Salin Artikel

Penyewa Mal hingga Pemilik Warung Keluhkan Kebijakan Anies soal Larangan Pajang Rokok

Aturan itu ada dalam Seruan Gubernur DKI Jakarta Nomor 8 Tahun 2021 tentang Pembinaan Kawasan Dilarang Rokok.

"Padahal sebelum ini juga sudah sangat dibatasi dan kami semua patuh. Semua sudah ada aturan perdagangannya termasuk kewajiban seperti pajak yang kami patuhi," kata Dewan Penasihat Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Tutum Rahanta melalui keterangan tertulis, Kamis (23/9/2021).

Ia menilai kebijakan tersebut Anies kurang tepat dan tidak beralasan karena aturan tersebut seolah-oleh memperlakukan produk rokok sebagai barang ilegal.

Bahkan kata Tutum, larangan menampilkan produk rokok juga akan menekan roda perekonomian di tengah pandemi Covid-19.

Selain itu, ia juga menilai Seruan Gubernur DKI Jakarta tersebut bertentangan dengan produk hukum yang lebih tinggi yakni PP 109 Tahun 2012. Aturan itu menyatakan bahwa produk rokok yang sah dan secara legal mendapatkan kepastian untuk dijual jika sudah memenuhi ketentuan yang diatur seperti kemasan, kandungan produk, perpajakan, dan rentetan aturan lainnya.

"Kami juga tidak sembarangan menjual di mana saja, harus jauh dari tempat ibadah dan jangkauan anak-anak," kata Tutum.

Ia menyebut aturan Anies dikeluarkan tanpa sosialisasi sehingga banyak pelaku usaha yang terkejut dengan kebijakan ini. Oleh karena itu, ia berharap kebijakan ini dicabut.

Sementara itu, Ketua Departemen Minimarket Asosiasi Peritel Indonesia (Aprindo) Gunawan Baskoro mengatakan, larangan memajang produk rokok di tempat penjualan akan semakin menekan kinerja ritel secara keseluruhan.

Ia mengatakan ada sekitar 1.500 gerai ritel yang sudah tutup permanen sepanjang dua tahun terakhir. Saat ini ucapnya, kondisi ritel nasional belum menunjukkan tren pemulihan.

"Kami sudah tunaikan semua kewajiban, bukannya didukung malah makin ditekan," kata dia.

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pasar Indonesia (Asparindo) Joko Setiyanto mengatakan, seruan Gubernur DKI Jakarta tersebut juga akan berdampak pada sektor perdagangan eceran kecil seperti di pasar tradisional dan warung kelontong.

Menurut dia, kebijakan ini justru mengabaikan upaya percepatan pemulihan ekonomi masyarakat yang terpukul oleh pandemi Covid-19.

Salah satu pemilik kios sederhana atau warung di kawasan Palmerah, Jakarta Barat Ade Sutisna cukup khawatir akan razia reklame rokok. Sebab, kios yang dimilikinya merupakan sponsor dari sebuah merek rokok.

Ade mengatakan rokok adalah salah satu produk yang menjadi tulang punggung kiosnya. Reklame rokok merek tertentu juga dipasang sebagai sarana informasi ketersediaan produk.

Tanpa reklame, bilang Ade, para pembeli tidak akan mengunjungi kiosnya karena menganggap warungnya tidak menjual produk yang diinginkan.

https://money.kompas.com/read/2021/09/23/202854626/penyewa-mal-hingga-pemilik-warung-keluhkan-kebijakan-anies-soal-larangan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.