Kompas.com - 10/04/2013, 07:32 WIB
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Erani Yustika, di Jakarta, Selasa (9/4/2013), menengarai, tingginya inflasi selama tiga bulan terakhir digerakkan oleh motif politik. Tren ini akan terus berlanjut sampai Pemilu 2014.

”Ini bukan sebatas persoalan pasokan bahan pangan. Namun ada kepentingan politik di baliknya. Dan itu akan terus meningkat suhunya sampai tahun depan,” kata Erani.

Menurut Erani, harga pangan adalah komponen yang paling mudah dipermainkan. Jadi sampai dengan Pemilu 2014, harga bahan pangan akan semakin sulit ditebak arahnya.

Inflasi yang terbukti semakin sulit dikendalikan pemerintah, menurut Erani, akan menjadi persoalan manakala pemerintah mengambil pilihan kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi (BBM) guna mengurangi pembengkakan subsidi energi yang berpotensi menembus Rp 300 triliun tahun ini.

”Bisa-bisa manfaat yang didapat dari menaikkan harga BBM bersubsidi tidak sebesar dampak negatif yang ditimbulkannya. Ini persoalannya,” kata Erani.

Di samping persoalan inflasi, Erani menyatakan, defisit neraca perdagangan Januari-Februari dan defisit keseimbangan primer APBN 2012 menjadi sandungan bagi momentum pertumbuhan ekonomi. Bersama dengan inflasi, kedua hal tersebut saling berkaitan.

Defisit neraca perdagangan, menurut Erani, disebabkan kekeliruan pemerintah selama 20-25 tahun terakhir yang tak kunjung mendiversifikasi komoditas ekspor pertanian. Dari dulu hingga sekarang terus berupa bahan mentah, tidak melangkah ke produk olahan yang memberikan nilai tambah. Pasar tujuan ekspor pun juga tak banyak berkembang.

Persoalan juga terjadi pada struktur impor. Salah satu penyumbang terbesar adalah impor bahan baku. Artinya, kata Erani, industri tidak berbasis pada sumber daya ekonomi lokal. Besarnya impor migas untuk kesekian kalinya bahwa pemerintah tidak memiliki strategi energi jangka panjang.

Sementara keseimbangan primer tahun 2012 tercatat Rp 45,5 triliun. Penyebabnya, menurut Erani, karena penerimaan negara tidak optimal dan belanja terutama subsidi energi membengkak.

Inflasi Maret mencapai 5,9 persen dibandingkan periode yang sama pada 2012. Target pemerintah adalah 4,9 persen. Adalah lonjakan harga bahan pangan yang menyumbang 80 persen inflasi terutama empat produk hortikultura. Harga bawang merah per Maret dibandingkan Februari naik 82,23 persen. Harga bawang putih naik 41,73 persen. Harga cabai rawit naik 20,98 persen dan harga jeruk naik 2,18 persen.

Halaman:
Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Tunda Rencana IPO 2 Anak Usaha, Pelindo: Kami Masih Punya Dana Besar

    Tunda Rencana IPO 2 Anak Usaha, Pelindo: Kami Masih Punya Dana Besar

    Whats New
    Cerita Penjual Masker Pasar Pramuka: Dulu Sehari Bisa Jual Berkarton-karton, Kini 10 Boks Saja Sudah Lumayan...

    Cerita Penjual Masker Pasar Pramuka: Dulu Sehari Bisa Jual Berkarton-karton, Kini 10 Boks Saja Sudah Lumayan...

    Work Smart
    Disetujui Jokowi, Tarif Listrik Pelanggan 3.000 VA Bakal Naik

    Disetujui Jokowi, Tarif Listrik Pelanggan 3.000 VA Bakal Naik

    Whats New
    Gandeng Digidata, Bank BJB Permudah Verifikasi Calon Nasabah

    Gandeng Digidata, Bank BJB Permudah Verifikasi Calon Nasabah

    Whats New
    Subsidi Gaji Rp 1 Juta untuk Pekerja Segera Cair, Ini Kriteria dan Cara Cek Penerimanya

    Subsidi Gaji Rp 1 Juta untuk Pekerja Segera Cair, Ini Kriteria dan Cara Cek Penerimanya

    Whats New
    Kalbe Bakal Tebar Dividen Rp 35 Per Saham

    Kalbe Bakal Tebar Dividen Rp 35 Per Saham

    Whats New
    CT Tunjuk Mantan Direktur BRI Indra Utoyo sebagai Dirut Allo Bank

    CT Tunjuk Mantan Direktur BRI Indra Utoyo sebagai Dirut Allo Bank

    Whats New
    Pasar Data Center Tumbuh Pesat, Telkom Hadirkan NeutraDC

    Pasar Data Center Tumbuh Pesat, Telkom Hadirkan NeutraDC

    Whats New
    Bank Dunia Gelontorkan Rp 441 Triliun Buat Tangani Krisis Pangan, Ini 4 Prioritasnya

    Bank Dunia Gelontorkan Rp 441 Triliun Buat Tangani Krisis Pangan, Ini 4 Prioritasnya

    Whats New
    IHSG Berakhir di Zona Hijau, Rupiah Masih Melemah

    IHSG Berakhir di Zona Hijau, Rupiah Masih Melemah

    Whats New
    Dunia Bergejolak, Sri Mulyani Proyeksi Inflasi 2022 Dekati 4 Persen

    Dunia Bergejolak, Sri Mulyani Proyeksi Inflasi 2022 Dekati 4 Persen

    Whats New
    Anggaran Subsidi Energi Bengkak, Harga Pertalite Tetap Tidak Naik

    Anggaran Subsidi Energi Bengkak, Harga Pertalite Tetap Tidak Naik

    Whats New
    Niat Cuma Bantu Suami, Istri Ojol Ini Tak Menyangka Bisnisnya Malah Sukses

    Niat Cuma Bantu Suami, Istri Ojol Ini Tak Menyangka Bisnisnya Malah Sukses

    Smartpreneur
    Harga Minyak Dunia Bergejolak, Anggaran Subsidi Energi Bengkak Jadi Rp 443,6 Triliun

    Harga Minyak Dunia Bergejolak, Anggaran Subsidi Energi Bengkak Jadi Rp 443,6 Triliun

    Whats New
    Punya Growth Mindset Saat Bekerja, Pentingkah?

    Punya Growth Mindset Saat Bekerja, Pentingkah?

    Work Smart
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.