Salin Artikel

Hasil Investigasi Kebakaran Tangki Balongan, Pertamina: Diduga Tersambar Petir

Direktur Utama PT Kilang Pertamina Internasional Djoko Priyono mengatakan, ada empat tangki yang terbakar di Kilang Balongan yakni 42-T-301 E, F, G, dan H. Namun, ledakan berawal dari tangki G yang kemudian merembet ke tiga tangki lainnya.

Ia bilang, ada empat pihak yang melakukan investigasi untuk mencari tahu penyebab kebarakan yakni Balai Besar Teknologi Kekuatan Struktur (B2TKS) yang berada di bawah BPPT, Pusat Penelitian Petir LAPI ITB, Ditjen Migas Kementerian ESDM, dan lembaga internasional Det Norske Veritas (DNV).

"Mayoritas hasil investigasi menyebutkan telah terjadi kebocoran di dinding tangki G dengan penyebab yang berbeda-beda dari setiap hasil investigasinya," ujar Djoko dalam rapat dengan Komisi VII DPR RI, Rabu (29/9/2021).

Meski hasil investigasi berbeda-beda, namun Pertamina mengambil kesimpulan dari hasil tersebut beserta analisis dari tim internal perusahaan.

Terkait penyebab kebocoran, kata Djoko, akibat terjadinya sambaran petir travelling pada pukul 23.09 WIB yang menyebabkan degradasi pada dinding/plat atau las-lasan di tangki G.

Hal itu menyebabkan penurunan penipisan dinding/plat atau las-lasan tangki G, disusul dengan robek dan bocornya dinding tersebut akibat tekanan mekanik dari dalam tangki yang telah terisi BBM pada level mendekati penuh.

Sementara, untuk penyebab kebakaran, Pertamina menyimpulkan akibat sambaran petir atau induksi pada tangki G yang berdampak terjadinya segitiga api yaitu udara oksigen, vapor hydrocarbon, dan sambaran petir.

Berikut hasil investigasi keempat lembaga dari sisi penyebab kebocoran tangki:

1. B2TKS

Djoko menjelaskan, B2TKS melakukan investigasi terkait Integrity Shell Tanki 42-T-301 G. Tim ini menganalisis struktur plat tangki untuk mengetahui apakah ada keretakan atau korosi, namun hasilnya tangki G dalam kondisi yang baik.

Berdasarkan hasil pemeriksaan B2TKS, tangki akan mengalami kebocoran jika ketebalan dindingnya di bawah 1,5 milimeter, sedangkan hasil pengukuran menunjukkan tangki G memiliki ketebalan dinding 4,19 milimeter hingga 8,85 milimeter.

"Hasil investigasi menunjukkan kondisi internal dan eksternal tangki masih baik, tidak terbukti korosi sebagai penyebab kecoboran tangki," ujarnya.

2. LAPI ITB

LAPI ITB melakukan investigasi yang dilaksanakan oleh ahli petir terkait kontribusi potensi petir sebgai penyebab kebakaran tangki E,F,G, dan H di Kilang Balongan. Hasilnya, kebocoran terjadi akibat sambaran petir travelling yang mendegradasi dinding tangki G hingga terjadi penipisan.

"Ini seperti pengelasan, kalau pengelasan itu bisa melumerkan dengan arus sekitar 200 ampere, tapi tangki ini (akibat petir) besarnya arusnya 18.000 ampere. Jadi bisa dibayangkan panas yang terjadi bisa mendegragasi tangki," jelas Djoko.

Penipisan yang terjadi, lanjutnya, menyebabkan dinding tangki tidak dapat menahan tekanan mekanik dari BBM di dalam tangki, sehingga tangki menjadi sobek dan bocor.

3. Ditjen Migas

Investigasi oleh Kementerian ESDM dilakukan oleh Inspektur Ditjen Migas dan Anggota Tim Independen Pengendalian Keselamatan Migas (TIPKM). Hasilnya, kebocoroan disebabkan kegagalan dari las-lasan akibat korosi.

Adapun sample yang diambil Ditjen Migas yakni plat tangki pada 5 hari setelah kebakaran, sehingga mungkin saja sudah dalam kondisi teroksidasi karena terpapar udara.

4. DNV

Hasil investigasi DNV menyatakan, penyebab kebocoran karena korosi pada dinding bagian dalam tangki yang tidak terdeteksi saat inspeksi dilakukan sebelum dinding tangki mencapai kondisi kritis, yang diakibatkan pembebanan yang melebihi batas kemampuan saat itu.

Namun, sample yang diambil adalah sample plat tangki pasca kebakaran, sama halnya seperti yang dilakukan Ditjen Migas.

Selain penyebab kebocoran tangki, Pertamina juga merilis hasil investigasi lanjutan dari dua yang menyebabkan kebakaran di Kilang Balongan, yakni LAPI ITB dan Ditjen Migas.

Pada LAPI ITB, menyebutkan penyebab kebakaran tangki karena sambaran petir atau induksi yang menimbulkan segitiga api yaitu udara, vapor dari hidrokarbon, dan panas dari sambaran petir/induksi. Hal itu mengakibatkan tangki E,F,G,H terbakar.

Sementara Ditjen Migas menyebut, adanya unsur segitiga api yaitu dari udara, dari kebocoran HC dinding tangki, dan panas yang diduga dari Trafo area SS-24, telah menyulut kebakaran.

Meski demikian, terhadap hasil dugaan dari Ditjen Migas terkait panas dari trafo, Djoko membantahnya. Sebab saat kejadian berlangsung, trafo di area tersebut tidak dalam kondisi dialiri listrik, di mana circut breker terkunci dan tidak menimbulkan panas.

Menurutnya, segitiga api yang menjadi penyebab kebakaran tangki diakibatkan adanya induksi atau sambaran dari petir. Hal itu sebagaimana hasil investigasi LAPI ITB dan kesesuaian data yang didapat perseroan dari PLN.

"Data sambaran petir dari sistem yang dimiliki oleh PLN match dengan CCTV yang dimiliki di kilang," pungkas Djoko.

https://money.kompas.com/read/2021/09/29/170100726/hasil-investigasi-kebakaran-tangki-balongan-pertamina--diduga-tersambar-petir-

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.