Kompas.com - 25/09/2012, 00:42 WIB
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com - Nasabah gadai emas BRI Syariah akhirnya mengadukan masalah yang membelitnya ke Bank Indonesia, Jumat pekan lalu (21/9/2012). Dalam suratnya, nasabah menjelaskan kronologi masalah yang mereka hadapi.

Mereka juga siap mencari solusi terbaik, sekalipun lose-lose solution. "Sama-sama rugi itu misalnya bank mengembalikan modal nasabah. Jika nasabah menanggung kerugian bank, itu win-lose solution," kata Indra Perbawa, pengacara Butet Kertaradjasa, Minggu (23/9/2012). Butet adalah nasabah gadai BRI Syariah yang merasa menjadi korban.

Butet menjadi nasabah gadai BRI Syariah, Agustus 2011. Emas yang digadaikan 4,89 kg. Untuk memiliki emas itu, ia keluar modal 10 persen dari harga emas. Sisanya dibiayai bank.

Kontrak berjangka waktu empat bulan dan jatuh tempo Desember 2011. Tapi, kata marketing BRIS, seperti yang diklaim Butet, kontrak bisa diperpanjang berkali-kali.

Di tengah jalan, BI mengeluarkan aturan. Intinya, kontrak gadai tak sejalan dengan regulasi. Karena itu, bank meminta nasabah menebus emas. Nasabah menolak. Karena gagal capai titik temu, bank akhirnya menjual paksa emas.

Edy Setiadi, Direktur Direktorat Perbankan Syariah BI, menilai gadai emas yang dikombinasikan dengan pembiayaan atau beli gadai, menyimpang. "Mereka memang punya izin qardh, tapi yang dipraktikkan tidak seperti yang kami izinkan," kata Edy, pekan lalu.

Namun, Lukita Prakasa, Sekretaris Perusahaan BRI Syariah, berpendapat kontrak gadai emas tak melanggar aturan dan sesuai prinsip syariah. Transaksi ini diikat dalam akad qardh.

Butet mengagunkan emas yang dibeli dengan menggunakan pembiayaan BRI Syariah. "Iya, kami memfasilitasi. Tetapi, praktik beli gadai itu terjadi antara Butet dengan penjual emas. Sementara, Butet dengan BRI Syariah tetap gadai," ujarnya, pekan lalu.

Karena basis produknya gadai, Butet harus menebus emas saat jatuh tempo. BRI Syariah tak bisa menyetujui perpanjangan kontrak lantaran terbentur regulasi BI.

Maklum, sang regulator perbankan ini menetapkan batas pembiayaan beragun emas maksimal Rp 250 juta. Saat itu, gadai emas Butet lebih dari Rp 2,5 miliar.

Halaman:
Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.