ASEAN-China Menguat

Kompas.com - 13/08/2011, 03:27 WIB
Editor

Manado, Kompas - Perdagangan ASEAN ke China selama lima tahun terakhir terus menguat. Tahun 2010, posisi China bahkan mengalahkan Jepang sebagai peringkat pertama mitra dagang ASEAN. Sayangnya, neraca perdagangan ASEAN ke China masih defisit.

Tahun 2010, nilai perdagangan negara anggota Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN) ke China tercatat 231 miliar dollar AS atau sekitar Rp 1.970 triliun. Rinciannya, ekspor sebesar 113,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 968,382 triliun (naik 39,1 persen dari tahun 2009) dan impor 117 miliar dollar AS atau sekitar Rp 998,244 triliun (naik 21,8 persen dari tahun 2009).

”Ke depan, dengan melihat tren perekonomian Asia yang masih positif, perdagangan ASEAN ke China diprediksi terus menguat. Pada semester I, tren tersebut masih berlanjut,” kata Wakil Menteri Perdagangan Mahendra Siregar, seusai menggelar pertemuan bilateral ASEAN- China, di Manado, Sulawesi Utara, Jumat (12/8).

Tahun 2008, posisi China masih di peringkat ketiga mitra dagang ASEAN. Peringkat pertama diduduki Jepang. Tahun 2010, Jepang di peringkat kedua. ”Untuk menjaga kondisi supaya win-win (saling menguntungkan) antara ASEAN dengan negara mitra, netralitas ASEAN harus dipertahankan,” katanya.

Terkait dengan ketimpangan perdagangan antara negara anggota ASEAN dan China, dalam pertemuan bilateral tersebut Menteri Perdagangan China Chen Deming berjanji akan memfasilitasi akses bagi para eksportir ASEAN, khususnya usaha kecil menengah. Dengan fasilitas tersebut diharapkan neraca perdagangan seimbang.

Perdagangan bebas ASEAN- China telah memotong tarif barang dari ASEAN ke China 0,1 persen dari posisi awal 9,8 persen. Sampai sekarang, kebijakan itu sudah dijalankan enam negara anggota ASEAN, yakni Brunei, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. Pada 2015, kebijakan ini akan diperluas ke negara ASEAN lainnya, yakni Kamboja, Laos, Myanmar, dan Vietnam.

Dalam pertemuan tersebut, Chen juga berkomitmen menggelontorkan pinjaman lunak, khususnya untuk proyek-proyek infrastruktur. Beberapa proyek yang dibiayai China adalah proyek di kawasan Sungai Mekong.

”Tawaran tersebut menjadi kesempatan bagi ASEAN untuk memaksimalkan pembangunan infrastruktur,” kata Mahendra.

Hindari mata uang ketiga

Terkait dengan penggunaan mata uang, negara-negara ASEAN dan China berusaha mengurangi penggunaan mata uang ketiga. Tujuannya untuk mengurangi dampak gejolak mata uang. Penerapan penggunaan mata uang lokal masih butuh proses panjang karena bank sentral dari tiap negara harus melakukan bilateral swap agreement.

”China memang menawarkan penggunaan yuan sebagai alat pembayaran mereka, tetapi untuk sementara, kami serahkan kepada eksportir langsung. Terserah eksportir mau ambil yuan atau tidak,” papar Mahendra.

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan, saat ini di China muncul keinginan dari para pelaku usaha untuk memindahkan investasinya keluar, misalnya ke Indonesia. (ENY)



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X