Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Kenaikan Harga BBM Jadi Biang Kerok Inflasi Sentuh Level Tertinggi sejak Desember 2014

Lonjakan inflasi pada September kemarin utamanya disebabkan oleh kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Ini tercermin dari tingginya andil harga BBM terhadap angka inflasi secara bulanan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), komoditas bensin memberikan andil inflasi secara bulanan sebesar 0,89 persen. Kemudian, komoditas jenis solar memberikan andli sebesar 0,03 persen.

"Seperti yang kita ketahui bersama pada 3 September lalu pemerintah telah mengambil keputusan melakukan penyesuaian terhadap harga BBM yaitu Pertalite, Solar, dan Pertamax," ujar Kepala BPS, Margo Yuwono, dalam konferensi pers, Senin (3/10/2022).

Kenaikan harga BBM tersebut kemudian ditransmisikan ke komponen tarif berbagai jenis angkutan transportasi. Ini pun tercermin dari andil inflasi berbagai jenis tarif angkutan transportasi.

Tercatat tarif angkutan dalam kota memberikan andil inflasi secara bulanan sebesar 0,09 persen, tarif angkutan antar kota memberikan andil sebesar 0,03 persen, tarif kendaraan roda dua online memberikan andil 0,02 persen, dan tarif kendaraan roda empat online memberikan andil sebesar 0,01 persen.

Dengan kenaikan harga BBM dan tarif angkutan transportasi, secara keseluruhan komoditas kelompok transportasi memberikan andil inflasi secara bulanan sebesar 1,08 persen. Adapun besaran inflasi secara bulanan sektor transportasi mencapai 8,88 persen, jauh lebih tinggi dibanding 10 kelompok komoditas lainnya.

"Pendorong utamanya inflasi terjadi pada kelompok pengeluaran transportasi. Transportasi terjadi inflasi sebesar 8,88 persen dan memberikan andil kepada inflasi sebesar 1,08 persen," tutur Margo.

Diredam kelompok makanan

Seiring dengan lonjakan inflasi pada sektor transportasi, sektor makanan, minuman, dan tembakau mencatatkan deflasi sebesar sebesar 0,30 persen. Realisasi ini kemudian mampu sedikit meredam laju inflasi, dengan andil deflasi secara bulanan sebesar 0,08 persen.

Jika dilihat berdasarkan komoditasnya, komoditas bawang merah memberikan andil deflasi paling besar di kelompok makanan, minuman, dan tembakau, yakni 0,06 persen. Kemudian diikuti oleh cabai merah 0,05 persen, minyak goreng 0,03 persen, tomat 0,02 persen, cabai rawit 0,02 persen, dan ikan segar 0,01 persen.

"Beberapa produk holtikultura di beberapa sentra produksi mengalami panen raya sehingga supalainya cukup, sehingga terjadi deflasi," ucap Margo.

https://money.kompas.com/read/2022/10/03/140300626/kenaikan-harga-bbm-jadi-biang-kerok-inflasi-sentuh-level-tertinggi-sejak

Rekomendasi untuk anda
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+