Bisnis Penerbangan Jangan Korbankan Keselamatan Penumpang

Kompas.com - 14/04/2013, 22:09 WIB
|
EditorRobert Adhi Ksp

JAKARTA, KOMPAS.com — Anggota Komisi V DPR RI, Yudi Widiana Adia, berharap pemerintah dan maskapai penerbangan tidak lagi mengabaikan keselamatan dan keamanan penerbangan demi kepentingan bisnis semata.

Ia menyesalkan musibah pendaratan darurat pesawat Lion Air dengan kode penerbangan JT 960 di perairan dekat Bandar Udara Ngurah Rai, Bali, Sabtu (13/4/2013) lalu.

"Musibah pendaratan darurat Lion Air ini menambah satu lagi catatan buruknya penerbangan kita. Jika benar penerbangan ini dipaksakan meski dalam kondisi cuaca gelap sehingga mengganggu jarak pandang, ini menunjukan bahwa aspek keselamatan sudah diabaikan demi bisnis. Apalagi kita tahu Lion Air baru saja membeli pesawat baru sehingga terkesan kejar setoran," kata Yudi di Jakarta, Minggu (14/4/2013).

Yudi berharap, polisi memastikan kondisi pilot benar-benar sehat dan bebas narkoba. Ia juga meminta agar pilot yang menerbangkan pesawat Lion Air dengan kode penerbangan JT 960 dites narkoba secara menyeluruh.

"Saya minta pilotnya dites laboratorium apakah memakai narkoba atau tidak. Kita tahu sejumlah pilot Lion Air beberapa waktu lalu kedapatan mengonsumsi narkoba. Hal ini sangat mungkin mengingat mereka kerap bekerja melampaui batas jam terbang 30 jam/minggu," ujarnya.

Menurut Yudi, pertumbuhan bisnis penerbangan Indonesia menembus angka 14 persen dan Lion Air termasuk salah satu maskapai nasional dengan pangsa pasar terbesar di Indonesia. Namun, pertumbuhan penerbangan ini juga tidak diikuti dengan penyedian SDM, khususnya pilot.

Saat ini kebutuhan pilot per tahun mencapai 800 orang, tetapi yang baru terpenuhi sekitar 400 (50 persen) sehingga kemungkinan terjadi pelanggaran jam kerja pilot.

Jika dicermati, pertumbuhan bisnis penerbangan di Indonesia sangat tinggi, yakni di atas 14 persen dari yang normal 8 persen. Ini menunjukan bahwa perkembangan bisnis penerbangan Indonesia sudah tumbuh sangat pesat. Bahkan, Indonesia menyumbang 1,4 persen lalu lintas udara global dari sisi jumlah penumpangnya. Meski demikian, angka kecelakaan pesawat di Indonesia juga cukup tinggi berkisar 4 persen seperti dilaporkan FAA tahun 2011.

"Hal ini menunjukkan bahwa kemajuan bisnis penerbangan ternyata mengorbankan keselamatan penumpang karena tidak diikuti dengan langkah progresif pemerintah untuk meningkatkan keselamatan dan keamanan penerbangan," kata Yudi. 

 

Baca tentang
    Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
    Ikut


    Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X