Kompas.com - 28/05/2013, 15:26 WIB
EditorBambang Priyo Jatmiko

JAKARTA, KOMPAS.com - Meski pemerintah masih bingung memutuskan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak Bersubsidi (BBM Subsidi), perbankan sudah mempersiapkan skenario kenaikan bunga.

Anda yang tengah mencari utang, bersiaplah menghadapi kenaikan bunga kredit. Penyebabnya adalah kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi bakal menyulut kenaikan bunga simpanan yang berujung pada biaya dana bank. Citibank memprediksi bahwa bank-bank sentral di negara berkembang Asia akan menjaga suku bunga rendah lebih lama lagi, kecuali Indonesia. Bunga acuan Indonesia akan naik setelah pemerintah mengerek harga BBM bersubsidi.

Sementara itu, menurut riset Citi tentang Proyeksi Makro dan Strategi Asia yang dirilis Senin (27/5/2013), India, Korea, Sri Lanka, China, Thailand, dan Vietnam akan memiliki kebijakan bunga rendah. Pasalnya, mereka menghadapi tren disinflasi dan ekonomi yang menurun. Beberapa juga akan menggunakan senjata suku bunga demi menjaga kestabilan nilai tukarnya. Maklum, kebijakan pelemahan yen Jepang cukup berisiko bagi sejumlah negara seperti Korea dan Thailand.

Namun di Indonesia, kasusnya berbeda. Kenaikan harga BBM sebesar 33 persen justru akan mendorong inflasi ke angka 8,2 persen. Catatan saja, kenaikan 33 persen ini merupakan kombinasi antara kenaikan harga premium sebesar 44 persen dan solar 22 persen.

Meski begitu, Citi memprediksi kenaikan harga BBM tak serta merta mendorong bunga naik beberapa kali lipat, tapi lebih moderat. Citi memperkirakan bunga FasBI akan naik 3x25 basis poin.

"Ini akan mengerek suku bunga jangka pendek dan biaya dana perbankan. Walau begitu, penyalurannya ke bunga pinjaman bank mungkin hanya sebagian dan tidak signifikan membalikkan lingkaran kredit. Secara umum, kami hanya memprediksi penurunan lunak pertumbuhan kredit ke bawah 20% di akhir 2013, dari 22% di Maret," tulis Citi.

Bunga Kredit Naik

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tony Tardjo, Head of Consumer Lending Bank CIMB Niaga, kepada KONTAN menjelaskan, pricing (suku bunga) merupakan salah satu faktor utama orang memilih kredit. Ambil contoh kredit kepemilikan rumah (KPR), semakin rendah bunganya, akan semakin menarik bagi nasabah.

"Namun, bank hanya bisa melempar kredit dengan bunga murah apabila mereka memiliki sumber dana murah," jelasnya. Artinya, jika bank tidak memiliki sumber dana murah, maka mereka tidak bisa memberikan kredit dengan suku bunga yang rendah juga. Biasanya, kenaikan inflasi akan mendorong nasabah meminta imbal hasil yang lebih tinggi.

Pengamat perbankan, Mohammad Doddy Arifianto, bilang, berdasarkan data historis, kenaikan BBM bersubsidi  10 persen akan menambah inflasi 0,8 basis poin (bps). Jika harga BBM naik jadi Rp 6.500 per liter atau  naik 44,44 persen, inflasi akan bertambah 3,2 bps. "Kenaikan biaya dana akan menaikkan bunga kredit," ujarnya.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.