Jumlah Toko di RI Terbesar Kedua Dunia

Kompas.com - 15/03/2011, 12:33 WIB
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com —Sekalipun mengalami penurunan jumlah toko yang menjual barang-barang konsumen sebesar 1,3 persen dari tahun lalu, jumlah toko di Indonesia merupakan terbesar kedua di dunia setelah India. "Jumlah toko (tradisional dan modern) di Indonesia mencapai 2,5 juta toko," jelas Nielsen Executive Director Retail Measurement Services Teguh Yunanto di Jakarta, Selasa (15/3/2011).

Untuk penyebaran toko, paling banyak di Pulau Jawa dengan 57 persen, dan Sumatera dengan 22 persen, sisanya 21 persen ada di pulau lain. Namun, Teguh menjelaskan, ritel lebih tumbuh di pinggiran kota, mengingat lokasi permukiman banyak di daerah tersebut. Daerah inilah yang menjadi target dari ritel modern jenis minimarket.

Ritel modern tumbuh 38 persen dengan 18.152 toko di Indonesia, dibandingkan tahun 2009. Dari jumlah tersebut, sekitar 16.000 toko merupakan minimarket. Namun format ritel modern lainnya, seperti supermarket justru turun 6 persen, sedangkan hypermarket tumbuh 23 persen dengan 154 toko.

Dengan menjamurnya minimarket, Teguh menyebutkan, perlunya diferensiasi dalam bertahan dalam persaingan. "Karena diferensiasi, saya nggak harus mengeluarkan bensin dengan jalan ke minimarket, kenapa saya harus ngeluarin uang (dengan pergi ke supermarket atau hypermarket)," jelas Teguh.

Mengenai diferensiasi, Nielsen mencatat dua toko khusus yang tumbuh, yaitu toko kosmetik dan semi-retailer, pada 2010. "Kalau kita lihat pola belanja barang kebutuhan sehari-hari, susah untuk bertahan, tapi kalau kosmetik, itu unik. Seperti toko sepeda banyak sekali. Jadi diferensiasi sama pelayanan semakin penting," jelasnya.

Tahun lalu, jumlah toko kosmetik tumbuh lebih besar dibanding semi-retailer (5 persen) dengan 17 persen. "Toko kosmetik biasanya ada di pasar atau jalan utama, sedangkan semi-retailer itu tidak hanya untuk konsumen akhir, tetapi juga pengecer lain," sebutnya.

Kontribusi semi retailer ini signifikan dalam penjualan barang kebutuhan sehari-hari. "Mereka nahan belanja kebutuhan sehari,bukan karena nggak ada uang, tapi lebih memperhatikan lifetsyle. Jadi untuk barang tersebut mereka kurangi uangnya," jelas Teguh.

Ia menyebutkan bahwa diferensiasi toko untuk menyediakan produk-produk khusus cenderung diminati, dan ini yang akan membedakan toko di antara pesaingnya.



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X