Kompas.com - 02/05/2013, 10:00 WIB
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com — Divestasi anak usaha mengakibatkan kinerja PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) terjun bebas di kuartal I-2013. Pendapatan bersih perusahaan investasi milik Grup Bakrie itu anjlok 87,7 persen year-on-year hingga Rp 860,99 miliar. Sementara laba bersih merosot dari Rp 5,41 miliar di periode sama tahun lalu menjadi Rp 4,32 miliar.

Direktur Utama Bakrie & Brothers Gafur Sulistyo Umar mengatakan, penyebab penurunan pendapatan adalah dekonsolidasi anak usaha. "(Pendapatan kuartal I 2012) sebagian besar dari trading minyak, yang tahun ini tidak dikonsolidasi lagi," ujar pria yang akrab disapa Bobby Gafur itu, Selasa (30/4/2013).

BNBR memang menjual sebagian saham anak usahanya, yaitu Bakrie Petroleum International Pte. Ltd (BPIPL), hingga kepemilikannya tidak lagi mayoritas. Mengutip laporan keuangan BNBR per akhir kuartal I-2013, pada 17 September 2012, melalui Bakrie Energy International (BEI), BNBR menjual 10 persen saham BPIPL ke Altex Investment Ltd.

Divestasi ini membuat kepemilikan BNBR di BPIPL berkurang dari 51 persen menjadi 41 persen. Adapun BPIPL mengempit 95 persen saham di PT Petromine Energy Trading (PET). Hasil penjualan saham itu sebesar Rp 71,02 miliar.

Menggandeng mitra

Dampak dekonsolidasi itu sangat signifikan. Selama kuartal I-2012, BNBR mengantongi fulus hingga Rp 6,25 triliun dari sektor perdagangan, jasa, dan investasi. Sementara selama Januari-Maret 2013, nilai itu turun drastis menjadi Rp 2,4 miliar. Pengelola BNBR tidak mengatakan alasan pelepasan BIPPL tersebut.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Di satu sisi, divestasi BPIPL merugikan BNBR. Namun, di sisi lain, menurut Bobby, penjualan saham mengurangi beban utang BNBR. Jika melihat laporan keuangan, beban bunga dan keuangan BNBR menyusut dari Rp 167,5 miliar menjadi Rp 60,91 miliar.

Kendati pendapatan dari perdagangan minyak berkurang, Bobby memproyeksikan pendapatan BNBR sepanjang tahun ini tetap tumbuh di kisaran 15 persen hingga 20 persen dari tahun lalu. Sepanjang tahun 2012, BNBR mengantongi pendapatan bersih Rp 15,37 triliun. Berarti, di tahun ini, manajemen BNBR berharap bisa membukukan pendapatan bersih sekitar Rp 17,79 triliun hingga Rp 18,44 triliun.

Anak usaha yang menjadi tumpuan BNBR meraih pendapatan adalah PT Bakrie Tosanjaya (BTJ). Produsen komponen otomotif dan pengecoran itu ditargetkan meraup pendapatan Rp 789 miliar tahun ini. Target itu tumbuh 6,47 persen dari pendapatan 2012, yaitu Rp 741 miliar.

Hingga akhir kuartal I tahun ini, Bakrie Tosanjaya telah membukukan penjualan sebesar Rp 150 miliar. Supaya lebih berkembang, Tosanjaya, kata Bobby, tengah menjajaki kerja sama dengan mitra dari Jepang dan Korea Selatan untuk pembuatan steering set. Namun, ia belum mau mengungkapkan rencana tersebut dengan mendetail.

"Nama perusahaannya belum bisa kami sebut," tuturnya. Ia juga mengatakan, BNBR tidak akan melepas saham BTJ melalui penawaran saham perdana alias IPO. Perusahaan beraset Rp 630 miliar itu akan memenuhi kebutuhan pendanaan dari ekuitas dan pinjaman bank. (Cindy Silviana Sukma, Amailia Putri Hasniawati/Kontan)

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.