Salin Artikel

BPS: Imbas Larangan Ekspor CPO, Nilai Ekspor Mei Turun 21,29 Persen

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Setianto mengatakan, turunnya ekspor pada bulan Mei 2022 turut dipengaruhi oleh kebijakan restriksi ekspor minyak kelapa sawit pada 28 April - 23 Mei 2022.

Turunnya ekspor minyak kelapa sawit terlihat dari turunnya ekspor industri pengolahan sebesar -25,93 persen secara bulanan (month to month/mtm).

Bahkan penurunan pada sektor ini menjadi yang terbesar dibanding sektor lain, yakni industri pertanian dan industri pertambangan.

"Industri pengolahan -25,93 persen dengan komoditas minyak kelapa sawit, pakaian jadi atau konveksi dari tekstil. Minyak kelapa sawit seperti kita tahu, mengalami restriksi sehingga ekspor minyak kepala sawit menurun pada 2022," kata Setianto dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (15/6/2022).

Sementara itu, industri pertanian, kehutanan, dan perikanan -25,92 persen (mtm) didorong oleh penurunan ekspor komoditas sarang burung dan tanaman obat. Lalu, sektor pertambangan -12,92 persen (mtm) karena anjloknya ekspor bijih tembaga dan lignit.

Adapun sektor migas meningkat 4,38 persen (mtm) didorong oleh komoditas migas untuk minyak mentah dan gas.

BPS mencatat, 5 komoditas berdasarkan HS 2 digit yang menurun, yakni timah dan barang daripadanya; logam mulia dan perhiasan permata; bahan bakar mineral; bijih logam terak dan abu; serta lemak dan minyak hewan nabati.

"Penurunan ekspor terbesar yaitu lemak dan minyak hewan nabati( HS15). Menurun 2.149,5 juta dollar AS atau -71,79 persen. Negaranya adalah India, Pakistan, dan China," ucap Setianto.


Peningkatan ekspor terbesar Mei 2022

Kendati demikian kata Setianto, Indonesia masih mencatat peningkatan ekspor. Lima negara dengan peningkatan ekspor terbesar, yakni India, Bulgaria, Peru, Polandia, dan Maroko.

Dengan India, ekspor meningkat 149,5 juta dollar AS, ditopang oleh komoditas bahan bakar mineral dan pupuk. Sedangkan, 5 negara dengan penurunan ekspor paling tinggi, yaitu Malaysia, AS, Singapura, Jepang dan China.

"Penurunan ekspor non migas terbesar adalah ke China, turun 899 juta dollar AS pada komoditas bahan bakar mineral; serta lemak dan minyak hewan nabati," jelas Setianto.

Secara kumulatif, total ekspor Januari - Mei 2022 meningkat 36,34 persen (yoy) dari Rp 84,33 miliar dollar AS menjadi 114,97 miliar dollar AS. Ekspor non migas meningkat 36,36 persen dari 79,74 dollar AS menjadi 108,74 miliar dollar AS.

https://money.kompas.com/read/2022/06/15/133820326/bps-imbas-larangan-ekspor-cpo-nilai-ekspor-mei-turun-2129-persen

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.