Mendag: WTO Sepakat Tentang Diskriminasi Kretek

Kompas.com - 05/09/2011, 20:04 WIB
EditorLaksono Hari W

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan telah menerima hasil keputusan Organisasi Perdagangan Dunia atau WTO mengenai larangan produksi dan penjualan rokok kretek di Amerika Serikat. Hasilnya, WTO sepakat larangan tersebut bersifat diskriminasi.

 

"Kami memang baru mendapat hasilnya per 2 September 2011 (dari WTO). Kami merasa ada hal yang kami peroleh bahwa panel tetap memutuskan bahwa Amerika Serikat melakukan hal yang discriminatory. Itu prinsip," kata Mari di sela-sela laporan terkait ekspor-impor di Jakarta, Senin (5/9/2011).

"Kalau kita pegang aturan mainnya WTO, panel di WTO sepakat dengan pendapat Indonesia yang menyatakan bahwa pelarangan penjualan rokok kretek di Amerika Serikat, sementara rokok produksi AS yaitu menthol tidak dilarang, merupakan diskriminasi perdagangan. Panel memutuskan bahwa ada diskriminasi," ujarnya.

 

Meski demikian, kata Mari, WTO tidak serta-merta mengharuskan AS mencabut larangan tersebut. "Karena ini kaitannya lebih kepada pembuktian apakah rokok itu yang flavour, seperti kretek dan menthol, itu menyebabkan anak-anak di bawah umur itu kemungkinan merokok," katanya.

 

Untuk itu, pemerintah Indonesia akan mempelajari kembali bukti ilmiah atas permasalahan tersebut. Pemerintah belum mempunyai tanggapan atas hasil keputusan WTO tersebut. "Apa yang kami lakukan lebih lanjut sedang kami pelajari. Kami belum mengambil sikap karena ini masih ada 60 hari untuk kami menyampaikan posisi kami kepada posisi ini (sejak dikeluarkannya keputusan)," jelas Mari.

 

"Tetapi kembali lagi, menurut hemat kami bahwa kita sudah mendapat keputusan apa yang dilakukan AS berbentuk diskriminasi perdagangan. Itu sudah kemenangan tersendiri," tegas Mari.

 

Untuk diketahui, sejak 22 Juni 2009, AS secara resmi mengeluarkan undang-undang pengendalian tembakau dan pencegahan kebiasaan merokok dalam keluarga. Pada poin 907 peraturan tersebut, AS memberlakukan larangan produksi dan penjualan rokok yang mengandung rasa (flavour), kecuali rasa menthol. Rokok kretek yang dijual di AS itu berasal dari Indonesia. Akibatnya, potensi kerugian Indonesia bisa mencapai 200 juta dollar AS per tahun.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kode Bank BNI dan Cara Transfer Antarbank di ATM dengan Mudah

Kode Bank BNI dan Cara Transfer Antarbank di ATM dengan Mudah

Spend Smart
Cara Top Up DANA lewat ATM BRI dan BRImo dengan Mudah

Cara Top Up DANA lewat ATM BRI dan BRImo dengan Mudah

Spend Smart
Cara Top Up Gopay Lewat m-Banking BCA hingga OneKlik Secara Mudah

Cara Top Up Gopay Lewat m-Banking BCA hingga OneKlik Secara Mudah

Spend Smart
Inilah 5 Sekolah Termahal di Indonesia, SPP-nya Hingga Ratusan Juta

Inilah 5 Sekolah Termahal di Indonesia, SPP-nya Hingga Ratusan Juta

Spend Smart
Bos Krakatau Steel Pimpin Asosiasi Industri Besi-Baja se-Asia Tenggara

Bos Krakatau Steel Pimpin Asosiasi Industri Besi-Baja se-Asia Tenggara

Rilis
Luncurkan Livin' Investasi, Bank Mandiri Targetkan Pertumbuhan Bisnis Wealth Management

Luncurkan Livin' Investasi, Bank Mandiri Targetkan Pertumbuhan Bisnis Wealth Management

Whats New
Jobseeker, Simak 10 Tips Ikut Job Fair Agar Sukses Dapat Pekerjaan

Jobseeker, Simak 10 Tips Ikut Job Fair Agar Sukses Dapat Pekerjaan

Work Smart
Kuasa Hukum Korban Berharap Aset KSP Indosurya Ditelusuri Lagi

Kuasa Hukum Korban Berharap Aset KSP Indosurya Ditelusuri Lagi

Whats New
UMKM Ingin Menjual Produk ke Pemerintah? Ini Daftar E-Katalog LKPP

UMKM Ingin Menjual Produk ke Pemerintah? Ini Daftar E-Katalog LKPP

Smartpreneur
Pembiayaan APBN Melalui Utang Turun 62,4 Persen, Hanya Rp 155,9 Triliun Per April 2022

Pembiayaan APBN Melalui Utang Turun 62,4 Persen, Hanya Rp 155,9 Triliun Per April 2022

Whats New
Bank Mandiri Luncurkan Fitur Investasi di Aplikasi Livin'

Bank Mandiri Luncurkan Fitur Investasi di Aplikasi Livin'

Whats New
Jokowi Minta Luhut Bantu Urus Minyak Goreng, Ini Kata Kemendag

Jokowi Minta Luhut Bantu Urus Minyak Goreng, Ini Kata Kemendag

Whats New
Minat Jadi Agen Mandiri? Simak Persyaratan dan Cara Daftarnya

Minat Jadi Agen Mandiri? Simak Persyaratan dan Cara Daftarnya

Whats New
Kemendag Ungkap Alasan Larangan Eskpor CPO Dicabut

Kemendag Ungkap Alasan Larangan Eskpor CPO Dicabut

Whats New
Jadi Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK, Mirza Adityaswara Mengudurkan Diri dari Presiden Komisaris OVO

Jadi Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK, Mirza Adityaswara Mengudurkan Diri dari Presiden Komisaris OVO

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.