Salin Artikel

[TREN LYFE KOMPASIANA] Alasan Anak Tak Ingin Curhat | Keberanian untuk Jadi Lebih Baik | Berkarier di Perusahaan Multinasional

KOMPASIANA---Saat banyaknya waktu dihabiskan di rumah, kesempatan orang tua bersama dengan anak jadi lebih intens.

Akan tetapi ada beberapa tantangan yang dihadapi orangtua dalam mendampingi anak seperti mampu mengajak anak untuk mau mencurahkan perasaan dan keresahannya.

Namun, ada saja momen di mana hubungnan orang tua dan anak itu renggang. Orang tua perlu berinisiatif untuk membuka komunikasi dan menemukan cara yang tepat.

Harapannya, dengan membuka komunikasi tersebut dapat memahami perspektifnya ketika ada masalah.

1. Ini Alasan Anak Tak Ingin Curhat pada Orangtuanya!

Dalam menjalin sebuah hubungan, sikap keterbukaan menjadi salah hal yang dirasa penting.

Sikap keterbukaan atau transparan itu, tulis Kompasianer Zalfa Farid, pada seseorang tentunya akan membangun rasa kepercayaan yang dapat memperkuat suatu hubungan.

Sudah bukan jadi rahasia umum lagi bila seorang anak yang sudah beranjak dewasa, tepatnya di mulai dari usia remaja, pasti kedekatan antara anak dan orangtua.

Sebenarnya hal itu bukanlah masalah. Namun beberapa orangtua berpandangan bahwa anak harus memiliki prinsip yang sama dengannya.

"Orangtua merasa mereka yang lebih paham mana yang terbaik untuk anaknya sedangkan anak tidak," tulis Kompasianer Zalfa Farid. (Baca selengkapnya)

2. Stay Hungry, Stay Foolish

Setiap peristiwa maupun pengalaman, baik di sekolah atau saat bekerja, pasti mempunyai arti dan akan mengantar kita kepada suatu tujuan akhir yang ingin dicapai.

Akan tetapi, bagi Kompasianer Lupin, kita harus yakin dan punya keberanian melangkah untuk membuat titik selanjutnya itu.

Alasannya, orang hanya bisa membuat garis, kemudian menghubungkan titik yang telah dibuat, setelah berada di titik selanjutnya.

"Dengan kata lain, orang akan tahu apakah itu sesuai dengan harapan atau tidak, setelah mengambil ke putusan untuk membuat, dan melihat ke belakang di titik lanjutan," lanjutnya. (Baca selengkapnya)

3. Adat Positif Selama Berkarier di Perusahaan Multinasional!

Kompasianer Celestine Patterson menceritakan pengalaman pertama bekerja di hotel dengan seluruh kepala departemen datang dari Inggris, Swedia, Belanda, dan Singapura.

Dipandang dari segi prestise, merekrut ekspatriat melambungkan image perusahaan, publik memandang manajemen hotel yang keren.

Setiap pekerja pasti bangga bekerja di perusahaan multinasional, sebab ada 6 adat positif terbawa di manapun bekerja sebagai tolok ukur profesional.

Pantang menunda-nunda pekerjaan, misalnya, jika dapat dikerjakan segera, kenapa tidak berusaha menyelesaikan segala persoalan dengan tuntas.

"Prinsipnya, yang berprestasi akan diberi penghargaan, yang berhasil, diberi hadiah. Jadi kami berlomba meraih prestasi," tulis Kompasianer Celestine Patterson. (Baca selengkapnya)

***

Simak beragam ulasan mengenai diary, worklife, hingga foodie di Kompasiana lewat kategori Lyfe.

https://money.kompas.com/read/2021/06/29/155950026/tren-lyfe-kompasiana-alasan-anak-tak-ingin-curhat-keberanian-untuk-jadi-lebih

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.