Ketika Perempuan Berinvestasi Tiada Henti Buat Anak

Kompas.com - 24/11/2010, 08:15 WIB
EditorErlangga Djumena

Oleh Hermawan Kartajaya (Founder & CEO, MarkPlus, Inc)
bersama Nastiti Tri Winasis (Chief Operations, MarkPlus Insight)

KOMPAS.com - Mitos kecantikan mengatakan bahwa perempuan akan terlihat cantik apabila berkulit terang, berambut ikal bak mayang mengurai, berhidung mancung, pipi berisi bak pauh dilayang, berbibir tipis dan seksi, mata bulat bersinar, alis bak semut beriring, tubuh seperti gitar Spanyol, dan sebagainya. Untuk tampil cantik, perempuan melakukan banyak cara, mulai dari perawatan tubuh dan muka, hingga olahraga dan meditasi.

Tren tampil cantik telah merambah perempuan Indonesia berbagai segmen. Dari sekian banyak perawatan kecantikan, suntik vitamin C telah dikenal sebagai salah satu alternatif instan untuk mendapatkan penampilan yang prima. Namun demikian, sebagian perempuan enggan melakukannya. Pasalnya, suntik vitamin C menurut beberapa perempuan berdampak negatif bagi rahimnya. “Aku ngga mau mengorbankan mahkota berhargaku menjadi kering jika aku suntik vitamin C,” kata salah seorang perempuan yang dikenal sebagai bintang sinetron."Sama dokter kulit, aku enggak boleh suntik Vitamin C. Katanya, bisa buat rahim kering, jadi takut mandul. Itu kan bahaya banget, apalagi aku perempuan," imbuhnya. Mengapa infertilitas menjadi momok bagi perempuan menikah? Apa makna keberadaan anak bagi mereka?

Hasil riset MarkPlus Insight pada pertengahan 2010 terhadap 1.300 perempuan Indonesia menunjukkan bahwa makna keluarga sebagian didefinisikan oleh perempuan sebagai a life that consists of father, mother and children. Sebanyak 10,5 persen atau sekitar 140-an responden menganggap masalah keluarga menjadi salah satu kekhawatiran mereka selama ini. Dari jumlah tersebut, sebanyak 14,4 persen di antaranya menganggap bahwa masalah ”tidak memiliki anak selama kehidupan perkawinan” merupakan salah satu hal yang menimbulkan kecemasan bagi mereka.

Kasus di Indonesia tersebut bisa jadi berbalikan dengan kasus yang terjadi di Jepang, di mana kelangkaan bayi di Jepang membuat negara tersebut menghadapi masalah berat berupa pembayaran gaji lebih banyak dan membumbungnya beban pembayaran untuk tunjangan kesehatan serta tanggungan pensiun. ”Memiliki anak itu bukan kewajiban, melainkan mesti dipandang sebagai pilihan yang menyenangkan,” kata salah seorang menteri di Jepang yang bertugas mengurusi masalah semakin berkurangnya angka kelahiran di Jepang. Benarkah memiliki anak itu suatu pilihan?

Kultur ke-Timuran memaknai kebahagiaan pasangan suami istri dengan kehadiran anak sebagai pelengkap. Alangkah bangga dan bahagianya apabila seorang perempuan yang sudah menikah bisa hamil dan melahirkan anak. Bangga terhadap diri sendiri karena sudah layak disebut ibu, dan bangga juga bisa memberikan keturunan untuk sang suami.

Ketika seorang laki-laki dan perempuan memutuskan untuk berumah tangga, salah satu tujuan yang ada di dalam pikiran mereka adalah untuk segera memiliki anak. Walaupun ada sebagian dari rumah tangga yang menunda untuk segera memiliki anak. Namun, lambat laun, mereka juga akan mempunyai keinginan untuk memiliki anak.

Pentingnya kehadiran anak bagi perempuan bahkan sudah tercermin dalam pemikiran perempuan sejak sebelum menikah. “Nyokap gue baru hamil gue setelah empat tahun nikah. Tante gue juga ampe sekarang belom punya anak. Gue malu kalo ga bisa ngasih keturunan buat suami gue entar. Gue takut. Gue pengen punya anak. Gue suka anak kecil,” demikian tutur salah seorang perempuan, mahasiswi-single.

Apa yang membuat perempuan menikah khawatir jika tidak mempunyai anak? “Takut ditinggal suami, dicela mertua, diasingkan, malu, dipandang rendah dan dianggap tidak berguna,” itulah beberapa jawaban yang mewakili kekhawatiran mereka.

Meski hampir bisa dipastikan mayoritas pasangan yang telah menikah akan mendambakan kehadiran anak sebagai penerus generasinya, tetapi tidak semua pasangan bisa mendapatkan momongan dengan cepat. Ada yang beberapa bulan menikah sudah hamil, tetapi ada juga yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bisa hamil. Banyak faktor yang memengaruhi kapan seseorang bisa hamil, mulai dari faktor psikologis ,seperti stres atau banyak pikiran dan juga faktor fisik, seperti pola makan yang tidak sehat atau kurangnya olahraga.

Dalam keadaan normal dan tanpa menggunakan kontrasepsi, kehamilan terjadi pada 60 persen pasangan suami istri dalam waktu enam bulan, pada 80 persen pasangan dalam waktu sembilan bulan dan pada sekitar 90 persen pasangan suami istri dalam waktu satu tahun.

Ada data kesehatan reproduksi dari Departemen Kesehatan RI yang mengatakan pola yang terjadi selama bertahun-tahun di Indonesia adalah bahwa lebih kurang 10 persen pasangan suami isteri (pasutri) pernah mengalami problem infertilitas semasa usia reproduksinya. Diperkirakan setiap tahun bertambah dua juta pasangan infertil. Data yang ada juga menunjukkan bahwa 40 persen-45 persen penyebab infertilitas berasal dari pihak suami/pria, 45 persen–50 persen dari pihak isteri/wanita, sedang 5 persen-10 persen tidak dapat dipastikan penyebabnya.

Sebagai pihak yang praktis selalu ‘dipermasalahkan’ dalam hal reproduksi, perempuan telah menyikapinya dengan berbagai cara. Ukuran kebahagian bagi perempuan sangat relatif, apalagi dikaitkan dengan perkawinan. Jika kehadiran anak menjadi ukuran umum kebahagiaan pasangan suami istri, maka bagi mereka yang tidak dikaruniai anak bisa mencurahkan waktunya lebih banyak untuk kegiatan yang produktif.

Meskipun kebahagiaan bersifat relatif, kebanyakan perempuan merasa ingin mencapainya dengan cara apa pun. Jika dicermati lebih jauh, kebahagiaan adalah ilusi, di mana ia berada pada salah satu ujung dan ujung lainnya adalah kesedihan. Banyak orang yang berpikir bahwa mempunyai anak setelah menikah adalah kebahagiaan. Bagi kelompok ini, tidak memiliki anak merupakan sesuatu yang mencemaskan. Padahal, menargetkan kebahagiaan mungkin tidak akan pernah berhasil karena memang tidak ada batasnya. Apakah mempunyai anak adalah sesuatu yang membahagiakan? “Menggembirakan” sangat mungkin, tetapi “membahagiakan”, belum tentu juga.


-------------------
Artikel ini ditulis berdasarkan analisis hasil riset sindikasi terhadap hampir 1.300 responden perempuan di delapan kota besar di Indonesia, SES A-D, Usia 16-50 tahun, yang dilakukan bulan Mei - Juni 2010 oleh MarkPlus Insight berkerjasama dengan Komunitas Marketeers.

Tulisan 30 dari 100 dalam rangka MarkPlus Conference 2011 “Grow With the Next Marketing” Jakarta, 16 Desember 2010, yang juga didukung oleh Kompas.com dan www.the-marketeers.com

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.