Penting, Perdagangan Langsung Indonesia-Myanmar

Kompas.com - 17/03/2009, 05:30 WIB
Editor

JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia dan Myanmar sepakat membangun sistem perdagangan langsung untuk mendorong kerja sama ekonomi antara kedua negara itu.
    
Wakil Duta Besar Indonesia untuk Myanmar Gopokson Situmorang
mengatakan pihaknya telah melakukan pendekatan dengan Bank Sentral Myanmar dan maskapai penerbangannya untuk menjajaki pembangunan sistem perbankan dan penerbangan langsung dengan Indonesia. "Kita sedang menjajaki agar ada direct banking dan direct transport antara Indonesia dan Myanmar," kata Gopokson usai menghadiri pertemuan Kadin dengan delegasi Myanmar, di Jakarta, Senin (16/3).
    
Selama ini, perdagangan antara kedua negara dilakukan melalui Singapura. "Pengiriman barangnya juga lewat Singapura, padahal kalau bisa langsung dari Sabang misalnya akan lebih dekat dan biayanya lebih murah," ujarnya.
    
Ia berharap Bank Sentral Myanmar dapat menghubungkan perbankan
Indonesia dengan Myanmar Economic Bank (MEB), Myanmar Foreign Trade Bank (MFTB) dan Myanmar Investment and Commercial Bank (MICB) yang melayani transaksi ekspor dan impor.
    
"MFTB dengan BNI misalnya, kita sedang penjajakan, kalau bisa langsung itu tanpa harus bayar komisi. Dengan sistem sekarang, barang kita lebih mahal," tuturnya.
    
Ketua Kadin Komite Kamboja, Laos, Myanmar dan Vietnam, Juan Gondokusumo mengatakan, kendala utama dalam melakukan hubungan dagang dengan Myanmar adalah sistem pembayaran yang tidak langsung. "Mereka tidak menggunakan dollar AS sehingga menjadi penghambat (transaksi). Untuk membuka L/C (Letter of Credit) juga harus melalui pihak ketiga, Singapura," ujarnya.
    
Ia berharap pemerintah segera mencari jalan untuk memfasilitasi hubungan perdagangan dan ekonomi kedua negara. Sementara itu, Kadin Indonesia dan Myanmar sedang menyiapkan rancangan nota kesepahaman untuk memperbaiki hubungan kedua negara dalam bidang ekonomi. "Kita akan  membuat MoU bersama mengenai masalah apa saja yang akan diperbaiki," tambah Juan.
    
Pada kesempatan itu, Deputi Dirjen Departemen Perdagangan Myanmar Myo Oo mengakui masalah perbankan masih menjadi penghambat dalam hubungan dagang dua negara.
    
"Karena sanksi AS kami tidak bisa bertransaksi dengan dollar, jadi kami menggunakan euro atau mata uang lainnya seperti dollar Singapura. Kami ingin coba berdagang dengan euro seperti yang sudah kami lakukan dengan negara lain," kata Oo.
    
Menurut dia, Indonesia masih merupakan 10 besar mitra dagang Myanmar setelah Thailand, India, China, Jepang, Singapura, Korea Selatan, dan Malaysia.
    
Oleh karena itu, pihaknya sepakat bekerja sama dengan Indonesia untuk mendorong pertumbuhan volume perdagangan kedua negara. "Tapi kita masih mencari sektor yang tepat untuk dikembangkan, apakah agrikultur, apakah Indonesia butuh impor beras," tuturnya.
    
Selama ini, Indonesia banyak mengimpor kacang hijau dan bawang namun melalui Malaysia. OO berharap ekspor dan impor dengan Indonesia dapat dilakukan langsung. "Ekspor utama Myanmar ke Indonesia berupa kacang-kacangan, sekitar 20.000 ton per tahun kacang hijau untuk dibuat taoge. Sekarang kami ingin mendorong ekspornya termasuk bawang yang diekspor lewat malaysia jadi kami ingin berhubungan langsung dengan pembeli Indonesia," tambahnya.
    
Total nilai perdagangan kedua negara pada 2007 tercatat sebesar 292,8 juta dollar AS, meningkat 86 persen dibanding 2006 yang sebesar 157,4 juta dollar AS. Selama Januari-November 2008 nilai perdagangan kedua negara mencapai 269,6 juta dollar AS.
    
Indonesia selalu menikmati surplus perdagangan dengan Myanmar. Ekspor Indonesia pada 2007 ke Myanmar sebesar 262,4 juta dollar AS sedangkan impor dari Myanmar tercatat sebesar 30,4 juta dollar AS. Ekspor Indonesia ke Myanmar antara lain berupa migas, minyak sawit, rokok, sarung, dan produk jamu. Sedangkan ekspor Myanmar ke Indonesia berupa kacang-kacangan, bawang, kedelai, dan produk perikanan.

 

 



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X