Listrik di Kawasan ASEAN Terhubung Tahun 2015

Kompas.com - 26/09/2012, 17:55 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Jaringan tenaga listrik di negara-negara kawasan ASEAN ditargetkan akan terhubung pada tahun 2015. Hal ini untuk memperkuat ketahanan energi di kawasan itu dan menekan biaya investasi di sektor kelistrikan karena tidak perlu membangun pembangkit listrik.

Hal ini disampaikan Sekretaris Jenderal Head of Authority Public Utility of ASEAN (HAPUA) Syaiful Bakhri seusai menghadiri jumpa pers pameran dan seminar kelistrikan tahun 2012, Rabu (26/9/2012), di Jakarta.

Menurut Syaiful, dalam program konektivitas ASEAN, sambungan tenaga listrik antarbeberapa negara di kawasan ASEAN ditargetkan sudah terealisasi pada tahun 2014. Selanjutnya pembangunan konstruksi pembangkit listrik maupun jaringan dan transmisi antarnegara direncanakan sudah dimulai pada tahun 2015.

"Konektivitas tenaga listrik di kawasan ASEAN diperlukan untuk ketahanan energi," ujarnya.

Di kawasan ASEAN saat ini ada tiga sumber energi besar, yaitu Sungai Mekong dengan potensi tenaga air 2.000 megawatt, Indonesia yang memiliki sumber daya batu bara, dan Filipina dengan  potensi panas bumi. Semua potensi energi itu diharapkan bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan tenaga listrik yang lebih murah karena tidak perlu membangun pembangkit.

Konektivitas listrik ASEAN pada tahun 2015 itu baru bilateral atau terhubung antardua negara karena terkendala regulasi di setiap negara. Sebagai contoh, regulasi di Indonesia membolehkan jual-beli listrik antardua negara, baik dalam hal pembangunan pembangkit maupun jaringan transmisi, sementara jual-beli listrik di Malaysia harus melalui pemerintah setempat.

"Jadi, kalau Indonesia menjual listrik di Malaysia itu terkena pajak, sedangkan kalau di Indonesia tidak ada pengenaan pajak," ujarnya.

Karena itu, diperlukan harmonisasi kebijakan terkait jual-beli listrik antarnegara, termasuk di Malaysia dan Thailand, untuk mempermudah hubungan bilateral terkait konektivitas listrik. Harmonisasi aturan itu ditargetkan bisa tuntas pada tahun 2015.

Syaiful menjelaskan, pihak Singapura semula tidak bersedia membangun sambungan tenaga listrik yang menghubungkan Indonesia dengan negara itu. Belakangan, pihak Singapura bersedia disambung tenaga listrik dengan memanfaatkan gas Natuna, sementara pembangkit listrik berbasis tenaga gas  akan dibangun di Kepulauan Riau.



EditorNasru Alam Aziz

Close Ads X