Kereta Api Parahyangan "Dimatikan"

Kompas.com - 29/04/2010, 08:09 WIB
EditorEdj

OLEH HARYO DAMARDONO

Kereta Api Parahyangan sudah selesai. Tamat riwayatnya pada pekan ini. Menjelang ajalnya, pencinta kereta ramai-ramai naik dari Bandung ke Jakarta. Namun, jangan terjebak pada ”romantika” belaka karena sekarang saat terbaik untuk berefleksi. Ada apa dengan kereta api dan transportasi massal?

Salah satu alasan terkuat penutupan layanan kereta itu adalah KA Parahyangan merugi. KA Parahyangan merugi Rp 36 miliar per tahun.

Di tengah resistensi terhadap penutupan Parahyangan, Taufik Hidayat dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) justru berani ”melawan arus”.

Menurut Taufik, ”Tutup kalau merugi. Pikirkan juga sisi komersial kereta api yang harus dijaga untuk keberlangsungan kereta api.”

Taufik menjelaskan, bila keuangan Parahyangan yang ”merah” atau bahkan ”merah membara” dibiarkan, hal itu malah mengancam keseluruhan hidup PT Kereta Api (PT KA). Alhasil, mempertahankan Parahyangan hanya memperkeruh kondisi dan masa depan perkeretaapian kita.

Memang terkesan PT Kereta Api hanya menimbang sisi bisnis saat menutup Parahyangan. Namun, ingat, pergeseran PT KA dari pelayan publik ke perusahaan profit merupakan kehendak pemerintah, yang mengubah menjadi perusahaan perseroan.

Jika pemerintah serius menangani perkeretaapian, mengapa tidak membentuk Kementerian Perkeretaapian. Toh, India dan China, dengan menteri kereta apinya, berhasil membangun puluhan ribu kilometer jalur rel. Tanpa liberalisasi perkeretaapian, dua negara itu pun berhasil.

Pemicu awal kematian KA Parahyangan adalah beroperasinya Jalan Tol Cikampek-Padalarang penghubung Jakarta dan Bandung tahun 2005. Melalui jalan tol, waktu tempuh dua kota itu (180 kilometer) terpangkas dari 4-5 jam menjadi 2-2,5 jam.

Kalah kompetisi

Daya saing KA Parahyangan, yang menembus Jakarta-Bandung dalam tiga jam, pun melemah. Parahyangan makin ”terpukul” saat Kementerian Perhubungan mengizinkan lebih banyak travel, tidak lagi hanya travel ”4848”.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Hadapi Tuduhan Ekspor Benur, Keponakan Prabowo Tunjuk Hotman Paris

Hadapi Tuduhan Ekspor Benur, Keponakan Prabowo Tunjuk Hotman Paris

Whats New
Kemenperin Fasilitasi United Bike Serap Komponen Produk IKM

Kemenperin Fasilitasi United Bike Serap Komponen Produk IKM

Whats New
Terhantam Corona, Produsen Masker N95 Ini PHK 2.900 Pekerja

Terhantam Corona, Produsen Masker N95 Ini PHK 2.900 Pekerja

Whats New
Harga Batu Bara Acuan Desember Naik Jadi 59,65 Dollar AS per Ton, Ini Penyebabnya

Harga Batu Bara Acuan Desember Naik Jadi 59,65 Dollar AS per Ton, Ini Penyebabnya

Whats New
Ekonom: Holding BUMN Pembiayaan Mikro Beri Beberapa Keuntungan

Ekonom: Holding BUMN Pembiayaan Mikro Beri Beberapa Keuntungan

Whats New
Bagaimana Cara Mendaftarkan Hak Merek untuk UMKM?

Bagaimana Cara Mendaftarkan Hak Merek untuk UMKM?

Whats New
[POPULER MONEY] Cara Klaim Token Listrik Gratis | UMKM Menjadi Badan Usaha

[POPULER MONEY] Cara Klaim Token Listrik Gratis | UMKM Menjadi Badan Usaha

Whats New
Luhut dan Erick Bujuk Jepang untuk Suntik Dana di Lembaga Pengelola Investasi RI

Luhut dan Erick Bujuk Jepang untuk Suntik Dana di Lembaga Pengelola Investasi RI

Whats New
Kompasianival 2020: Tepatkah Memulai Usaha dalam Kondisi Saat Ini?

Kompasianival 2020: Tepatkah Memulai Usaha dalam Kondisi Saat Ini?

Rilis
BCA Dorong Metode Pembelajaran Virtual yang Kreatif di Indonesia Timur

BCA Dorong Metode Pembelajaran Virtual yang Kreatif di Indonesia Timur

Whats New
Menaker: Perusahaan Harus Beri Ruang kepada Penyandang Disabilitas

Menaker: Perusahaan Harus Beri Ruang kepada Penyandang Disabilitas

Whats New
Kemendag Sebut India Bisa Kembali Bergabung dalam RCEP

Kemendag Sebut India Bisa Kembali Bergabung dalam RCEP

Whats New
Pelaku Industri Minta Kebijakan Zero ODOL Diterapkan pada 2025

Pelaku Industri Minta Kebijakan Zero ODOL Diterapkan pada 2025

Whats New
Minta UMKM Percepat Adopsi Digital, Menteri Teten: Jangan Sampai Pasar Kita Diambil Luar

Minta UMKM Percepat Adopsi Digital, Menteri Teten: Jangan Sampai Pasar Kita Diambil Luar

Whats New
Jelang Pengoperasian, Pelabuhan Patimban Uji Coba Kirim 22 Mobil ke Belawan

Jelang Pengoperasian, Pelabuhan Patimban Uji Coba Kirim 22 Mobil ke Belawan

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X