Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Komnas Kajiskan: Penangkapan Ikan Kerapu Sudah Berlebihan

Spesies ikan-ikan karang tersebut termasuk ikan kerapu karang, ikan kerapu bebek, kerapu balong, kerapu lumpur, kerapu sunu, ikan kakak tua, ikan ekor kuning, dan ikan napoleon.

"Ada batas tertentu (untuk penangkapan ikan). Setelah itu bisa collapse kalau terus-terusan tidak diantisipasi dan dikelola. Apa yang kita lakukan adalah menahan tekanan tersebut agar stok (ikan) kita sebisa mungkin kembali ke target awal," kata Ketua Komnas Kajiskan, Indra Jaya dalam webinar Optimalisasi Tata Kelola Perikanan Berkelanjutan di Jakarta, Senin (23/8/2021).

Indra mengungkapkan, status over exploited disematkan ketika populasi ikan jenis tersebut semakin rendah namun penangkapannya terus meninggi.

Data-data tersebut kemudian menghasilkan hasil pengkajian stok ikan dengan bentuk nilai maximum sustainable yield (MSY) yang terdiri dari level eksploitasi (E) dan total penangkapan ikan yang diperbolehkan (total allowance catch/TAC).

Adapun penangkapan ikan yang tinggi dipengaruhi oleh status ikan kerapu Indonesia yang strategis di pasar global. Tercatat, kerapu Indonesia menempati posisi kedua di pasar dunia pada tahun 2018. Begitu juga dengan ikan kakap yang 45 persen stoknya berasal dari Indonesia.

"Pada awalnya stok ikan banyak dan tekanan masih sedikit. Namun kemudian mulai banyak orang menangkap ikan, jadi tekanan penangkapan naik, maka biomassa berkurang. Naik lagi tekanan itu sehingga overfishing," beber Indra.


Adapun 7 WPP yang masuk dalam kategori over exploited untuk ikan-ikan karang adalah WPP 573, WPP 572, WPP 713, WPP 714, WPP 717, WPP 715, dan WPP 716. Sementara itu, WPP 711 masuk dalam kategori fully-exploited, dan 3 WPP lainnya masuk dalam kategori moderat.

Status ketersediaan ikan-ikan demersal termasuk ikan kakap masih lebih baik dibanding ikan-ikan karang. Dari 11 WPP, hanya 2 WPP yang mengalami status over exploited, yakni WPP 571 dan WPP 713. Enam WPP lainnya masuk kategori fully exploited, dan 3 WPP dalam kategori moderat.

Namun kata Indra, data tersebut belum bisa secara resmi menyimpulkan bahwa status ikan kerapu dan ikan kakap di Indonesia sudah tereksploitasi sepenuhnya, mengingat ikan tersebut masuk dalam kelompok jenis ikan karang dan demersal yang terdiri dari ratusan spesies.

"Kalau cukup resources pendataan, kami berharap (ada keterkhususan) kelompok jenis ikan ini. Maka kita (akan) keluarkan kakap, karang, dan rajungan (dari kelompok ikan demersal dan ikan karang menjadi kelompok tersendiri). Kunci utama kesuksesan (pengelolaan) harus berdasarkan data yang terukur," ucap Indra.

https://money.kompas.com/read/2021/08/23/111204926/komnas-kajiskan-penangkapan-ikan-kerapu-sudah-berlebihan

Rekomendasi untuk anda
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Soal Merger Damri dan PPD, Stafsus Erick Thohir: Tinggal Proses Teknis Saja

Soal Merger Damri dan PPD, Stafsus Erick Thohir: Tinggal Proses Teknis Saja

Whats New
Januari 2023, Harga Minyak Mentah Indonesia Naik Tipis Jadi 78,54 Dollar AS Per Barrel

Januari 2023, Harga Minyak Mentah Indonesia Naik Tipis Jadi 78,54 Dollar AS Per Barrel

Whats New
Mau Nonton F1 Power Boat Danau Toba? Cek Harga Tiketnya, Mulai dari Rp 50.000 Per Orang

Mau Nonton F1 Power Boat Danau Toba? Cek Harga Tiketnya, Mulai dari Rp 50.000 Per Orang

Whats New
Simak Lelang Rumah di Jakarta dan Surabaya, Nilai Limit Rp 200 Jutaan

Simak Lelang Rumah di Jakarta dan Surabaya, Nilai Limit Rp 200 Jutaan

Spend Smart
Ramai PBB Kota Solo Naik, Apa Itu Pengertian Pajak Bumi dan Bangunan?

Ramai PBB Kota Solo Naik, Apa Itu Pengertian Pajak Bumi dan Bangunan?

Work Smart
Harga Minyak Dunia Turun 5 Persen Dalam Sepekan, Apa Sebabnya?

Harga Minyak Dunia Turun 5 Persen Dalam Sepekan, Apa Sebabnya?

Whats New
Cara Beli Tiket MRT Online, Bisa Bayar Pakai OVO, GoPay, atau DANA

Cara Beli Tiket MRT Online, Bisa Bayar Pakai OVO, GoPay, atau DANA

Spend Smart
Stabil, Simak Rincian Harga Emas Antam Hari Ini

Stabil, Simak Rincian Harga Emas Antam Hari Ini

Whats New
Rincian Harga Emas Hari Ini di Pegadaian, dari 0,5 Gram hingga 1 Kg

Rincian Harga Emas Hari Ini di Pegadaian, dari 0,5 Gram hingga 1 Kg

Spend Smart
[POPULER MONEY} KAI Bagi-bagi Hadiah Umrah Gratis | Beli Minyakita Pakai KTP

[POPULER MONEY} KAI Bagi-bagi Hadiah Umrah Gratis | Beli Minyakita Pakai KTP

Whats New
Gaji UMR Sidoarjo 2023, Tertinggi ke-3 se-Jatim

Gaji UMR Sidoarjo 2023, Tertinggi ke-3 se-Jatim

Work Smart
Ekosistem Pembiayaan Komprehensif, Upaya BTN Selesaikan'Backlog' Perumahan

Ekosistem Pembiayaan Komprehensif, Upaya BTN Selesaikan"Backlog" Perumahan

Whats New
Ramai Penipuan Bermodus File APK, Pahami Cara Kerja dan Tips Menghindarinya

Ramai Penipuan Bermodus File APK, Pahami Cara Kerja dan Tips Menghindarinya

Work Smart
Mendag Larang Pedagang Jual Beras Bulog Oplosan

Mendag Larang Pedagang Jual Beras Bulog Oplosan

Whats New
Garuda Buka Opsi Penggunaan Jilbab Bagi Pramugari

Garuda Buka Opsi Penggunaan Jilbab Bagi Pramugari

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+