Siapa Menyusul Parahyangan?

Kompas.com - 26/04/2010, 15:44 WIB
Editormbonk

KOMPAS.com — Kereta Api Parahyangan yang menghubungkan Jakarta-Bandung dan sebaliknya telah beroperasi sejak 31 Juli 1971. Memasuki usia operasionalnya yang ke-39 tahun, KA andalan itu akan "dipensiunkan". Alasan PT Kereta Api, bukan keuntungan yang ditangguk, melainkan kerugian puluhan miliar untuk tetap memaksakannya hidup.

Mulai "kembang kempisnya" napas Parahyangan bermula sejak dibukanya akses Tol Cipularang yang menghubungkan Jakarta-Bandung. Dengan waktu tempuh yang lebih cepat dibandingkan kereta api, banyak para penumpang Parahyangan beralih menggunakan kendaraan pribadi atau travel.

Tercatat, beberapa kali PT KA melakukan upaya untuk kembali menarik para penumpang dengan cara "banting harga". Sejak Maret 2008, misalnya, diterapkan kebijakan penurunan tarif hingga 59 persen. Untuk tiket KA Parahyangan kelas eksekutif turun dari Rp 50.000 menjadi Rp 35.000, kelas bisnis dewasa dari Rp 30.000 menjadi Rp 20.000, dan kelas bisnis anak dari Rp 24.000 menjadi Rp 16.000.

Namun, upaya ini nyatanya tak juga membawa dampak peningkatan grafis penumpang Parahyangan. Hingga akhirnya, PT KA mengambil keputusan untuk menghapus operasional KA ini. Dikatakan, kerugian yang diderita dengan tetap memaksakan operasionalisasinya mencapai Rp 36 miliar.

Pengamat perkeretaapian, Taufik Hidayat, bahkan menyebutkan, kerugian PT KA jauh lebih besar dari angka itu. "Kerugian yang dialami itu bukan Rp 36 miliar seperti yang disebutkan. Tetapi mencapai Rp 46 miliar setahun. Bayangkan, kalau rugi Rp 46 miliar, siapa yang mau mengurus. Kalau dipaksakan beroperasi, akan berimbas pada memburuknya pelayanan karena kurangnya biaya perawatan dan konsentrasi pelayanan juga menurun. Siapa yang mau mengurusi barang rugi?" kata Taufik kepada Kompas.com, Senin (26/4/2010).

Oleh karena itu, ia sepakat dengan kebijakan PT KA yang menutup operasional KA legendaris itu. Menurut Taufik, PT KA harus mulai membuka mata bahwa era monopoli sudah berakhir. Kondisi "hidup segan mati tak mau" dari KA jarak menengah setidaknya sudah terbaca sejak tahun 2000.

Kala itu, maskapai penerbangan mulai gencar menjual tiket promo dengan harga yang hanya selisih sedikit dengan harga tiket kereta api. Namun, kondisi ini terlambat dibaca oleh PT KA. "Sejak tahun 2000-an, dari sisi angka, harga tiket KA untuk perjalanan jarak jauh bersaing dengan udara. Kemudian, disikapi dengan menurunkan tarif. Tapi toh, penumpang tetap rendah. Untuk KA jarak menengah seperti Parahyangan juga akhirnya bersaing dengan jalan tol. Kenapa? Karena yang dibeli masyarakat adalah waktu tempuh dan ketepatan waktu," papar Taufik.

KA Parahyangan, dinilainya, sudah tertinggal jauh dalam iklim persaingan. Berbagai persoalan seperti keterlambatan dan faktor teknis seperti anjlok menyebabkan KA ini semakin ditinggalkan. Tak hanya Parahyangan, Taufik juga mengingatkan, banyak kereta api lainnya baik untuk jarak jauh maupun menengah yang kondisinya sama dengan Parahyangan. PT KA harus segera melakukan pembenahan jika tak ingin mematikan operasional sejumlah perjalanan kereta api.

"Memaksakan tetap beroperasi memang tidak akan menguntungkan. Kalau dipaksakan, bukan hanya Parahyangan, tetapi kereta lainnya sebenarnya kondisi juga sama. Jadi, hanya tinggal menunggu giliran," kata Taufik. PT KA memutuskan untuk menutup operasional KA Parahyangan mulai tanggal 27 April besok. Perjalanan KA Parahyangan pukul 16.15 dari Stasiun Gambir akan menjadi perjalanan terakhirnya.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X