Kompas.com - 23/05/2012, 18:09 WIB
Penulis Abun Sanda
|
EditorMarcus Suprihadi

JAKARTA, KOMPAS.com — Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla berpendapat, rencana menyatukan zona waktu sebagai gagasan berlebihan, cari perkara saja, dan tujuannya tidak masuk akal. Oleh karena itu, jangan atau tidak perlu mengubah zona waktu.

"Apa urusannya hendak menaikkan kinerja pasar modal, lalu lebih 200 juta penduduk disusahkan," ujar Jusuf Kalla kepada Kompas, Rabu (23/5/2012).

Ia menyampaikan hal ini sehubungan dengan rencana pemerintah menyatukan zona waktu dan menjadikan waktu Indonesia Tengah sebagai patokan waktu. Dengan penyatuan itu, waktu di Indonesia akan sama dengan waktu di Makassar, Manado, Singapura, dan Hongkong.

Menjelaskan pendapatnya, Jusuf Kalla menyebutkan, tidak benar pendapat yang menyatakan zona waktu akan menaikkan kinerja pasar modal. Pasar modal akan sangat maju bukan karena mengubah zona waktu, melainkan karena meningkatnya produktivitas perusahaan, efisiensi berjalan baik, dan adanya trust. Tidak ada urusan dengan perubahan zona waktu.

"Kita ini negara besar, masak harus masuk ke zona waktu Singapura. Justru Singapura-lah yang harus masuk ke zona waktu kita. Jangan dibalik-balik," ujar Jusuf.

Lihatlah pasar modal New York dan pasar modal London, waktunya terpaut lima jam. Akan tetapi, kedua pasar modal itu justru tumbuh luar biasa bagus. Tidak ada pikiran menyatukan zona waktu keduanya.

Jusuf Kalla mengingatkan, menyatukan zona waktu sama artinya dengan membuat pukul 06.00 pagi di zona Indonesia Barat menjadi pukul 05.00. Sederhananya begini, anak-anak yang biasanya berangkat sekolah ketika matahari terbit, yakni pukul 06.00 pagi, harus berangkat pada pukul 05.00 subuh. "Apa tidak kasihan pada anak-anak itu?"

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Di Singapura boleh saja warga berangkat ke sekolah ketika masih gelap sebab di sana aman. Namun, kita tahu bersama bahwa Jakarta tidak seaman Singapura. Atau begini, tambah Jusuf Kalla, coba lihat bagaimana keseharian petani kita. Mereka selama ini suka berangkat ke sawah ketika matahari terbit, kemudian kalau zona waktu berubah menjadi pukul 05.00, kini harus berangkat lebih awal. Ini pada ujungnya akan berpengaruh pada waktu shalat, aktivitas berolahraga, hingga disiplin. "Apakah ini yang hendak kita peroleh dari perubahan zona waktu?" ujar Jusuf Kalla.

Ia menambahkan, kita mesti memahami bahwa zona waktu itu adalah menyesuaikan alam dengan ritme hidup. Warga yang bekerja di Jakarta, tetapi tinggal di Bekasi atau Bogor yang biasa berangkat ke kantor pukul 05.30 supaya tiba pukul 07.00 bisa shalat lebih dulu. Kalau diubah waktunya, maka sama dengan sekarang, pukul 04.30. Maka, makan pagi bisa dilakukan pada pukul 04.00, setelah itu shalat lalu jalan. Waktu untuk berolahraga menjadi sulit.

Ia mengingatkan, jangan lupa yang berdomisili di zona Indonesia Barat (GMT+7) mencapai 193 juta penduduk atau 81 persen penduduk Indonesia, yang tersebar di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah. Jumlah 193 juta atau hampir 81 persen penduduk Indonesia, atau sama dengan hampir 50 kali penduduk Singapura.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang


    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.