Pengusaha Bioskop Minta Kejelasan Nasib

Kompas.com - 08/03/2011, 09:08 WIB
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com — Pascakebijakan bea cukai Indonesia yang memberlakukan bea masuk atas hak distribusi film impor terhadap pihak Motion Picture Association (MPA) dan Ikatan Perusahaan Film Impor Indonesia (Ikapifi) membuat para pengusaha bioskop harus meminta pemerintah memperjelas nasib dari kebijakan tersebut.

David Hilman, CEO Blitz Megaplex, berujar, perusahaannya telah mengalami penurunan omzet yang signifikan. "Memang belum jelas pastinya berapa persen, tapi ini sudah dilihat dari menurunnya penonton. Omzet kita, kan, berkaitan erat dengan penonton," ujarnya.

David mengaku, semenjak importir film mencabut film asing di Indonesia terhitung sejak 17 Februari 2011, nasib perusahaannya jadi tidak terprediksi.

Selama ini, dampak dari kebijakan tersebut diprediksi, bioskop 21 Cineplex dengan sekitar 500 layarnya, sebagai pihak yang diberi hak untuk menayangkan film impor, akan kehilangan pasokan ratusan judul film setiap tahun. Sementara film nasional selama ini baru mampu berproduksi 50-60 judul per tahun.

Untuk mengantisipasinya, pihak Blitz Megaplex hanya mengandalkan stok film yang ada seperti film Korea dan Asia. "Sedangkan untuk film Indonesia, itu tergantung kualitas, kalau bagus, biasanya banyak," katanya. (Mia Winarti/Kontan)



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X