Kompas.com - 16/01/2013, 18:07 WIB
|
EditorI Made Asdhiana

Pembeli pun bisa membubuhkan namanya di lukisan tersebut. Cukup tulis nama Anda di sebuah buku yang telah disediakan Ketut. Nantinya Ketut akan membubuhkan nama tersebut ke daun lontar.

Paling favorit tentu saja nama pasangan, kekasih atau suami-istri. Lukisan lontar sebenarnya sederhana saja, hanya mengandalkan daun lontar yang disambung-sambungkan dengan tali dan penutupnya dari bambu yang telah diukir.

Sementara bahan untuk melukisnya adalah semacam pengukir dengan mata pisau yang digoreskan ke lontar. Lalu agar goresan itu terlihat, goresan digosokan dengan kemiri yang telah dibakar.

Kemiri bakar yang hitam legam itu pun membuat goresan menjadi hitam. Setelah diolesi kemiri, hasil olesan kemudian dibersihkan dengan cairan dari minyak. Konon ini membuat daun menjadi lebih awet.

Daun lontar sendiri diambil dari daun lontar atau nira yang sudah tua. Daun ini lalu dijemur sampai berubah warna jadi kuning kecokelatan. Setelah itu daun direndam dan dikeringkan.

Baru kemudian direbus dan dijemur kembali. Nah, setelah ini, daun lembar ditipiskan dengan alat dari kayu, hasilnya agar daun lurus dan tak bergelombang. Hasil akhir bernama lempir pun siap dilukis.

Bali Mula

Desa Tenganan sendiri terkenal sebagai desa adat yang kerap dikunjungi wisatawan, terutama turis asing. Rumah-rumah adat yang masih kental tradisi masa silam begit terasa.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pun ritual-ritual kuno masih dijalankan. Tengoklah pura di desa ini yang sudah begitu tua berusia berabad-abad tahun namun masih terjaga. Penduduk desa ini adalah orang-orang Bali Mula, yaitu orang Bali asli yang telah mendiami Pulau Bali sejak masa lampau.

DESA TENGANAN 7

Desa Tenganan di Karangasem, Bali. (Foto: KOMPAS.com/Ni Luh Made Pertiwi F.)

Tradisi mereka berbeda dengan Bali Jawa atau disebut Bali Arya yang saat ini menjadi mayoritas Pulau Bali. Bali Jawa merupakan sebutan untuk orang Bali yang leluhurnya berasal dari tanah Jawa di masa Pulau Jawa masih berbentuk Kerajaan Hindu.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X