Kompas.com - 06/06/2013, 10:31 WIB
EditorErlangga Djumena

Akhirnya, Henny memilih mengundurkan diri dan bekerja sebagai freelancer di Cay-cay Salon. Sebagai freelance, tentu pendapatan Henny tidak tetap. Henny pun membuka warung makan sederhana di area rumahnya di Semanggi, Jakarta. Dia juga membuka warung rokok dan usaha laundry kiloan. “Karena saya cuma tinggal bersama anak, ya, beberapa ruangan rumah kami sulap menjadi enam kamar kos,” ujar dia.

Kehilangan pembeli

Henny menjalankan semua usaha itu sembari tetap menjadi penata rias. Bahkan, dia sempat dikirim ke Spanyol untuk belajar oleh sebuah perusahaan nail art. Henny terikat kontrak sebagai pengajar di perusahaan nail art tersebut selama setahun. Selepas dari situ, dia mendapat tawaran menjadi figuran film layar lebar berjudul Arisan. “Pokoknya menjadi jarang di rumah. Hingga akhir 2008, saya diberi sambal oleh teman dari Bandung,” kata dia.

Sebagai penggemar sambal kelas berat, Henny berusaha meniru sambal dari sang teman. Namun, karena basah, sambal itu benyek bila dibawa bepergian, Henny pun bereksperimen untuk mengeringkan cabai-cabai basah lantas membumbuinya hingga menjadi abon yang kering bila dibawa bepergian.

Awalnya, Henny hanya membuat 1 kg, yang dibagikan ke teman-temannya. Lantas, ia membuat lebih banyak lagi, 5 kg, dan dijual di warung makannya. “Anak-anak kos pada suka. Saya juga bawa makanan ini ke Bandung, teman saya pun bantu jual,” kenang dia.

Produksi pun meningkat menjadi 50 kg, dibantu anak kosnya, Henny menjual produk ini melalui Kaskus, dan berhasil. Produksi terus meningkat hingga berhasil menambah karyawan dan produksi. Henny pun menawarkan kerja sama keagenan untuk memperbesar penjualan. Nilai belanja awal tiap agen minimal 15 kg.  Abon Cabe Ninoy pun booming. Selama 2011, penjualan bisa mencapai 1.000 kg per bulan.

Namun, sukses berbuntut kehadiran pengekor. Henny harus menerima kenyataan usahanya ditiru orang. “Pebisnis rumahan bermunculan membuat abon cabai. Awal tahun lalu, bahkan ada pabrik yang membuat abon. Tak bisa dipungkiri omzet kami turun,” kata dia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pernah, penjualan hanya 60 kg sebulan. Selain pesaing yang bermunculan, banyak agen yang pindah ke lain merek. “Saya tidak bisa memaksa agen untuk terus bersama saya. Akhirnya kami bisa bangkit lagi, dan sudah bisa menjual 600 kg per bulan. Konsumen dan agen lama kembali lagi karena memang abon cabai kami punya kualitas,” terang dia.

Sejak tahun lalu, Henny menjual produknya di jaringan swalayan yang mengincar konsumen kelas menengah atas. (Fransiska Firlana)

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.