Salin Artikel

Sri Mulyani Ungkap Negara Rentan Terdampak Tapering AS, RI Termasuk?

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengungkap beberapa negara di dunia akan sangat terpengaruh oleh tapering off bank sentral AS, The Fed.

Bendahara negara ini mengatakan, berbagai negara tersebut berada pada zona rentan, baik dari sisi utang publik, utang eksternal, hingga indeks harga konsumen.

Adapun pengukuran kerentanan menggunakan variabel ekonomi makro di 40 negara yang diolah menjadi vulnerability index. Makin besar angka vulnarability-nya, berarti makin rentan negara tersebut.

"Stance dari monetary policy Amerika Serikat dari sisi interest rate (suku bunga acuan) yang pasti akan mengalami adjustment dalam rangka menangani pressure inflasi. Dan ini akan memberikan dampak secara global terutama negara yang menghadapi vulnerabilitas makin tinggi," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kita, Selasa (21/12/2021).

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini menyebutkan, beberapa negara dengan indeks vulnerabilitas tinggi adalah Argentina, Turki, Sri Lanka, Mesir, Pakistan, India, Nigeria, Brazil, hingga negara tetangga Malaysia.

Di Argentina, jumlah utang publik mendapat skor vulnerability index sebesar 37, harga konsumen (consumer price) sebesar 40, dan utang eksternal sebesar 36.

Sementara itu, utang publik di Sri Lanka mendapat skor sebesar 39, utang eksternal sebesar 38, dan current account balance dengan skor 33.

Adapun di Mesir, utang publik pada skor 36, dan current account balance pada skor 36. Untuk Malaysia, utang eksternal mendapat skor 35, sedangkan utang publiknya mendapat skor 29.

"Negara G20 emerging seperti Brazil pun ada di dalam zona yang cukup vulnerable. Turki dari sisi current account balance kemudian dari sisi policy mengenai consumer price karena inflasi sangat tinggi saat ini, dan external debt-nya berada pada posisi merah," ucap Sri Mulyani.

Lantas bagaimana dengan Indonesia?

Wanita yang akrab disapa Ani ini menuturkan, Indonesia berada pada zona yang relatif aman. Utang publik Indonesia mendapat skor 12, utang eksternal dengan skor 22, harga konsumen mendapat skor 5, dan current account balance dengan skor 18.

Kendati demikian kata Ani, Indonesia harus tetap waspada karena situasi pada tahun 2022 akan sangat berubah-ubah, sebagai dampak kebijakan moneter negara-negara maju termasuk AS.

"Ini semua berasal dari adjustment policy yang harus dilakukan oleh negara maju dalam menghadapi pressure yang sangat tinggi dari inflasi dan labor shortage maupun disrupsi. Ini semua yang harus menjadi hal yang kita waspadai," beber dia.

Adapun saat ini, angka kasus Covid-19 varian Omicron di Indonesia cukup terkendali sehingga tidak mempengaruhi mobilitas. Beberapa aktivitas seperti aktivitas umum dan aktivitas belanja ke supermarket menunjukkan kenaikan.

Indikator konsumsi maupun produksi juga menunjukkan adanya pemulihan di kuartal IV. Indeks kepercayaan konsumen mengalami kenaikan pada level 118,5.

"Pada November ini dan berlanjut di Desember semua mengalami perbaikan, meski presiden dan kabinet selama ini terus memberikan warning dan kewaspadaan bagi kita semua," pungkas Sri Mulyani.

https://money.kompas.com/read/2021/12/22/114000526/sri-mulyani-ungkap-negara-rentan-terdampak-tapering-as-ri-termasuk-

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.