BBM Subsidi Dibatasi, SPBU Swasta Bergairah

Kompas.com - 21/12/2011, 08:08 WIB
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com - Bisnis bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi bakal semakin cerah mulai tahun depan. Soalnya, pemerintah bakal membatasi konsumsi BBM bersubsidi mulai 1 April 2012. Pembatasan ini akan memperbesar pasar BBM non-subsidi, sehingga bisnis stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) non-Pertamina semakin hidup.

Jino Sugianto, Ketua Umum Dealer Petronas Service Station, meyakini, pembatasan BBM bersubsidi akan mendorong penjualan Primax 92, Primax 95, atau BBM lain sekelasnya. "Konsumen yang terkena kebijakan pembatasan, mau tidak mau harus memakai BBM non-subsidi," jelas Jino, Selasa (20/12/2011).

Bila itu terjadi, penjualan BBM di Petronas dan tempat lain di luar Pertamina pasti meningkat. Persaingan antara operator SPBU menjadi lebih berimbang karena selisih harga BBM non-subsidi sangat tipis. "Tapi kami belum bisa menghitung potensi peningkatannya, karena konsep pembatasan masih belum jelas," tandas Jino.

Dia berharap, Pemerintah Indonesia segera menyelesaikan konsep pembatasan itu. Apalagi, rencana pembatasan itu sudah muncul sejak tahun 2010 lalu, namun gagal terlaksana tahun ini.

Menurut Jino, tanpa ada pembatasan, bisnis BBM non-subsidi sulit berkembang. Soalnya, selama ini harga BBM bersubsidi jauh lebih murah dibandingkan dengan produk Petronas.

Kini harga BBM bersubsidi Rp 4.500 per liter, sedang produk Petronas di atas Rp 8.350 per liter (Primax 92). "Karena disparitas yang jauh itu, penjualan tahun ini tidak terlalu bagus," kata Jino tanpa merinci. Tidak heran, perkembangan SPBU Petronas tahun ini pun berjalan lambat.

Maksimal 30 persen

Manajemen Pertamina juga optimistis, penjualan BBM non-subsidi yakni Pertamax dan Pertamax Plus juga bakal semakin besar tahun depan. Dari rapat pemegang saham, manajemen perusahaan migas plat merah itu menargetkan penjualan BBM non subsidi mencapai 1,7 juta kiloliter (kl), naik 17 persen dari tahun ini sebesar 1,4 juta kl.

"Kalau pembatasan benar terjadi, pasti bisa naik lebih tinggi lagi," ujar M. Harun, Vice President Corporate Communication Pertamina.

Eri Purnomohadi, Ketua Umum Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas), menghitung, pembatasan BBM bersubsidi akan meningkatkan penjualan BBM non-subsidi 20 persen-30 persen. "Pengaruhnya sebesar itu karena harga BBM bersubsidi masih tetap," kata Eri. (Petrus Dabu/Kontan)

 



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X