Kompas.com - 08/03/2013, 18:31 WIB
EditorPalupi Annisa Auliani

JAKARTA, KOMPAS.com -  Ketika perbankan umum lokal mengalami kenaikan laba rata-rata 20 persen selama 2012, bank-bank asing di Indonesia justru bernasib terbalik. Statistik Perbankan Indonesia (SPI) Desember 2012 mencatat, rata-rata laba bersih bank asing turun tipis 2,8 persen, dari Rp 5,28 triliun pada 2011 menjadi Rp 5,13 triliun pada 2012. Bank asing menyebut 2012 sebagai tahun berat dan sulit.

The Hongkong and Shanghai Banking Corporation (HSBC) Indonesia, misalnya, hanya membukukan kenaikan tipis laba, yakni 5,8 persen. Pada 2011, bank ini meraih keuntungan Rp 1,19 triliun, sementara pada 2012 bertambah sedikit menjadi Rp 1,26 triliun. Kenaikan itu pun, kata Deputy Chief Financial Officer HSBC Hanna Tantany, disumbang pertumbuhan revenue, efisiensi biaya operasional, dan pembersihan kualitas kredit. Pengetatan biaya operasional, sebut dia, mengurangi pengeluaran Rp 248 miliar.

Situasi serupa diakui oleh Citibank Indonesia. Menurut data Bank Indonesia (BI), bank asal Amerika Serikat ini hanya mencatat pertumbuhan laba 5,6 persen dari posisi Rp 1,77 triliun pada 2011 menjadi Rp 1,87 triliun pada 2012.Director of Retail Investment & Consumer Treasury Head Citibank Indonesia Harsya Prasetyo pernah menyatakan bahwa 2012 merupakan tahun yang berat bagi Citibank, menyusul sanksi dari BI yang melarang bank ini melayani nasabah baru wealth management.

Dana Pihak Ketiga (DPK) Citibank hanya naik 9 persen dari Rp 38,1 triliun menjadi Rp 41,9 triliun. Bahkan, deposito tercatat mengalami penurunan 6,25 persen. Pada 2011, simpanan berjangka di bank ini mencapai Rp 12,8 triliun, yang kemudian di akhir 2012 susut menjadi Rp 12 triliun. "Tahun lalu ada saham spread compression dari segi DPK. Jadi spread revenue kami terkompres,” sebut Harsya.

 

Namun, 2012 ternyata lebih berat bagi Standard Chartered. Laba bank yang menjadi sponsor klub sepak bola Inggris Liverpool ini amblas 17,9 persen dari Rp 352,8 miliar ke posisi Rp 289,3 miliar. Meski mengalami penurunan laba, kredit dan DPK yang dibukukan Standard Chartered meningkat. Penyaluran kredit pun tumbuh 21,4 persen dari Rp 25,6 triliun menjadi Rp 31,1 triliun. DPK juga naik meski hanya 6 persen, yaitu dari Rp 24,7 triliun jadi Rp 26,2 triliun.

 

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ruang gerak bank asing terbatas

Ekonom Universitas Atmajaya Agustinus Prasetyantoko menilai, tidak cemerlangnya kinerja bank-bank asing di Indonesia ini karena ruang gerak bank asing makin terbatas. "Yang lebih bergeliat di daerah itu bank lokal," ucapnya, Jumat (8/3/2013).

Sementara ekonom Universitas Indonesia Telisa Falianti memperkirakan pada 2013 laba bank asing masih akan mengalami perlambatan. Penyebabnya, sebut dia, adalah pemberlakuan regulasi terhadap bank asing yang semakin ketat. Menurut dia, bila bank asing ingin menumbuhkan laba lebih tinggi maka butuh diferensiasi produk dari bank lokal. Misalnya dengan melayani Foreign Direct Investment (FDI) atau juga suplai likuiditas dollar. "Harus pintar mencari inovasi," ujarnya, Jumat, (8/3/2013).

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.