Kompas.com - 03/06/2013, 07:05 WIB
EditorBenny N Joewono

SAMPIT, KOMPAS.com — Harga jual tandan buah segar kelapa sawit dalam setahun terakhir di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, dilaporkan anjlok sehingga petani terpaksa memilih menjual kebunnya. Demikian dikatakan Rahmad, salah seorang petani di daerah tersebut.

"Kalau harga TBS di tingkat pabrik normal berkisar Rp 1.300-Rp 1.800/kg dan kini turun di bawah Rp 1.000/kg, petani lebih memilih menjual kebunnya," kata Rahmad, petani sawit di Kecamatan Parenggean, Sampit, Minggu (2/6/2013).

"Harga kebun kelapa sawit yang sudah berbuah pasir di tempat kami rata-rata ditawarkan antara Rp 40 juta-Rp 45 juta/hektar. Kalau ada yang mau, banyak petani yang menjualnya," katanya.

Kebun kelapa sawit yang sudah berbuah pasir (permulaan), belum merata buahnya. Kebun seperti ini sudah bisa dipanen, tetapi hasilnya belum maksimal. Jika membeli kebun yang ditanam, ada risikonya karena belum diketahui apakah bibit sawit itu kualitas bagus atau tidak. Bahkan, menurut dia, jika salah bibit, sawitnya malah tidak berbuah.

"Kalau saya belum kepikiran menjual kebun karena kebetulan kebun saya belum berbuah. Jadi, saya menunggu saja dulu, siapa tahu saat musim panen harga kembali normal," kata Rahmad.

Wawan, salah seorang warga Sampit, mengaku prihatin karena masih lesunya harga jual TBS. Tidak hanya perusahaan besar, masyarakat yang mengandalkan penghasilan dari kelapa sawit juga merasa terpuruk dengan harga TBS yang berlaku sekarang.

"Ada beberapa rekan saya yang tadinya mau usaha sarang walet, namun karena harga sarang walet turun, dia mengalihkan modalnya ke kebun sawit. Ternyata saat ini harga sawit juga anjlok, makanya banyak yang pusing," katanya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Selain harganya anjlok, masyarakat Kotim yang punya kebun sawit juga waswas karena semua bergantung pada perusahaan. Mereka tidak ada pilihan lain, kecuali menjual hasil panen TBS kepada perusahaan yang memiliki pabrik yang harganya terkadang dimonopoli perusahaan.

"Kalau musim panen raya ke mana kita menjualnya. Akhirnya, kita terpaksa menjual ke perusahaan meski misalnya mereka menetapkan harga rendah. Mau disimpan mustahil karena masyarakat tidak punya pabrik kelapa sawit (PKS) seperti perusahaan," kata Rahmad.

Petani sawit di Kotim berharap pemerintah membangun PKS untuk menampung hasil panen sawit masyarakat. Solusi lain, pemerintah juga bisa merancang regulasi untuk mewajibkan perkebunan besar swasta menyerap sawit hasil panen kebun masyarakat.

 



25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X