Tuntaskan Pemetaan Penyebaran Virus Flu Burung pada Unggas

Kompas.com - 08/01/2009, 20:40 WIB
Editor

 

JAKARTA, KAMIS — Pemetaan penyebaran virus flu burung pada unggas di Indonesia harus segera dituntaskan. Selain untuk mendeteksi dini serangan virus itu pada unggas, surveilans tersebut bertujuan untuk memantau sejauh mana tingkat imunitas unggas terhadap virus flu burung.

Peneliti dari Tropical Disease Diagnostic Center (TDDC) Universitas Airlangga, drh CA Nidom, Kamis (8/1), saat dihubungi dari Jakarta, menyatakan, beragam jenis vaksin flu burung di Indonesia kurang efektif membentuk imunitas unggas terhadap virus flu burung. "Jadi, ayam yang diberi vaksin tidak mati meski sudah terserang virus flu burung, tetapi unggas tersebut menjadi pembawa virus. Ini sangat berbahaya karena bisa menularkan kepada manusia," ujarnya.

Untuk mendeteksi dini penyebaran virus tersebut, cara yang selama ini dilakukan tidak lagi efektif. Semula, pemerintah menetapkan suatu daerah endemik atau tidak berdasarkan temuan kasus penularan flu burung pada unggas. Temuan kasus itu bisa diketahui dari adanya unggas yang mati dan kemudian diperiksa di laboratorium.

"Surveilans dibutuhkan untuk mendeteksi dini perkembangan virus dari waktu ke waktu," kata Nidom menegaskan. Surveilans difokuskan pada hewan yang rentan terinfeksi flu burung, yaitu ayam, bebek, dan burung migrasi dengan menggunakan tes cepat atau uji laboratorium. Surveilans juga perlu dilakukan di pasar-pasar tradisional untuk mengetahui bagaimana kondisi lingkungannya.

Terkait dengan pengembangan vaksin flu burung untuk mencari yang paling sesuai untuk unggas, Nidom melihat hal itu kurang bermanfaat mengingat saat ini virus tersebut sudah menular kepada manusia. Sekarang harus dipilih mana yang jadi prioritas, apakah pertimbangan industri peternakan atau masalah kesehatan manusia. "Kalau tujuannya menyelamatkan jiwa manusia, maka vaksinasi pada unggas hanya memboroskan anggaran pemerintah," ujarnya.

Seharusnya yang lebih diprioritaskan adalah melakukan restrukturisasi peternakan, kata Nidom menambahkan. Hal ini dilakukan dengan menata kembali lalu-lintas perdagangan unggas antardaerah, menjaga kebersihan pasar-pasar unggas, melarang masuknya unggas hidup ke daerah permukiman, dan meninjau kembali kelayakan usaha peternakan unggas di suatu daerah yang padat penduduknya.                

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.