Salin Artikel

Survei: Seimbangkan Karier dan Keluarga, Kesehatan Mental Pekerja Perempuan Memburuk Selama Pandemi

JAKARTA, KOMPAS.com - Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Investing in Women pada Desember 2020, menunjukkan lebih dari sepertiga pekerja atau sebanyak 38 persen memiliki kondisi kesehatan mental yang memburuk.

Menurut Direktur Eksekutif IBCWE Maya Juwita, angka ini mengalami sedikit peningkatan dari survei pertama pada Mei 2020.

Rata-rata kondisi kesehatan mental yang buruk dialami oleh pekerja perempuan sebesar 40 persen dan 36 persen laki-laki.

Kondisi tersebut disebabkan adanya penyeimbangan kondisi kerja dan keluarga, serta ketegangan keluarga menjadi sumber tekanan mental dan kelelahan bagi perempuan.

Ditambah lagi, karena peningkatan beban pekerjaan rumah tangga menjadi salah satu penyebab ketegangan fisik bagi setengah perempuan yang mengikuti survei.

Hampir sepertiga dari laki-laki juga mengatakan hal yang senada.

Meski begitu, pekerja yang lebih tua justru memiliki kesehatan jiwa dan fisik yang lebih tangguh dibandingkan pegawai yang lebih muda.

"Mungkin karena pekerja yang lebih tua rata-rata memiliki posisi atau jabatan yang lebih tinggi sehingga pekerja yang lebih muda akan mengalami kekhawatiran-kekhawatiran tertentu, khususnya stabilitas kerja," ujar Maya dalam keterangan tertulis, Rabu (22/9/2021).

Pandemi Covid-19 terus mendatangkan dampak yang signifikan terhadap para pegawai sektor swasta di Indonesia.

Kemudian, sebanyak 13 persen pekerja mengalami produktivitas yang lebih rendah dibandingkan dengan situasi sebelum pandemi.

Sedangkan 43 persen pekerja mendapatkan upah yang lebih rendah.

Rata-rata pekerja dengan pendapatan lebih rendah dan masih tergolong junior berpeluang akan mengalami kehilangan pekerjaan.

Hampir semua dampak Covid-19 dirasakan lebih buruk oleh pekerja di sektor jasa, terutama untuk pekerja sektor hotel dan restoran, yang bisnisnya terdampak pembatasan aktivitas.

Namun, empat dari lima orang pegawai mengatakan, Covid-19 mendatangkan perubahan positif dalam kehidupan kerja lantaran pengaturan kerja yang lebih fleksibel.

Hal ini direspon sebanyak 54 persen responden perempuan dan 49 persen responden laki-laki.

Sementara itu, Direktur SDM PT L’Oreal Indonesia, Yenita Oktora menyampaikan, aspek keamanan dan kesehatan harus menjadi yang utama.

Perusahaan juga bekerja sama dengan layanan hotline yang bisa dihubungi oleh seluruh karyawan untuk konseling dengan psikolog, dokter atau mencari rumah sakit.

Contoh lain adalah layanan daycare virtual yang diberikan oleh PT HM Sampoerna Tbk kepada para pekerja mereka di seluruh Indonesia.

Manajer Inklusi dan Keberagaman Melissa Sim mengatakan, layanan ini memberikan kesempatan bagi para pekerja yang membutuhkan waktu fokus untuk bekerja tanpa khawatir akan pengasuhan anak-anak mereka.

Dia juga menambahkan, sudah ada sebanyak 500 pekerja yang mendaftar untuk layanan ini.

"Ini merupakan program yang bagus dan bisa menjangkau seluruh pekerja dari Sabang sampai Merauke. Jadi tak hanya berlaku di kantor pusat saja," ujar Melissa.

https://money.kompas.com/read/2021/09/22/195130826/survei-seimbangkan-karier-dan-keluarga-kesehatan-mental-pekerja-perempuan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.