Subsidi BBM Hambat Energi Terbarukan Berkembang

Kompas.com - 21/05/2012, 16:45 WIB
|
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Kardaya Warnika, menyebutkan subsidi bahan bakar minyak (BBM) menjadi salah satu penghambat energi baru dan terbarukan (EBT) untuk berkembang.

"EBT harus bersaing dengan BBM yang disubsidi besar-besaran sehingga harganya tidak wajar," sebut Kardaya dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR RI, Jakarta, Senin (21/5/2012).

Lalu, lanjut dia, hambatan kedua adalah tumpang tindih lahan. Beberapa jenis EBT yakni panas bumi dan tenaga air kebanyakan berada di kawasan hutan. Beberapa peraturan perundangan pun tidak mendukung EBT untuk berkembang, misalnya saja Undang-undang Panas Bumi. UU tersebut mengkategorikan kegiatan panas bumi sebagai kegiatan pertambangan sehingga menurut UU Kehutanan tidak diijinkan masuk ke dalam kawasan konservasi. "Kesulitan dukungan pendanaan," tambah dia mengenai kendala lainnya.

Menurut dia, perbankan belum banyak tahu kegiatan EBT secara jelas. Dengan begitu, investasi di sektor EBT masih belum banyak. "Harga jual EBT dan keekonomian (belum menunjang)," ucap Kardaya menyebutkan kendala terakhir.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa pernah menyampaikan bahwa Pemerintah akan menggeser penggunaan minyak bumi menjadi EBT pada tahun 2025. "Pada tahun 2025 nanti terjadi pergeseran yang besar di mana minyak tinggal 23 persen saja, sedangkan gas 19,7 persen, batubara 30,7 persen, dan energi baru dan terbarukan dari 5,7 persen meningkat menjadi 25,9 persen," ucap Hatta, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Tahun 2010, terang Hatta, penggunaan minyak mentah masih mendominasi untuk pemenuhan kebutuhan energi masyarakat dengan 49,7 persen. Sedangkan, penggunaan gas sebesar 20,1 persen, dan batubara dengan 24,5 persen. Sementara penggunaan EBT baru 5,7 persen.

Target penggunaan energi pada tahun 2025 ini diperoleh dengan melihat sumber daya alam yang dimiliki dan kebutuhan energi masyarakat. Atau, dilakukan analisis pasokan dan permintaan. Menurut Hatta, upaya ini penting untuk menjaga pasokan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Adapun potensi EBT yang dimiliki Indonesia adalah tenaga air, panas bumi, mini atau mikro hidro, biomass, tenaga surya, tenaga angin, dan uranium.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    Rekomendasi untuk anda
    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.