Kelas Menengah Tidak Diantisipasi

Kompas.com - 19/12/2011, 07:43 WIB
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com — Pertumbuhan ekonomi yang positif sejak tahun 2000 menumbuhkan masyarakat kelas menengah di Indonesia. Konsumsi mereka menyumbang 70 persen dari pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hanya saja, potensi ini tidak diantisipasi sejumlah pihak, termasuk pemerintah.

Setelah pertumbuhan ekonomi minus 13,13 persen akibat krisis tahun 1998, Indonesia terus mencatat pertumbuhan positif rata-rata 5 persen sejak tahun 2000. Kondisi ekonomi yang positif ini, menurut Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, telah memunculkan sekitar 9 juta warga kelas menengah baru setiap tahun.

Bank Dunia menyebutkan, 56,5 persen dari 237 juta populasi Indonesia masuk kategori kelas menengah. Kategori kelas menengah versi Bank Dunia adalah mereka yang membelanjakan uangnya 2 dollar AS (sekitar Rp 18.000) sampai 20 dollar AS (sekitar Rp 180.000) per hari. Artinya, saat ini ada sekitar 134 juta warga kelas menengah di Indonesia.

Disebutkan, terjadi peningkatan jumlah warga kelas menengah Indonesia sebanyak 45 juta orang dari posisi tahun 2003. Sementara dari 134 juta warga kelas menengah versi Bank Dunia itu, sekitar 14 juta orang masuk rata-rata pengeluaran 6 dollar AS (Rp 54.000) sampai 20 dollar AS per hari.

Sementara itu, survei Nielsen secara online mencatat, ada sekitar 29 juta warga kelas menengah premium di Indonesia. Mereka tumbuh seiring dengan pendapatan per kapita sekitar 3.000 dollar AS (sekitar Rp 27 juta) per tahun. Masyarakat kelas menengah ini punya gaya tersendiri dalam membeli suatu produk.

Masih menurut Bank Dunia, nilai uang yang dibelanjakan para warga kelas menengah Indonesia juga fantastis. Belanja pakaian dan alas kaki tahun 2010 mencapai Rp 113,4 triliun, belanja barang rumah tangga dan jasa Rp 194,4 triliun, belanja di luar negeri Rp 59 triliun, serta biaya transportasi Rp 238,6 triliun.

Belanja kelas menengah ini menyumbang pertumbuhan ekonomi domestik (PDB). ”Struktur perekonomian Indonesia menunjukkan konsumsi berperan sangat besar, yakni sekitar 70 persen,” ujar pengamat ekonomi Tony Prasetiantono.

Menurut Tony, fenomena menguatnya kelas menengah memang menimbulkan dampak multiplier besar yang positif. Terjadinya peningkatan permintaan tidak saja pada jasa penerbangan dan telekomunikasi seperti telepon pintar, tetapi juga otomotif. Ini memberikan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi.

Presiden Direktur PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto dalam acara Kompas100 CEO Forum, pekan lalu, di Jakarta, mengakui terjadi peningkatan penjualan otomotif, baik kendaraan roda empat maupun sepeda motor.

Kendaraan roda empat tahun 2011, ujar Prijono, mencapai 880.000 unit, meningkat dari 764.710 unit tahun 2010. Penjualan sepeda motor 2011 mencapai 8,1 juta unit, meningkat dari 7,372 juta unit tahun 2010. ”Angka penjualan ini optimistis akan meningkat pada tahun mendatang jika momentum pertumbuhan terus terjaga,” ujarnya.

Halaman:
Baca tentang


    Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X