Ketimpangan Ekonomi Semakin Lebar

Kompas.com - 21/05/2013, 07:40 WIB
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com - Setelah 15 tahun Reformasi, ketimpangan ekonomi semakin lebar. Distribusi kekayaan masih berada di tangan segelintir orang. Demokratisasi ekonomi dan desentralisasi yang seharusnya menjadi instrumen untuk pemerataan disalahgunakan penguasa.

Eksesnya, pengerukan sumber daya alam makin besar. Di sisi lain, reformasi telah mengorbankan sektor pertanian yang seharusnya menjadi pilar dalam pemerataan ekonomi.

Beberapa perbandingan indikator antara sebelum Reformasi (1997) dan saat Reformasi (2012) menunjukkan perkembangan. Produk domestik bruto naik dari Rp 627,70 triliun menjadi Rp 8.241,86 triliun, rata-rata inflasi turun dari 10,27 persen menjadi 5,68 persen, dan jumlah penduduk miskin turun 34,01 juta menjadi 28,59 juta.

Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Ahmad Erani Yustika dan Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Lampung Bustanul Arifin yang dimintai komentar, Senin (20/5/2013), terkait dengan perubahan selama Reformasi, sepakat bahwa ketimpangan ekonomi sejak sebelum Reformasi hingga kini belum tertangani. Ketimpangan malah kian lebar.

Erani mengatakan, dua isu utama reformasi ekonomi adalah demokratisasi dan desentralisasi. Dua isu ini digulirkan karena penguasaan ekonomi oleh segelintir orang yang sangat masif. Pada waktu itu aset yang besarnya mencapai 75 persen APBN dikuasai sekitar 300 orang. Di sisi lain, ketimpangan ekonomi Jawa dan luar Jawa terus meletupkan persoalan politik dan ekonomi, dikelola lewat pendekatan patronase.

Orde Reformasi berupaya melakukan koreksi agar ada persaingan berusaha yang adil dan kegiatan ekonomi lebih menyebar. Konsentrasi ekonomi pada segelintir orang berusaha dihilangkan. Pemerintah memilih liberalisasi perdagangan, finansial, investasi, dan tenaga kerja. Kemudian pada level mikro pemerintah melakukan perubahan tata kelola proses pemberian kewenangan untuk pemerataan pembangunan melalui desentralisasi.

”Akan tetapi, kita melihat ada yang lebih buruk dibanding sebelum Reformasi. Penguasaan pelaku ekonomi tidak berkurang, tapi malah memburuk. Laporan mengenai orang kaya Indonesia menyebutkan, sebanyak 40 orang kaya Indonesia memiliki aset setara separuh APBN sehingga konsentrasi ekonomi masih di segelintir orang,” kata Erani.

Situasi tersebut terkonfirmasi dari koefisien gini, koefisien yang menjadi indikator ketimpangan ekonomi. Semakin besar koefisien itu (mendekati angka 1), ketimpangan makin besar. Koefisien gini tahun 1997 sebesar 0,35, sementara pada tahun 2012 sebesar 0,41.

”Pembangunan di era Reformasi yang cenderung meliberalisasi berbagai sektor yang dianggap akan membuat iklim usaha lebih sehat karena pelakunya tidak terkonsentrasi pada orang tertentu, ternyata untuk sektor pertanian liberalisasi merupakan musibah. Petani tidak mendapatkan insentif memadai. Akibatnya, produksi kita jatuh dan makin tergantung impor. Sektor pertanian mengenaskan,” kata Erani.

Korban otonomi

Halaman:
Baca tentang
    Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
    Ikut


    Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Manfaatkan Ceker Ayam Jadi Sepatu, Bisnis Ini Bisa Bertahan di Tengah Pandemi

    Manfaatkan Ceker Ayam Jadi Sepatu, Bisnis Ini Bisa Bertahan di Tengah Pandemi

    Whats New
    Curhatan Sri Mulyani, Sulitnya Membuat Kebijakan Ditengah Pandemi

    Curhatan Sri Mulyani, Sulitnya Membuat Kebijakan Ditengah Pandemi

    Whats New
    Menteri Edhy Bantah Terlibat Tentukan Eksportir Benih Lobster

    Menteri Edhy Bantah Terlibat Tentukan Eksportir Benih Lobster

    Whats New
    Presiden Marah soal Anggaran Kesehatan, Datanya Benarkah?

    Presiden Marah soal Anggaran Kesehatan, Datanya Benarkah?

    Whats New
    Tesla Jadi Perusahaan Otomotif Paling Bernilai di Dunia, Kekayaan Elon Musk Naik 21 Miliar Dollar AS

    Tesla Jadi Perusahaan Otomotif Paling Bernilai di Dunia, Kekayaan Elon Musk Naik 21 Miliar Dollar AS

    Whats New
    [POPULER DI KOMPASIANA] Membedah Pajak Netflix | Cerita Pekerja Proyek | 'Body Shaming' di Sekitar Kita

    [POPULER DI KOMPASIANA] Membedah Pajak Netflix | Cerita Pekerja Proyek | "Body Shaming" di Sekitar Kita

    Rilis
    Sinar Mas Beri Edukasi Lingkungan kepada Masyarakat melalui Festival Hijau BSD City ke-17

    Sinar Mas Beri Edukasi Lingkungan kepada Masyarakat melalui Festival Hijau BSD City ke-17

    Rilis
    Menko Airlangga Optimistis Pemulihan Ekonomi Makin Cepat pada Kuartal III-2020

    Menko Airlangga Optimistis Pemulihan Ekonomi Makin Cepat pada Kuartal III-2020

    Whats New
    Mengenal Eigendom, Bukti Kepemikan Tanah Warisan Belanda

    Mengenal Eigendom, Bukti Kepemikan Tanah Warisan Belanda

    Whats New
    OJK Disarankan Jadi Pengawas Pasar Modal dan Industri Keuangan Non-bank Saja

    OJK Disarankan Jadi Pengawas Pasar Modal dan Industri Keuangan Non-bank Saja

    Whats New
    Tips Karier Sukses, Begini Cara Dekat dengan Atasan Tanpa Menjilat

    Tips Karier Sukses, Begini Cara Dekat dengan Atasan Tanpa Menjilat

    Work Smart
    Kementan Alokasikan 15.320 Ton Pupuk Subsidi untuk Bulukumba

    Kementan Alokasikan 15.320 Ton Pupuk Subsidi untuk Bulukumba

    Rilis
    Negara-Negara Ini Jalankan Sistem Pengawasan Bank di Bawah Bank Sentral

    Negara-Negara Ini Jalankan Sistem Pengawasan Bank di Bawah Bank Sentral

    Whats New
    Persaingan Antar-bank BUMN yang Jadi Sorotan Erick Thohir

    Persaingan Antar-bank BUMN yang Jadi Sorotan Erick Thohir

    Whats New
    Dihantam Pandemi, Maskapai Air France Pangkas 7.500 Karyawan

    Dihantam Pandemi, Maskapai Air France Pangkas 7.500 Karyawan

    Whats New
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X