

NHM lantas memonopoli pula produksi opium. Untuk memenuhi permintaan di Hindia, dibuatlah pabrik opium yang besar di Salemba tahun 1894.

James R Rush dalam buku versi terjemahan Bahasa Indonesia berjudul “Candu Tempo Doeloe: Pemerintah, Pengedar dan Pecandu 1860-1910”, mencatat, opium di Jawa sudah jadi komoditas penting dalam perdagangan regional saat orang-orang Belanda pertama kali mendarat di pulau ini akhir abad ke-16.

Tidak ada yang tahu kapan opium mulai masuk dan siapa pembawanya, tetapi kala itu, para saudagar Arab terkenal karena membawa opium ke Asia. Nilai transaksi opium di Hindia juga belum diketahui. Namun, keuntungan yang amat besar dari penjualan opium mampu memodali pembangunan kota.

“Hampir semua bangunan di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 dibiayai dari candu,” kata Candrian.

Pabrik opium dan Stasiun Salemba 

Keberadaan pabrik opium Salemba juga didukung jalur distribusi memadai melalui sarana dan prasarana perkeretaapian. Jejak-jejak peninggalannya ada di seberang Stasiun Cikini di Jakarta Pusat, tepatnya di Jalan Cikini Ampiun hingga Gang Ampiun, di Kelurahan Pegangsaan, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat.

Gang Ampiun punya kaitan dengan riwayat opium. Cikini Ampiun berlokasi di sebelah Cikini Gold Center. Dari sana, kaki melangkah masuk ke gang selebar 1,5-3 meter.

Candrian menjelaskan, berdasarkan peta koleksi Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda, dengan judul Plattegrond von Batavia, Gang Ampiun tertulis sebagai G. Amfioen, bersisian dengan rel kereta yang merupakan percabangan dari jalur rel.

Menurut keterangan sumber, peta itu berasal dari tahun 1947. Ampiun dikatakan menjadi petunjuk soal keberadaan pabrik opium. Candrian mengemukakan, Ampiun adalah “nama gampang” opium.

Rel yang berdekatan dengan Gang Ampiun berdasarkan peta itu juga merupakan petunjuk lain soal bisnis candu. Ke arah timur laut, rel bercabang dua. Satu rel masuk ke opiumfabriek (pabrik opium), satu lagi masuk ke sebuah tempat di Gang Kenari, yang dulu merupakan stasiun bernama Stasiun Salemba.

Dengan demikian, jaringan rel tersebut berperan untuk lalu lintas opium, yaitu bahan mentah opium masuk ke pabrik untuk diolah, dan produk opium kemudian didistribusikan ke berbagai tempat.

Jika menelisik kawasan Gang Ampiun dan sekitarnya dari ketinggian, akan terlihat ada pola atap seng memanjang tanpa terputus seperti mengikuti suatu garis.

Ternyata, atap seng itu mengikuti jalur rel masa lampau yang berdasarkan peta koleksi Universitas Leiden kemudian bercabang ke Kenari dan pabrik opium. Namun, rel tersebut sudah lenyap, berganti gang beraspal selebar 1,5 meter.

“Jalan ini selebar rel kereta, terus ke timur ke arah Salemba,” ujarnya.

Adapun jika terus ke arah timur hingga keluar dari area beratap seng, sebuah jembatan bakal dijumpai, yang saat ini digunakan para pejalan kaki menyeberangi Kali Ciliwung. Jembatan itu rupanya sisa dari rel kereta kuno yang masih bertahan hingga sekarang.

Hal ini selaras dengan data yang dicatat PT KAI. Dikutip dari laman resmi PT KAI, dikatakan bahwa memang dulu pernah terbangun Stasiun Salemba di wilayah tersebut.

“Posisi Stasiun Salemba sangat strategis sehingga memiliki peran penting sebagai percabangan kereta api,” tulis KAI, dikutip Minggu (28/3/2021).

Dari Salemba ke arah timur jalur bercabang menuju Jakarta melalui Pasar Senen ataupun menuju ke Jatinegara-Bekasi. Sedangkan ke arah Barat terdapat jalur cabang ke Jakarta ataupun Bogor. Kemudian lurus terus ke arah barat jalur bercabang ke Tanah Abang dan Anyer-Banten.

Namun, pada tahun 1913, Staatssporwegen atau SS selaku perusahaan kereta api pemerintah Hindia Belanda menata ulang jalur kereta api di Jakarta. Stasiun Boekitdoeri eks-NISM dibongkar dan dibangunlah Stasiun Manggarai yang diresmikan pada tanggal 1 Mei 1918.

SS juga membangun Balai Yasa Manggarai sebagai tempat perbaikan lokomotif dan kereta, serta membangun jalur kereta api menuju Jatinegara melalui rute seperti sekarang ini. Penataan ulang ini membuat peranan Stasiun Salemba tergantikan oleh Stasiun Manggarai.

“Hal ini dapat dibuktikan dengan mulai tidak beroperasinya jalur yang melewati Stasiun Salemba. Pada peta Batavia tahun 1925, jalur cabang Stasiun Salemba – Stasiun Pasar Senen sudah tidak beroperasi. Kemudian cabang Stasiun Salemba - Jatinegara pada peta tahun 1945 sudah tidak terlihat lagi,” kata KAI.

Kendati demikian, Stasiun Salemba masih beroperasi untuk melayani pengangkutan opium melalui Pabrik Opium – Stasiun Salemba – Jakarta.

Pabrik opium Salemba era Indonesia merdeka

Ketika Indonesia merdeka, pabrik opium Salemba tak langsung ditutup. Pemerintah Republik Indonesia (RI) bahkan sempat mengekspor opium dari pabrik ini di tahun 1948. Itu adalah masa ketika Indonesia tengah terlibat perundingan Renville.

Kala itu, Menteri Keuangan RI dijabat oleh Alexander Andries Maramis atau A.A. Maramis. Sebagai bendahara negara, ia memang bertugas untuk mencari dana untuk membiayai angkatan perang, agresi militer dan berbagai perundingan.

Nah, pada masa inilah perdagangan vw (opium trade) terjadi bersamaan dengan perdagangan emas ke luar negeri. Dikutip dari buku berjudul “Organisasi Kementerian Keuangan - Dari Masa Ke Masa” yang diterbitkan Kementerian Keuangan, ekspor opium dilakukan atas usulan Maramis.

“Untuk menjaga hubungan ekonomi dengan dunia jika perjanjian Renville tidak dapat diselesaikan, Hatta menerima usulan Menteri Keuangan A.A. Maramis untuk melakukan hubungan ekonomi dengan negara lain dengan menjual candu ke luar negeri,” tulis buku tersebut, dikutip pada Minggu (28/3/2021).

Maramis yang usulannya ditrtima, lantas melaksanakan perdagangan candu (opium trade) dan emas ke luar negeri pada akhir Februari 1948. Sebagian dari hasil ekspor opium digunakan untuk menggaji pegawai pemerintah di masa itu.

“Tujuan perdagangan candu dan emas ini adalah untuk membentuk dana devisa dari luar negeri untuk membiayai pegawai perwakilan pemerintah RI di Singapura, Bangkok, Rangoon, New Delhi, Kairo, London dan New York dan barter dengan senjata yang diselundupkan ke daerah Republik Indonesia,” beber buku tersebut.

Tak tanggung-tanggung, dikatakan bahwa Maramis berhasil menjual 22 ton candu mentah. Opium tersebut berasal dari pabrik candu di Salemba yang sudah berdiri sejak zaman pemerintahan Hindia Belanda.

Di dalam struktur pemerintahan, Departemen Keuangan RI saat itu juga tercatat membawahi urusan tarikan upeti candu. Nomenklaturnya kerap berubah-ubah, namun tetap mencantumkan kata candu di bawah struktur kendali Menteri Keuangan.

Misalnya, di 1945 terdapat nomenklatur Pejabatan Resi Candu dan Garam, hingga 1948 berubnah menjadi Jawatan Resi Candu dan Garam.

Pada 1951, nomenklatur diganti menjadi Jawatan Resi dan Candu yang dipertahankan hingga tahun 1959. Setelah itu, tak ada lagi nomenklatur terkait candu atau opium di tubuh Departemen Keuangan.

Lantas, kapan pabrik opium di Salemba tersebut ditutup? PT KAI menyebut ada kaitan penutupan Stasiun Salemba dengan ditutupnya pabrik opium.

“Pabrik Opium yang diperkirakan dibangun tahun 1901 ini berada di seberang Stasiun Salemba dan memiliki jalur kereta khusus menuju Stasiun Salemba. Namun, pada tanggal 2 September 1981 Stasiun Salemba berhenti beroperasi setelah Pabrik Opium Salemba ditutup,” tulis PT KAI.

https://money.kompas.com/read/2021/03/29/112134126/ri-pernah-ekspor-opium-jejak-pabriknya-ada-di-kampus-ui-salemba

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.