Kompas.com - 06/06/2013, 10:31 WIB
EditorErlangga Djumena

KOMPAS.com — Sekalipun tak pernah kursus mengolah produk pangan, Henny Widjaja mampu memproduksi dan memasarkan abon cabai olahannya hingga menghasilkan omzet ratusan juta rupiah. Resepnya? Tekun belajar.

Abon cabai sudah tidak asing lagi di telinga para penggemar pedas di Tanah Air. Ya, makanan jenis ini sempat booming dua tahun silam. Salah satu produsen generasi awal yang hingga kini masih eksis memproduksi abon cabai adalah Henny Widjaja. Dengan mengusung merek Ninoy Abon Cabe, Henny sukses di bisnis makanan olahan.

Dalam sebulan, Henny mampu menjual 600 kilogram abon. Banderol harga yang ia pasang mulai dari Rp 35.000 untuk kemasan 100 gram (gr), Rp 80.000 untuk kemasan 250 gr, serta Rp 155.000 per 500 gr.

Abon buatan Henny yang memiliki tujuh varian rasa ini lebih banyak dijual melalui sistem keagenan. Saat ini Henny memiliki lebih dari 50 agen yang aktif. Agen-agen Ninoy itu tersebar di beberapa wilayah Indonesia, dengan Jakarta sebagai pasar terbesar.

Perempuan kelahiran Jakarta, 21 Juli 1974, ini menuturkan, melalui tangan para agen, Ninoy Abon Cabe bisa sampai ke negara-negara Eropa, Korea Selatan, dan Dubai. Tidak sedikit juga buyer besar yang datang langsung ke Henny. “Saya itu tidak pernah belajar mengolah pangan. Dari kecil justru belajar salon,” ujar ibu dari Josua ini.

Sejak umur 11 tahun, Henny sudah mahir memotong rambut. Maklum, sang ibu memang memiliki usaha salon.

Setelah lulus SMA, Henny kebagian sampur meneruskan usaha salon. Tak tanggung-tanggung, Henny belajar tata rambut hingga ke Inggris. Seusai sekolah, Henny pun berbisnis salon selama empat tahun. “Ternyata, mama pengin saya kuliah. Akhirnya tahun 1996, saya berangkat ke Australia,” kenangnya. Dia kuliah mengambil program diploma jurusan Manajemen Bisnis.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sebulan di Negeri Kanguru, Henny mencoba melamar menjadi penata rambut di sebuah salon. “Untung saya mengantongi sertifikat kursus rambut dari Inggris. Syarat menjadi hair stylist di Australia adalah memiliki sertifikat,” tutur dia.

Setelah lulus kuliah, tahun 2000 Henny pulang ke Indonesia. “Saya tidak bekerja berdasarkan ijazah kuliah. Pulang ke Indonesia, ya, kerja di salon lagi,” ujar Henny sambil tertawa.

Henny bekerja di Cay-cay Salon Jakarta. Di tempatnya bekerja, Henny mendapat tugas di luar. Antara lain ke stasiun televisi RCTI untuk merias para presenter. Oleh manajemen salon, Henny lebih sering tugas ke luar salon untuk make up para rekanan.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.