Industri Rambut Palsu Lakukan Efisiensi

Kompas.com - 24/02/2009, 03:37 WIB
Editor

PURBALINGGA,RABU-Krisis keuangan global mulai berdampak terhadap industri rambut palsu atau wig dan bulu mata palsu di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.

Hingga saat ini sebagian besar industri ini belum mendapat kontrak baru ekspor dari pembeli di luar negeri. Padahal, bulan Maret ini sebagian besar kontrak lama sudah berakhir. Mereka pun mulai berancang-ancang mengambil langkah efisiensi.

”Sekarang masa yang sangat prihatin bagi kami. Belum ada industri yang mendapat kontrak baru, padahal Maret ini kontrak sudah selesai,” kata Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Purbalingga Saryono, Senin (23/2) di Purbalingga.

Di Purbalingga terdapat 18 industri wig dan bulu mata palsu yang sebagian besar berstatus penanaman modal asing. Belasan industri tersebut mempekerjakan sekitar 25.000 karyawan. Selain itu, juga terdapat sekitar 250 industri yang sama untuk skala menengah, kecil, dan rumah tangga di daerah ini. Secara total, jumlah tenaga kerja yang diserap subsektor industri wig dan bulu mata palsu sebanyak 60.000 orang.

Menurut Saryono, kondisi yang paling memprihatinkan dialami oleh industri wig. Pasalnya, selain belum ada kontrak baru, permintaan pasar untuk produk ini terus menurun.

”Wig itu bukan produk habis pakai. Dalam kondisi krisis seperti sekarang, konsumen membatasi pembelian dan memanfaatkan wig yang lama. Berbeda dengan produk bulu mata yang habis pakai. Jadi, permintaan cenderung tetap,” papar dia.

AS tujuan utama ekspor

Bila tak ada kontrak baru dari pembeli di luar negeri, hal tersebut akan membuat industri wig dan bulu mata palsu di Purbalingga dalam kesulitan besar. Sebab, tujuan utama penjualan produk mereka selama ini adalah luar negeri, terutama Amerika Serikat.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Saryono mengatakan, sampai saat ini belum ada rencana pemutusan hubungan kerja besar- besaran di industri wig dan bulu mata palsu di Purbalingga ini. Namun, dia memastikan langkah efisiensi mau tidak mau tetap harus diambil untuk menyelamatkan perusahaan.

”Meskipun ada efisiensi, kami tetap berharap tak ada PHK atau merumahkan karyawan. Kami akan mencari jalan lain,” kata Saryono.

Cari peluang lain

Kepala Bagian Perekonomian Pemerintah Kabupaten Purbalingga Mukodam mengatakan, untuk mengatasi masalah pasar ekspor di tengah krisis finansial global saat ini, industri wig dan bulu mata palsu di Purbalingga harus dapat mencari peluang ekspor di kawasan lain selain Amerika Serikat. Selama ini, sebagian besar ekspor ditujukan ke Negeri Paman Sam yang kini mengalami dampak terparah akibat krisis.

”Pasar di kawasan lain, seperti Jepang, Korea Selatan, China, atau negara-negara Timur Tengah perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya,” ujarnya.(HAN)

 

 

 



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gandeng Swasta, Kemenhub Mulai Pengembangan Pelabuhan di Gorontalo Tahun Ini

Gandeng Swasta, Kemenhub Mulai Pengembangan Pelabuhan di Gorontalo Tahun Ini

Whats New
Cara Menambah Daya Listrik Berikut Rincian Biayanya

Cara Menambah Daya Listrik Berikut Rincian Biayanya

Whats New
Puncak BBI Berjalan Lancar, Telkom Hadirkan Beragam Dukungan Ekosistem Digital di Flobamora

Puncak BBI Berjalan Lancar, Telkom Hadirkan Beragam Dukungan Ekosistem Digital di Flobamora

Rilis
Riset NielsenIQ: Tingkat Konsumsi Naik, Tren Pemulihan di Tengah Pembatasan Sosial

Riset NielsenIQ: Tingkat Konsumsi Naik, Tren Pemulihan di Tengah Pembatasan Sosial

Whats New
Bank Dunia Rekomendasikan Indonesia Naikkan Tarif Cukai Rokok Untuk Dongkrak Pendapatan Negara

Bank Dunia Rekomendasikan Indonesia Naikkan Tarif Cukai Rokok Untuk Dongkrak Pendapatan Negara

Whats New
Ini Strategi Indonesia Hadapi Isu Transisi Dunia Pendidikan ke Dunia Kerja

Ini Strategi Indonesia Hadapi Isu Transisi Dunia Pendidikan ke Dunia Kerja

Rilis
Program Padat Karya Bidang Jalan dan Jembatan Serap 273.603 Tenaga Kerja

Program Padat Karya Bidang Jalan dan Jembatan Serap 273.603 Tenaga Kerja

Rilis
Tips Berbisnis Bagi Pemula Ala Bos Grab Indonesia

Tips Berbisnis Bagi Pemula Ala Bos Grab Indonesia

Whats New
Prudential Kukuhkan 40 Calon Pengusaha yang Ikut Program Kewirausahaan

Prudential Kukuhkan 40 Calon Pengusaha yang Ikut Program Kewirausahaan

Rilis
 Mata Uang Kripto adalah Uang Digital, Begini Cara Kerjanya

Mata Uang Kripto adalah Uang Digital, Begini Cara Kerjanya

Whats New
Hati-hati, Ini Konflik Pembagian Harta Warisan yang Rawan Terjadi

Hati-hati, Ini Konflik Pembagian Harta Warisan yang Rawan Terjadi

Whats New
Indonesia Jadi Anggota Dewan FAO, Guru Besar IPB: Bisa Bantu Perbaikan Data Pertanian

Indonesia Jadi Anggota Dewan FAO, Guru Besar IPB: Bisa Bantu Perbaikan Data Pertanian

Rilis
Demi Mobil Listrik, Luhut Resmikan Smelter Nikel Senilai Rp 14 Triliun di Pulau Obi

Demi Mobil Listrik, Luhut Resmikan Smelter Nikel Senilai Rp 14 Triliun di Pulau Obi

Whats New
Kasus Covid Melonjak, Konvensi Luar Biasa Kadin Tak Mendapat Izin

Kasus Covid Melonjak, Konvensi Luar Biasa Kadin Tak Mendapat Izin

Whats New
Usia Perusahaan Masih Muda, DANA Belum Mau IPO

Usia Perusahaan Masih Muda, DANA Belum Mau IPO

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X