Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Rusia Serang Ukraina, Bagaimana Dampaknya ke Pasar Modal Indonesia?

Bagaimana sebenarnya dampak invasi Rusia ke Ukraina ke pasar modal Indonesia? Berikut pandangan dari sejumlah tiga sekuritas di Indonesia. 

Mirae Asset Sekuritas: cermati saham-saham komoditas

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji Gusta mengungkapkan, kondisi saat ini yang terjadi di global adalah konflik yang belum terselesaikan antara Rusia dan Ukraina. Ketegangan ini memuncak, usai Rusia kembali melakukan invasi ke perbatasan Ukraina.

“Para pelaku pasar menilai bahwa Rusia tengah menyiapkan invasi ke Ukraina. Meskipun dikecam oleh Dewan Keamanan PBB dan NATO, namun Rusia memiliki power dengan hak veto, jadi bisa saja Tiongkok membantu Rusia, karena kepentingan,” kata Nafan saat dihubungi Kompas.com, Kamis (24/2/2022). 

Nafan mengatakan, serangan unilateral tersebut juga menodong harga komoditas terapresiasi dan pasar cenderung mengamati pergerakan komoditas, ataupun juga pergerakan harga emas yang dikategorikan sebagai instrumen aman jika terjadi ketidakpastian global.

“IHSG negatif, saya pikir so far masih mencatatkan net buy asing untuk keseluruhan. Net buy ini terjadi karena para pelaku pasar masih mengapresiasi kinerja makroekonomi domestik yang cenderung solid,” tambah dia.

Di sisi lain, IHSG saat ini juga mengekor indeks Asia yang melemah saat ini dan bisa mendapatkan efek domino.

Beberapa saham yang patut dicermati investor di tengah terjadinya konflik Rusia–Ukraina ini adalah saham-saham berbasis komoditi.


UOB Kay Hian Sekuritas: harga komoditas pangan bisa naik, harga aset kripto terkoreksi turun

Menurut Equity And Financial Advisor sekaligus Direktur Utama PT UOB Kay Hian Sekuritas Agoes Halim, perang yang terjadi ini harus melihat komoditas yang digerakkan Rusia yang sebagian besar di minyak dan gas.

Negara ini juga selalu menyuplai komoditas tersebut ke Eropa, bahkan ekspor nikel dari Rusia cukup besar, di samping ekspor gandum, dan biji bunga matahari.

Agoes bilang, dengan kondisi ini, negara -negara Eropa bisa saja melakukan embargo atau sanksi terhadap Rusia.

“Jika mereka menerapkan itu, Otomatis pasokan globalnya akan berdampak. Sebenarnya kalau untuk Indonesia diuntungkan dari kenaikan harga komoditas, seperti yang pernah terjadi tahun 2007. Karena pada waktu itu Indonesia masih boleh ekspor bahan mentah,” ujar Agoes.

Agoes menilai, saat ini stok suplai nikel sudah berkurang karena perang Ukraina dengan Rusia. Maka, akan berdampak pada harga nikel menjulang tinggi, apalagi oil dan gas naik. Otomatis turunan komoditas seperti batubara juga pasti mengikuti, dan menyebabkan Inflansi di dunia.

“Kalau saya lihat dampak ke ekonomi Indonesia tidak ada ya, terlihat secara direct secara signifikan enggak ada. Hanya secara direct aja, yaitu Inflansi ekonomi Indonesia,” ujar Agoes.

Agoes mengungkapkan, berkaca pada peperangan sebelumnya, perkembangan perekonomian sebenarnya mengacu pada faktor Government standing. Jadi sebenarnya kuncinya adalah bagaimana negara kita mengontrol inflasi.

“Karena jika dilihat harga komoditas pangan sudah pada naik dan sudah mulai menunjukkan krisis karena kenaikan ini. Contohnya kacang kedelai, belum lagi yang dikhawatirkan jagung, sebab jagung merupakan bahan baku pakan ternak seperti unggas (ayam),” tambah dia.

Dengan naiknya inflasi, mau tidak mau maka pemerintah menaikan suku bunga, dan pasti banyak masyarakat yang beralih menggunakan investasi dollar AS, emas dan aset aman, meskipun ada investasi baru, seperti aset kripto.

“Kalau perang, pasti harga aset kripto akan terkoreksi turun. Pasti yang akan aman untuk investasi dan akan menguat seperti emas dan dollar AS, karena di dukung rencana The Fed menaikan suku bunga,” tegasnya.


Samuel Sekuritas: ketegangan Rusia-Ukraina berdampak temporer 

Senior Economist PT Samuel Sekuritas Indonesia Fikri C. Permana mengungkpakan, invasi Rusia dilakukan di dua daerah yang selama ini memang telah dikuasasi separatis pro-Rusia. Layaknya invasi Crimea di 2014, invasi kali ini juga berdampak lokal, antara Rusia-Ukraina saja.

“Kami menilai, hubungan ekonomi langsung Indonesia dengan Rusia dan Ukraina relatif kecil. Terlihat dari hubungan dagang (ekspor-impor) maupun nilai investasi Indonesia dengan Rusia dan Ukraina di 2021 lebih kecil dari 1 persen,” ujar Fikri.

Fikri menilai, fundamental ekonomi Indonesia cukup baik didorong pemulihan ekonomi yang diindikasikan dengan Indeks Kepercayaan Konsumen dan Penjualan Eceran di Januari yang mencapai level tertinggi sejak awal pandemi.

“Dengan demikian, kami juga menilai efek perang Rusia-Ukraina terhadap pasar modal Indonesia akan bersifat temporer, dan lebih menyebabkan perilaku berhati-hati di pasar,” tambah Fikri.

Menurut Fikri, invasi Rusia-Ukraina akan berdampak pada peningkatan harga komoditas yang harusnya berdampak positif bagi ekspor dan sektor komoditas dalam negeri karena adanya supply shock di global. Beberapa saham yang patut dicermati antara lain, ANTM, BBTN dan ASII.

https://money.kompas.com/read/2022/02/24/193532726/rusia-serang-ukraina-bagaimana-dampaknya-ke-pasar-modal-indonesia

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke